Ia mendatangiku ketika aku duduk termangu menunggu hujan di waktu yang lalu.
Kemudian ia menawariku hangatnya hidup pada musim hujan yang membekukan hatiku.
Ia membuka percakapan yang menyenangkan tentang hidup orang-orang yang tidak seberuntung aku.
Membuatku tersadar betapa aku bersyukur padanya yang tiba-tiba datang dan masuk kedalam hidupku.
"Sudah saatnya aku pergi", katanya. Aku terngungun manyun tak rela. Aku masih ingin ditemani dia.
"Kalau begitu ikutlah denganku", katanya.
Ia mengulurkan tangannya yang kokoh sekaligus hangat dan nyaman untuk ku genggam, dan kami berjalan beriringan. "Jangan mendahuluiku ataupun berjalan dibelakangku!", pesannya.
Sejenak aku terhenyak. "Hei!. Aku belum tahu namamu", ujarku. Ia tersenyum dan berkata:
AKU ADALAH HIDUP. TAKDIR TUHAN YANG TELAH DIGARISKAN UNTUKMU. Perjalanan kita masih sangat jauh. Jalanan yang akan kita lewati kadang-kadang akan sulit untuk kita hadapi. Jangan menyerah padaku karena Tuhan membenci makhluknya yang putus asa. Dan jangan lupa, kita ditunggu di langit atas sana oleh Nya.
Aku tersenyum. Tak ada lagi yang aku takutkan tentangnya kini. Aku lihat disekelilingku orang-orang yang aku sayangi mendampingiku berjalan dengan hidup mereka masing-masing.
Sejak saat itu aku dan hidup berteman. Akrab. Dan indah.