penulis
  Advanced Search
Home    Search    Chat     Events     Forum     Direktori     Invite    Help Signup    Login

Writers Comunity and Writing resources, news and discussion for authors / writers, editors, and publishers



Free Web Hosting with Website Builder

14:09 28/7/2008 - 9 comments - [ post comment ]

SKETSA

By Nino

Ini masa-masa kritis untukku, kritis dengan tapak-tapak yang telah terlewati, kadang gamang berbenturan dengan akal,kadang limbung condong pada keresahan yang senantiasa muncul begitu aku menikmati sajian kopimu dalam suasan malam tanpa bintang di pojok teras balkon rumah yang dingin.

( Lepaslah belenggu, sebenarnya itu yang aku mau, namun bekas jejak sepatumu selalu saja mengikutiku,memaksaku menoleh dan mencari bayangmu disela daun. Kadang aku tak percaya dengan diriku sendiri, begitu bodohnya aku yang tlah melemparkan kekagumanku pada wajah kosong yang tergantung di langit-langit cinta yang absurd tak berbentuk…)

Ini masa-masa kritis untukku dalam melupakan kejengahan yang menjemputku,untuk meninggalkanmu, aku tau tak kan ada tangis seperti dugaaanku, tak ada kata berpisah dari bibirmu..takkan pernah ada…

( sepertinya gumpalan awan makin menghitam ditenggara, gelap membiarkan butiran hujan luruh diatas bayangmu, namun belenggu itu tak jua terlepas,selalu mengikuti arah angin yang menuntun langkahku berlari didera hujan yang deras…)

hidup kadang tak sempurna…

sepi kadang mengalir sebagai teman sejalan..

sepi kadang membuang ranting yang tumbuh dalam jendela hati..

sepi seperti mawar yang diam sendiri…

lepaslah belenggu,sebenarnya itu yang ku mau…

belenggu bayangmu yang sangat mengganggu sepiku….

( ternyata bayangmu tlah menyatu dalam sukmaku…)

14:03 28/7/2008 - 8 comments - [ post comment ]

“ Kenapa kamu pandangi aku Seperti itu?”

By Nino

Berlarilah dia menembus ladang gandum bersama nyanyian siang ketika tatapan elang matanya menamcap di desir angin membelai helai demi helai rambutnya…

Seringainya masih sama, gapaian tanganyapun tidak berubah…dia tertawa bebas berlari merentangkan tangan seakan berusaha mendekap bahagia yang belum tiba dalam pelukan..

Seberapa jauh kakimu mampu berlari, seberapa lebar jejak yang akan engkau tinggalkan? Bila semua itu semakin mengikatmu untuk selalu kembali?

( Sepi diantara keramaian, mengutuk perjalanan panjang tak bersahabat menenggelamkannya tidur dalam keterasingan…tanpa dirimu yang tlah menghilang sejak dulu lagi…)

“ kenapa kamu pandangi aku seperti itu?” tanyanya pada laki-laki kecil sebaya dengannya,begitu dia meletakkan sepedanya dan berlari berhambur ke arah buih pantai selepas pulang sekolah..

“ karena aku suka aja!” jawab laki-laki belasan tahun itu kepadanya.

“ Suka apanya?”

“ Suka melihatmu”

“kenapa?”

“ ya suka aja!” jawaban berputar-putar mengurungkan niatnya untuk mencelupkan kakinya ke dalam riak ombak yang dingin. Menoleh, membiarkan laki-laki kecil yang akrab dengannya itu  diam terpekur.

“ kamu itu aneh yaaa…aku tanya kok jawabannya muter-muter gitu?” kata gadis belasan tahun itu lagi.

“ aneh ya…aku juga merasa aneh..kenapa aku suka melihatmu, setiap saat..”

“ idih…kok jadi genit gitu?”

“ Ups…aku genit ya?”

 “bodoh ah!!!...” lengos gadis belasan tahun tersebut,kemudian memainkan ujung jemarinya pada buih-buih ombak yang datang menghampirinya.

( Ada perasaan tersembunyi dalam kantung hati laki-laki belasan itu, yaa..dia merasakan itu,tapi dia tidak tau perasaan macam apa itu? Yang dia tau hari-harinya berubah menjadi ceria, setiap pagi buta dia mengayuh sepedanya agar bisa datang pertama di sekolah, dan menikmati wajah gadis belia yang akrab dengannya memarkir sepeda. )

Setelah sekian lama laki-laki belia tersebut merasakan desakan dalam dadanya,dan memenuhi ruang hatinya dengan gambar gadis belia yang akrab dengan itu. Puppy love kah ini?

Sementara itu gadis belia sangat suka dengan tatapan tajam laki-laki belia yang dekat denganya itu. Apalagi senyum kecilnya…duh…kenapa ya..

“ Chiko!! Kamu  suka ini?” tawarnya pada laki-laki belia yang bernama Chiko itu,kemudian menyorongkan buah apel merah.

“ suka…!”

“nih kamu  dapet satu!”

“ untuk Rasti mana?” tanya Chiko

“ aku bawa memang buat kamu kok!”

“gak Ah!”

“ayolah..!”

“ kita makan bersama yaah!” kata Chiko. Rasti sang gadis belia ternsenyum manis,dan mengangguk.

“ nih..sekarang giliranmu!” kata chiko setelah dia menggigit apel merah kemudian rastipun mengigit apel disebelah gigitan Chiko sambil tersenyum, mereka terlihat bahagia. Semenjak  itu Rasti selalu rajin membawa apel untuk dimakan bersama hal itu berlangsung hingga beberapa tahun.

Kebersamaan itu semakin berkembang menjadi rasa yang tak terungkap..dihati mereka telah tumbuh benih cinta yang tak terjamah..di sekolah, di pesisir, di jalan saat bersepeda bersama, diamana saja mereka ada cinta kian tumbuh dengan sempurna diantara mereka, namun tetap saja tidak terjamah. Hingga masa sekolah menengah pertama mereka tetap bersama…

“ kenapa kamu pandangi aku seperti itu terus?” tanya Rasti pada Chiko. Usia mereka kini menginjak remaja.

“karena aku suka aja!”

“suka apanya?”

“suka melihatmu seperti itu!”

“seperti apa?”

“ seperti apa adanya”

“ aneh ya? Kenapa aku suka memandangimu seperti itu” lanjut chiko

“ Yey…kok genitnya makin jadi?”

“ Ups aku Genit ya??” dan tertawalah mereka dengan bahagia…tidak ada yang mengalahkan rasa bahagia mereka saat itu, semuanya terasa indah, kedekatan mereka begitu erat, namun tetap saja rahasia hati mereka tidak terbuka. Cinta itu masih belum terjamah…

Sekali lagi…masa terlewati sebelum dia berbaring dalam peraduan, mereka tetap bergandengan tangan, membuka kebersamaaan, menempati ruang dengan keceriaan, namun ruang cinta itu tetap kosong tak terjamah…salahkah mereka? Sampai suatu ketika…

“ Chiko…aku jatuh cinta!” kata Rasti..

“Oya? Sama siapa?” Hati Chiko bergemuruh,seperti dihantam badai,sesak tak tertahan,dilanda cemburu.

“ Ricky!” jawab Rasti. Chiko diam, wajahnya memerah sesaat.

“ apa aku mengenalnya?” tanya Chiko akhirnya. Rasti menggeleng.

“dia sekolah di SMA 2 “ jawab Rasti, riang.

“ Oooo….!”

“ kok gitu aja?...kamu gak suka ya?”

“ ehh..hm aku harus gimana donk? Ya..ya…aku senang kamu suka dengan seseorang!”

“ yaaa…dia sudah mengatakan cintanya semalam!”  Chiko makin tak bisa berpikir mendengar ucapan Rasti yang tentu saja sudah menyayat ulu hatinya berdarah perih.

“ kok diam?” tanya Rasti begitu Chiko diam saja disebelahnya.

“ berarti kebersamaan kita akan berakhir dengan segera”

“maksudmu?”

“ kamu sudah punya pacar sekarang, gak mungkin kita selalu bersama..kan ada dia?” jawab Chiko datar. Membuang resah yang tertahan di tenggorokannya.

“ tapi aku mau tidak ada yang berubah diantara kita Chiko!”

“tidak bisa Rasti…lambat laun kamu pasti melupakan aku!’

Begitulah akhirnya kedekatan merekapun perlahan-lahan mulai renggang, Chiko tidak pernah lagi menjemput Rasti berangkat sekolah, atau makan apel bersama, atau mengayuh sepeda bersama, bermain di pantaipun telah mereka tinggalkan…Chiko bergelut dengan perasaanya, meratapi cinta yang tak terjamahnya. Chiko kian menghindar dari Rasti….

Sampai akhir masa SMA mereka berpisah tanpa kata, Cinta telah menyekat hati Chiko dan membunuh segala kenangan yang sudah terangkai sejak lama dulu. Haruskah begitu?

Chiko maupun Rasti masing-masing makin menutup diri. Jadilah mereka dua orang asing yang tidak saling menyapa. Kenapa harus seperti ini?

“ Hai….!” Sapa Rasti pada Chiko yang duduk termangu dibibir pantai  suatu ketika saat senja turun diatas laut yang berayun pelan.

“Hai..!” jawab Chiko tanpa ekspresi, menoleh sesaat kemudian melemparkan padangannya kembali kelaut.

“ Kenapa kita sperti ini ko?” tanya Rasti

“ kenapa kamu menjauh begitu saja?”

“ apa karena ada rasa cinta yang tumbuh hingga menyekat kedekatan kita?”. Chiko diam. Rasti duduk disebelahnya , melempar kulit kerang.

“ cepat atau lambat hal ini pasti akan terjadi Rasti, entahlah…aku juga bingung dengan perasaanku sendiri…”

“ aku harap semua ini,tidak menghalangi kita Chiko…aku mau kita terus menulis dan mengukir masa-masa kita bersama…aku dan kamu!”

“ Cinta yang tumbuh dalam hatiku takkan membunuh kebersamaan kita kan? Aku ingin selalu bisa dekat denganmu!” Chiko tersenyum Giris mendengar ucapan Rasti.

“ mana mungkin bisa Rasti!”

“bisa!! Kenapa enggak!” jawab Rasti tegas!.

“ caranya?”

“ Jujurlah pada dirimu chiko…jujurlah dengan perasaanmu padaku!” tatap Rasti Lekat.

“ sebenarnya aku tak mau melakukan kebohongan ini…”

“ kebohongan?”

“ yaaa..kebohonganku tentang Ricky!”

“maksudmu?”

“ Ricky itu sosok yang tidak pernah ada! Aku mengaranganya..karena aku benci kamu tidak jujur dengan perasaanmu terhadapku!”

“ jadi???”

“ kenapa ada kebohongan diantara kita ko?”

“ maafkan aku Rasti…!”

“ katakan….kalau kamu mencintaiku…!” kata Rasti tegas.

“ aaak…ku…!” gagap chiko menjawab.

“ Bodoh! Kenapa bilang Aku cinta padamu saja Sulit!” hardik Rasti kesal.

Chiko makin gugup, wajahnya kian memerah seolah dikuliti habis-habisan oleh gadis yang telah dikenalnya sekian tahun itu.

“ okey…tak mengapa…kamu lebih memilih jadi pengecut!” Rasti beranjak hendak pergi.namun tangannya segera di cekal Chiko.

“ Rasti…dengarkan…bila aku memang cinta sama kamu, aku kawatir kamu marah, dan belum tentu juga kamu cinta sama aku…!”

“ aku butuh pengakuanmu saja kok…katakan kamu cinta padaku…atau aku pergi nih?” ancam Rasti, meronta kecil melepaskan cekalan chiko.

“ iya…iya……aku memang cinta sama kamu!!”

“ nah Gitu Donk..gitu aja repot!!”. Rasti pura-pura beranjak pergi.

“ Cuma gitu?” tanya Chiko.

“ yaaa…”

“ kok kamu gak jawab?”

“ kenapa kamu pandangi aku seperti itu?” Rasti balik tanya.

“ karena aku suka aja!”

“Suka apanya?”

“suka melihatmu sperti ini..”

“seperti apa?”

“ seperti bidadari….” Jawab Chiko. Rasti tertawa lebar..merentangkan tangan dan memeluk tubuh chiko erat…

“ apa kamu mencintaiku juga?”

“ aku gak mau jawab!” kata Rasti bikin penasaran chiko.

( Chiko..Chiko…sejak kita masih SMP dulu aku memang sudah cinta sama kamu…Cuma gak berani aja bilang ke kamu…soalnya belum tentu kamu juga cinta sama aku..lagipula maluuu ahh..masa cewek bilang cinta duluan ke cowok )

pandaan 28 july 2008

08:57 22/7/2008 - 3 comments - [ post comment ]

IF YOU LEAVE ME NOW

( sambungan Hard To Say I’m Sorry )

By Nino

( bayangmu mencoba berlari keluar dari frame lamunan, melemparkan percik kerinduanku untuk yang terakhir kalinya, mencari tau keberadaanmu seperti meretas kembang yang tumbuh menjadi ribuan di padang sepi begitu pagi beranjak pergi, raut wajah yang tak pernah akan terlupa, wajahmu sang primadona )

Aku diam mematuk diri, merentang waktu yang kembali sepi di balkon hotel, mencoba menorehkan catatan tentang Tita, tentang saat yang menyenangkan bersamanya. Ada rasa tidak percaya saja saat tau bahwa dia telah menikah.

“ Dit! Thanks ya sudah mengajakku keliling seharian, unforgettable..! Sure! I like that moment!!” katanya begitu kami hendak berpisah di Lift, aku  tinggal 2 lantai diatas kamarnya.

“ sama-sama Tita, yah! So nice...” nafasku terasa berat mengucapkan kalimat itu, kupandangi sekali lagi Vira yang bergayut manja di sisi kirinya, mencoba tersenyum dan melambaikan tangan kearahnya.

“ aku ada dikamar 306 bila kamu mau datang..ya kita bisa ngobrol !” tawarnya lagi.

“ terima kasih...bila waktunya memungkinkan aku akan penuhi undanganmu..” kataku. Tita tersenyum setengah terpaksa, sekilas sorot matanya meredup, mungkin dia kecewa dengan jawabanku.

Ting! Suara Lift berhenti di lantai 3, tak lama pintu terbuka, Tita melangkah diikuti Vira dan mamanya.

“ Bye Adit!” lambainya kecil. Kubalas lambaiannya kemudian mencubit pipi Vira yang cempluk.

( kumbang jantan masih terbang mengitari kuncup bunga tanpa berani menyentuh kelopaknya yang mekar ditabuh pagi yang hangat, bias pelangi membias di sapu angin mengembang perlahan ke udara bersama tetesan embun yang menari dalam tamanmu yang indah, siapakah pemilik taman indahmu wahai jelita? )

tit...tit...tit...suara hpku terdengar, aku segera beranjak masuk ke dalam,dan menyambar hp yang tergeletak diatas tempat tidur. Hmm pak Edwin rupanya.

“ selamat malam pak Edwin...!” sapaku membuka percakapan.

“malam pak Adit, maaf  pak, besok diharapkan kehadirannya untuk meeting bersama Mr.chow untuk realisasi proyek kita..” jawab pak Edwin.

“ Okey...no problem pak Edwin,jam berapa pertemuannya?” tanyaku.

“ jam 9 pagi pak Adit!’

“baik pak, terima kasih”

“ sama-sama pak Adit, selamat malam!” klik..telpon ditutup, hm..nampaknya kesibukanku akan bertambah dan tentu saja aku harus tinggal beberapa hari lagi di jogja.ya semoga saja disela kesibukanku aku bisa menyisihkan waktu untuk bertemu dengan Tita. Kini sungguh terasa, ada yang tak mau pergi dalam benakku, wajah Tita begitu kuat bercengkrama dalam otakku. Tita sama menariknya dengan Sita, gadis yang aku cintai 20 tahun lalu.gelak tawa dan sunggingan senyum begitu mirip, apa mungkin Sita punya saudara kembar? Otakku mulai dipenuhi pikiran yang aneh-aneh mencari kebenaran tentang Tita. Rasanya enggak! Selama aku mengenalnya dulu Sita tidak pernah bilang punya saudara kembar? Kenapa aku jadi menebak nebak begini? Damn!! Ternyata aku telah jatuh cinta dengannya? Tidak! Ini tidak boleh terjadi, aku tidak ingin membelah kebahagiaan Tita dan keluarganya. Aku harus bisa menahan perasaanku ini sedangkal mungkin.

( sementara kehadiranmu begitu menyatu dalam nuansa bening senja ini, menyimpan rasa yang begitu dalam, menekuri jengah yang lewat tentangmu, menghabiskan energi otakku sungguh!! Begitu dalamnya pisau pesona engkau torehkan di dasar sukaku, menjadi sungai kerinduan yang menenggelamkan jiwa kosongku...)

“ bila waktu mengijinkan,aku ingin menikmati suasana ini lagi!” kucoba mengingat kata-katanya sewaktu kami melintasi sepanjang jalan wirobrajan. Aku tersenyum tanpa menoleh.

“ apa mungkin waktu akan kembali ya?” sambungnya lagi.

“ bisa saja, kenapa gak? Bila kita memintanya untuk kembali” jawabku mencoba menyakinkan diri, benarkah semuanya bisa kembali?

“ memangnya kita bisa bertemu lagi?”

“ kenapa enggak?” . keheningan menyeruak diantara kami, Tita diam,aku diam konsentrasi menyetir roda dua yang membawa kami seakan pulang dalam kubangan kenangan. Akankah kerinduanku padanya menjadi cinta yang terlarang? Entahlah...****

Kesibukanku benar-benar menguras pikiran dan tenagaku, jadwal yang padat telah melenakan dan melupakan Tita,wanita yang penuh pesona yang telah menguras perhatianku beberapa waktu ini. 2 hari  aku tenggelam dalam pekerjaaan. Dan alhamdulillah sekarang semuanya berjalan lancar dan proyek pengembangan apartemen pun telah di tanda tangani. Lega sekaligus lelah. Besok aku segera kembali kesurabaya. Sebelum pulang hari ini aku ingin bertemu dengan Tita dan menghabiskan waktu bersamanya lagi. Semoga saja dia masih disini ucap bathinku berharap.

Segera aku turun ke kamar tempatnya menginap, kuketuk pintu dengan hati-hati, diam. Kuketuk lagi...tidak ada jawaban, apa mungkin dia lagi keluar bersama anak dan mamanya ya? Aku mulai berpikir begitu. Setelah termangu sejenak, aku memutuskan untuk turun ke lobbi hotel.siapa tau receptionis tau kemana mereka.

” pagi mbak! Mo tanya penghuni kamar 306 lagi keluar ya?” tanyaku begitu tiba di lobbi. Receptionis cantik itu tersenyum ramah dan menjawab.
” kamar 306?” dia balik tanya?

“ya ..ibu Tita!” jawabku

“ hmmm....kamar 306 atas nama ibu Sita ya pak?”

“ Tita bukan Sita”kataku meralat ucapannya. Receptionis itu kembali tersenyum.

“ maaf  pak  Ibu Sita...Beliau sudah Chek Out kemarin pagi pak!”

“Chek Out?! Sebentar mbak, tadi bilang Ibu Sita? Bukan Tita?”

“ Iya...Ibu Tita itu Ibu Sita, Beliau member tetap hotel ini, Tita itu Nick namenya pak!”

Ya Tuhan! Benarkah itu Sita? Lemas sudah persendian ini, bodohnya aku, kenapa selama dia berada disini aku tidak pernah berani menanyakan latar belakangnya.  

“ Ibu Sita kemari dalam tahap pemulihan kesehatannya, terutama memori otaknya..” jelas Receptionis itu lagi.

“maksudnya?” tanyaku diantara ke gamangan dan penyesalan karena tidak bisa bertemu lagi dengannya.

“ menurut cerita Ibunya Ibu Sita, bu Sita mengalami amnesia setelah kecelakaan 4 tahun lalu, sayang suaminya meninggal dalam kejadian tersebut, Ibunya bu Sita berharap dengan seringnya mereka kemari bisa memulihkan ingatannya” jelas Receptionis.aku terdiam mendengar penuturannya. Aku jadi ingat kembali kecelakaan yang dialaminya 20 tahun lalu ketika ia mengejar Helmy dengan sepeda motornya,dan sekarang? Saat aku telah menemukannya dia mengalami Amnesia? Ya Tuhan..... jadi dia kehilangan separuh memori otaknya? Aku kian terpekur tak berdaya,antara percaya dan tidak dengan semua ini.

“ maaf...bapak, pak Adit?”

“ ya...” jawabku pendek. Sambil mengambil nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya sangat pelan.

“ Ibu Sita menitipkan ini untuk bapak!” Receptionis itu menyodorkan sebuah amplop. Segera aku terima dan menyobek sisinya, kubuka lembaran  kertas itu dengan sedikit gemetar. Kemudian kubaca surat itu kata demi kata agar tidak ada satupun yang terlewat...

Adit...

terima kasih, untuk waktu yang sangat menyenangkan ini, entah kenapa begitu aku mengenalmu aku merasa kamu bukan orang asing bagiku, seolah aku pernah mengenalmu sebelumnya namun entah dimana? Selama beberapa kali ke jogja baru kali ini aku merasakan sesuatu yang berbeda sejak aku mengenalmu....

O ya...perkebunan tebu itu sedikit mengembalikan ingatanku, apalagi sewaktu kamu bilang kalo kita melewati kebun itu kita akan menemukan SMA mu, entah kenapa begitu kita tiba di halaman sekolah itu aku merasa sepertinya aku jadi bagian dari sekolah tersebut. Seolah aku pernah sekolah disana, tapi entah kapan itu aku tidak tau persis...

Adit...

Terima kasih untuk segala kebaikanmu....maaf bila aku tidak pamit secara langsung padamu, karena aku tau kamu pasti sibuk ya kan?.....

Bulan depan....aku akan kembali lagi ke jogja, dan aku berharap bisa bertemu denganmu lagi..biar aku ada teman dalam mencari sesuatu yang aku sendiri tidak tau....

Salam manis

Tita

Bergemuruhlah jantungku, setelah membaca semuanya, Ah Sita....akhirnya aku menemukan dirimu sayang, Aku akan menunggu disini Sita...menunggumu dan menemanimu mencari kenanganmu yang hilang dulu. Pasti.....takkan kubiarkan  lagi dirimu mengembara sendiri. Aku tak ingin kehilanganmu lagi. Aku akan menunggumu mengais kenangan kita dulu....

                                                                                                                               Habis...

08:55 22/7/2008 - 2 comments - [ post comment ]

IF YOU LEAVE ME NOW

( lanjutan Hard To Say I’m Sorry )

By Nino

 ( larutlah seribu canda menyatu dalam gemulai tarian bayu bersorak derit sisi-sisi daun bambu menguning begitu yala matahari bersinar rendah di sore yang kian menuju senja, aku lebur dalam permainan rasa yang kian kuat menabuh genderang perasaan, ku ingin malam menjadi sandaranku memainkan ilusi dan gambar wajahmu yang membayang diantara sejuta bintang )

siang semakin beranjak naik, kami masih berlari diatas roda dua melintas ruang waktu demi waktu bercanda dan bercengkrama dengan panas, bernyanyi mengikuti irama lagu yang terdengar dari Ipod, sesekali tertawa bila diantara kami ada yang salah mengikuti lirik lagunya. aku dan Tita sepertinya menemukan kesenangan yang tersendiri.kamipun semakin larut dalam keakraban yang mendalam, bila tadi pagi Tita agak sedikit kikuk bila kugandeng tangannya, sekarang dia sudah berani bergayut manja begitu kami menapaki tangga candi prambanan. Tentu saja perasaanku jadi campur aduk, dengan detak jantung tak beraturan, aku rasa adrenalinku mulai naik.

“ aku heran..kenapa ya, aku begitu senang dan tenang bila berada didekatmu!” aku yang diam memperhatikan lalu lalang orang yang lewat segera menoleh kearahnya.
” kenapa memang?” tanyaku.begitu beraninya dia mengatakan itu secara langsung.

“ entahlah aku sendiri tidak tau, begitu pertama aku bertemu kamu, hatiku merasa tenang aja” katanya sambil memainkan kedua kakinya yang menjuntai.

“ mungkin aku menarik dimatamu!” aku tertawa mengatakan hal itu, demikian juga dia, Tita mengulurkan lidah dan membelalakan mata. Membuat kami kian larut dalam perasaan kami masing-masing.tertawalah kami.

“ boleh aku tanya sesuatu?” kataku mendekatinya.

“apa?”

“ apa kamu sudah punya pasangan?” kataku hati-hati. Tita diam sejenak, kemudian menatapku dalam.

“ mungkin ya mungkin juga tidak, aku tidak tau persis” jawabnya.

“ kenapa? Apa dia tidak pernah bilang kepadamu? Ya semacam perasaan cinta begitu?”aku mencoba menyelam kedalam dasar pikirannya.

“ gak tuh!” jawaban Tita terdengar polos sekali.

“ kenapa gak kamu tanyakan saja perasaannya terhadapmu? sehingga kamu tidak perlu menebak antara ya dan tidak?”

“ ya mungkin bisa begitu, suatu saat nanti aku akan tanyakan perasaannya padaku” kata Tita. Aku tersenyum, sedikit getir, ternyata Tita memang sudah punya kekasih. Ah kenapa hatiku tiba-tiba merasa cemburu dan tidak enak hati mendengar pengakuan Tita tentang pasangannya? Jangan-jangan aku sudah menyukainya? Semoga saja perasaan ini hanya sebuah perasaan yang terbawa suasana saja, lagian aku tidak ingin merengut kebahagiaan dia dengan Laki-laki yang menjadi dambaannya.

“ kalo kamu sendiri?” Tita balik bertanya.

“ aku?” jawabku pendek.Tita mengangguk.

“ mungkin kamu tidak akan percaya bila aku katakan saat ini aku belum punya pasangan!”

“kenapa?”

“ itulah masalahnya, aku pernah jatuh cinta pada seorang wanita,dia teman satu sekolah, sayangnya dia ternyata mencintai sahabatku. Aku tidak bisa membunuh perasaanku padanya sampai sekarang” kataku terus terang.

“ kamu masih mencintainya?”

“ masih...!”

“ dia tau?”

aku menggeleng.

“ dia tidak pernah tau tentang perasaanku padanya, dia hanya menganggap aku sebagai sahabatnya”. Tita manggut-manggut, beringsut dan mengubah cara duduknya.

“ sayang sekali, kenapa tidak kamu coba mencintai yang lain?”

“ andai aku bisa...”

“ kenapa tidak?” kata Tita lagi. Aku diam sesaat,menarik nafas panjang dan membuangnya seakan-akan melepaskan beban yang aku bawa. Aku memang orang yang tidak gampang untuk jatuh cinta,sekali aku sudah menentukan pilihan maka pilihan itu akan sulit aku ubah. Kulirik Tita lewat ekor mataku.Dia mendongakkan wajah, memejamkan mata dan mendesah pelan. Sungguh cantik wajahnya.

“ bila ada wanita yang hadir dalam kehidupanmu setelah orang yang kamu cintai dulu,apakah kamu mau?” Tanya Tita.

“ kenapa enggak? Walaupun pada awalnya sulit untuk melupakan cinta pertama”.diam-diam aku malah berharap bila itu memang ada aku ingin dirimu Tita. Aku ingin engkau yang mengisi kehidupanku. Tita kembali mengembangkan senyum kecilnya, pupil matanya menhujam mataku lumat, seakan menyirat sesuatu yang tersembunyi, tapi apa? Aku sendiri tidak tau.

( kenapa kamu ternyata lebih menarik perhatianku ketimbang masa laluku Tita? Aura wajahmu telah menggoda dan mengguncang bathinku, sungguh kali ini aku benar-benar jatuh cinta padamu. Tidak perduli siapa dan bagaimana keadaanmu, ini bukan logika tapi ini rasa. Bisakah aku memilikimu Tita? Aku tau itu takkan mungkin, dan aku merasa jatuh di tempat yang sama. Aku tidak perduli, sungguh kehadiranmu sangat berarti bagiku )

Setelah beberapa jam di Prambanan, kami memutuskan untuk pulang, sepanjang jalan menuju parkiran kami berjalan bersisian, tanpa ragu kupegang jemarinya, Tita menoleh kemudian memandangi tanganku yang masih memegang jemarinya. Dia diam, tidak berusaha menarik tangannya, dia biarkan aku menggandeng tangannya. Aku rasa hati kami telah sama-sama bicara.

                                                                                                                              ***** 

Begitu sampai di Hotel sudah jam 5.30, setelah memarkir motor Hotel, kami kemudian masuk melalui lobbi, Tita sesekali tersenyum kearahku, akupun membalas senyumanya. Tidak ada yang lebih indah dari peristiwa ini. Sungguh luar biasa. Aku berharap kejadian ini akan terulang. Semoga saja.

“ Mamaaaaa...!!!” teriak seorang perempuan berhambur kearah kami. Tadinya aku pikir dia ingin memeluk seseorang dibelakang kami ternyata tidak, gadis kecil itu berhamburan kedalam pelukan Tita dan memanggilnya mama. Aku tertegun menyaksikan itu semua. Dengan penuh kasih sayang Tita mengangkatnya kemudian menciumi.

“ jam berapa kalian datang sayang?” tanya Tita pada gadis kecil tersebut.

“ tadi siang.. mama kemana aja? Dari tadi ditunggu ma Omah tuh!” gayutnya manja.Tita lalu menurunkan gadis kecil itu.

“ baru saja mama habis jalan-jalan sama Om Adit, ayo kenalin ini Om adit” kata Tita sambil menunjukku. Aku yang masih tidak menyangka hal ini sedikit gugup. Dan berjongkok tepat didepan gadis kecil yang cantik itu.

“ Halo...namanya siapa? “ kataku sambil menjentik pipinya.

“ Vira Om...” jawabnya lucu. Aku tersenyum.

“ Om pacarnya mamah? “ Deg! Duh nih anak kok ceplas ceplos banget? Aku tersipu tidak segera menjawab. Tita tertawa melihat tingkah Vira.

“ kok tanya nya aneh gitu sayang?” kata Tita.
” mang gak boleh ya mah?”

“ Om Aditnya jawab apa?” tanya Tita sambil melirik kearahku. Sungguh aku kian tidak bisa berkutik.

“ eh...Oma mana?” akhirnya Tita mengalihkan pembicaraan. Kemudian menggandeng Vira.

“ ada tuh di sana” tunjuk Vira kearah seorang wanita paruh baya yang sedang duduk sambil membaca majalah.

“Adit...ayo aku kenalkan kamu dengan mamaku ya” kata Tita yang melihat aku masih berdiri mematung. Dia segera menarik lenganku menuju mamanya. Oh my God, sungguh ini peristiwa yang tidak terduga, tidak aku sangka bila Tita telah menikah dan punya seorang anak perempuan yang cantik dan sangat mirip dengannya. Bathinku kian tak menentu. Ah..kenapa dia tidak mengatakan terus terang kalau dia telah menikah?

Tunggu sambungannya

08:53 22/7/2008 - 1 comments - [ post comment ]

YOU COME TO MY SENSES

(lanjutan Hard To Say I’m Sorry )

By Nino

Hampir 1 jam aku berendam di jacuzzi, tenggelam dalam hangatnya air yang membenamkan seluruh tubuhku hingga sebatas kepala, bersandar sambil menikmati lagu yang mengalun menghiasi isi kamar hotel. Ketika aku bangun tadi jam sudah menunjukkan waktu 7.30. pancaran sinar matahari menerobos disela tirai, memberikan sedikit kehangatan sebelum semuanya ku buka. Setelah mencukur kumis dan jambang yang sudah mulai tumbuh aku segera menikmati air hangat jacuzzi, secangkir kopi hangat dan koran yang kupesan tadi jadi bagian aktifitasku pagi ini. Walau perasaanku sudah tidak sabar ingin bertemu Tita. Hm...apakah dia juga tidak sabar ingin bertemu denganku juga? Mungkinkah perkenalan ini menjadi sebuah catatan tersendiri bagiku dan dirinya? Aku gak mau menduga-duga, biar saja semua berjalan tanpa rencana, mengharapkan sesuatu yang tak pasti sama saja melemparkan koin ke dalam dasar sungai. Lagipula aku belum tau betul kehidupannya.

( dia berikan senyumnya, merekahkan benih-benih hasrat tuk menggapai, meleburkannya dalam setiap aliran darah, mengumpulkannya dalam setiap kantung harapan, dengan genggaman damainya kutaruh kidung rinduku pada siluet wajahnya yang hadir setiap saat, setiap waktu, berbungkus rasa yang mulai berwarna merah, semerah mawar dalam impian kenangan dan masa depan )

jika nanti aku tidak menemukan lembaran kisah lama itu, aku akan tutup pintunya  dan membuang kuncinya seumur hidupku. Aku sadar bila ini hanyalah sebuah kerinduan sesaat,sebelum aku memastikan semuanya sudah berakhir. Meskipun aku sendiri menganggap ini hanyalah  sebuah kebodohan karena masih terus dibayangi kenangan tak terlupakan itu, membuat kakiku selalu terseret mundur secara perlahan.aku merasa seperti berjalan di dua sisi yang bertolak belakang, antara kenangan dan masa depan. Haruskah seperti ini terus? Aku tau waktu takkan bisa mengubah semua yang sudah ada dan tersimpan. Bodohkah aku? Entahlah.

( sebagian puisi-puisi masa lalu itu tlah terbakar, menyisakan abu kenangan yang semakin hilang terbawa waktu dan sang bayu, aku masih punya sedikit harapan,kelak bila kita bertemu akan aku katakan sesuatu yang tidak sempat aku ucapkan padamu dulu, berikan aku ruang untuk membuktikan rasa ini, bawasanya aku masih menjadi pemuja rahasiamu, dan itu akan aku ungkapkan apapun keadaan hidupmu sekarang, agar terpuaskan hasrat yang telah aku bawa sekian tahun tanpa arti )

Jam 9.45 menit, aku segera bergegas keluar kamar dan menuju ke lobbi Hotel, jangan sampai Tita menunggu pikirku. Hari ini akan aku ajak dia keliling jogja, atau kemana saja dia suka. Bila perlu ku ajak dia menelusuri tempat-tempat kenanganku dulu semasa SMA. Toh dia juga tidak akan tau kalau dia kulibatkan dalam pencarianku ini? Setelah tiba di Lobbi dan menunggu beberapa saat akhirnya Tita muncul dengan penampilan yang sungguh berbeda, Gaun panjang berenda berwarna putih dipadu dengan topi lebar sungguh membuat penampilannya kian sempurna.

“ Hi...” aku melambaikan tangan kearahnya.
” Hi...sudah lama?” katanya begitu dekat.

“ aku baru saja sampai, aku gak ingin kamu menunggu, jadi aku datang lebih dulu” kataku memandangnya penuh kekaguman. Dia tersenyum.

Setelah ngobrol beberapa saat, kami segera beranjak pergi, dengan menyewa sepeda motor yang disediakan Hotel kamipun menelusuri jalan-jalan di kota jogja. Aku mulai kikuk begitu Tita duduk dibelakangku, apalagi tangannya tanpa ragu sedikitpun melingkar dipinggangku, membuat desir jantungku berdegup hebat. Betapa menyenangkan berkendara dengan seorang wanita cantik berkeliling kota.

“ Pernah keliling seperti ini?” kataku setengah berteriak,sambil tetap memandang ke depan.

“ Gak! Rasanya gak pernah..baru kali ini” Tita menjawab pertanyaanku juga dengan sedikit berteriak, beriring angin terbelah oleh tubuhku.

“ Kok Rasanya? “

“ aku lupa!”

Aku sengaja mengambil jalan memutar, masuk ke arah Stadiun Kridosono, berputar kemudian lurus menuju Malioboro. Jalan ini adalah jalan yang biasa dilewati Sita dulu. Gila bener! Kenapa sampai segitunya aku mengingatnya.sampai jalan yang biasa dilewati Sita aku paham.

Sementara Tita menikmati perjalanan ini dengan bersenandung lirih. Aku tau gaun putihnya melambai-lambai berdansa dengan angin, sementara tangan kanannya memegangi topi lebarnya.

( kecipak air mengalir dibelantara kesepian,memudarkan dahaga yang datang sejak lama, masihkah waku yang menuntunmu tuk kembali, bersemi putih dan mewangi, sadarku akanmu tak pernah mematikan emosiku untuk membelai dan mencumbu bayangmu, berkelap dimalam berpeluk sendiri, aku mulai merasakan kehadiranmu ada dalam Dirinya Sita...dalam Diri Tita )

 Kubawa Tita berkelana sehari penuh, berpayung mentari, roda dua semakin jauh membawaku masuk ke dalam tempurung tempo dulu, perjalanan ini bukan menggoreskan cerita baru, aku baru saja memberi warna kembali pada perjalananku dulu, aku tau aku Ego, mengajak Tita mengikuti arah kenanganku, semoga saja dia tak mengerti maksudku. Maafkan aku Tita. Semoga kamu juga menikmati pengembaran ini aku mulai membathin dengan sedikit perasaan bersalah.

“ Eh...kita berhenti sebentar disini ya!” pintanya tiba-tiba begitu kami tiba di perkebunan tebu. Dekat pabrik Gula madukismo Aku segera menepikan sepeda motor.

“ hmmm...sepertinya aku tau perkebunan ini..” katanya begitu turun,matanya menebar kesemua arah.

“Oya?...perkebunan tebu ini? Kamu pernah kesini?”

“ entahlah..tapi aku merasa sepertinya ini tidak asing bagiku” jawabnya.

Hm...syukurlah kalo tempat ini juga menjadi tempat yang pernah dia kenal, setidaknya aku sedikit bisa membayar rasa bersalahku padanya.

“ kamu pernah kemari?” tanya Tita lagi,menoleh ke arahku.

“ ya..ini tempat aku bermain bersama sahabat-sahabatku saat pulang sekolah dulu, kami melewati ruasnya, kadang mengambil batangnya diam-diam dan menikmatinya bertiga” kataku mulai menguak dan membuka kenanganku bersama Sita dan Helmy dulu.

Tita diam, termangu sesaat, kemudian melangkah lebih kedalam,masuk disela ruas batang tebu yang berdiri bejejer rapi. Aku diam di jok sepeda motor sambil terus memandanginya.

( entah apa yang engkau cari, namun sungguh kehadiranmu membuat hariku kembali bergairah Tita, Andai waktu mengijinkan aku untuk menyelami hati dan dirimu,aku akan sangat tersanjung, adakah masa itu? Sungguh aku tak berani menebak! Siapa dirimu,atau pria mana yang beruntung mendapatkan simpatimu, apakah engkau sudah punya kekasih? )
 
Tita semakin dalam masuk ke kebun tebu, aku segera menyusulnya.berjalan sejajar,seiringan.

“ kalau kita terus berjalan sampai ujung sana kita akan menemukan SMA 1, tempat sekolahku dulu” kataku menunjuk lurus kedepan.

“ Oya?...” katanya sedikit terperangah, entah perasaan gembira atau heran aku sendiri tidak tau.

“ ya....”kataku lagi.

Tanpa bicara Tita mempercepat langkahnya menuju ujung perkebunan. Akupun mengikuti tanpa banyak bertanya.

Kontiyut

08:52 22/7/2008 - 2 comments - [ post comment ]

YOU COME TO MY SENSES

( lanjutan Hard To Say I’m Sorry )

By Nino

Malam ini aku tidak dapat tidur, bukan karena konsentrasi dengan pekerjaanku atau  oleh jadwal yang padat hari ini, tapi karena benakku mulai dipenuhi dengan rencana akan kemana saja aku danTita menghabiskan waktu besok. Ini akan menjadi pengalaman yang tidak pernah akan terlupakan, apalagi Tita wanita yang sangat menyenangkan, ngobrol dengannya seakan tak pernah kehabisan waktu. Namun bagaimanapun  itu, tujuanku tetap sama, mencari lembaran-lembaran kisah lama yang telah berserakan di jalan waktu, aku kemari  kan memang untuk mengenang kembali penggalan kisahku dulu, kehadiran Tita hanyalah sebuah kebetulan saja, diapun punya tujuan yang aku sendiri tidak tau persis, mencari sesuatu yang dia sendiri tidak tau? Sungguh aneh kedengarannya. Memang sih tidak aku pungkiri hasrat kelaki-lakianku tertarik dengan penampilan dan juga gayanya yang mempesona, namun tidak adil rasanya bila aku membandingkannya dengan Sita, jelas mereka tidak sama, setidaknya Tita memakai kaca mata,berambut sedikit berombak walau postur tubuhnya nyaris sama dengan Sita.

Malam kian manja merangkul bulan yang diam sendiri, aku berdiri di sisi jendela kaca, membuka tirai dan memandang keluar, terpaku dalam keheningan dan khayalan tentang Sita.

( aku masih ingat ketika itu, disuatu sore sehabis hujan, kamu dan Helmy memintaku untuk datang ke rumahmu, dan memintaku untuk memberikan pendapat tentang perbedaan yang menyebabkan kalian selalu bertengkar, Sungguh aneh, bukankah kalian saling menyayangi? Tapi kenapa pertengkaran itu selalu ada setiap harinya? Sebagai sahabat, ya ..aku selalu memposisikan aku ada diantara kalian, lucu juga bila mengingatnya, kalian saling membutuhkan tapi kok selalu bertikai? Dasar kalian memang sama-sama keras kepala, begitu aku datang kalian langsung minta dukunganku hehehehe...manalah aku bisa? Aku harus berpihak kesiapa? Setelah mendengarkan hal yang menjadi perdebatan,, aku segera merangkul mereka berdua, masa karena beda pendapat saja jadi perang Ego? Itulah kalian dulu, walau aku masih saja menyimpan perasaanku padamu Sita, aku merasa senang dan nyaman berada ditengah kalian..setidaknya kamu masih membutuhkan aku )

Dengan malas aku segera beranjak dari sisi jendela, menuju TV, mengambil remote dan menekan tombol on kemudian bersandar di tempat tidur, lalu mengambil sebatang rokok dan menyulutnya. Mataku segera bersatu dengan layar TV. Setelah beberapa kali pindah channel akhirnya pilihanku ke konser musik klasik pimpinan Adie MS, Twilight Orchestra. Menikmati malam dengan jamahan komposisi klasik karya komposer dunia terasa berada di masanya. Musik klasik ternyata musik yang komplek, kadang mengalun sangat lembut,membuai,melenakan perasaan, kadang berubah menghentak dengan tiba-tiba. Itulah yang aku suka dari musik jenis ini,sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di jogja .

Sebelum persembahan terakhir kamera menyorot lebih dekat sosok pria yang memainkan biola, dan itu membuatku terperangah? Setengah tidak percaya. Itu kan Helmy? Aku mengangkat separuh badanku mengamati lumat, apa benar dia itu Helmy? Rasanya aku tidak salah, dia memang Helmy yang memang jago main biola...wow, setelah sekian lama tidak tau keberadaannya kini aku melihatnya bermain di Twilight Orchestranya Adie MS? Bukan main, ada perasaan bangga yang datang menusuk tiba-tiba. Pastilah disana ada Sita yang setia menemani? Aku segera bangkit kemudian menyalakan HP langsung berselancar di internet  mencari tau tentang Twilight orchestra siapa tau aku bisa mendapatkan alamat Helmy.  Dan syukurlah akhirnya aku dapat alamatnya juga nomor Hpnya. Dia tinggal di jakarta sekarang, pastilah dengan Sita,  dengan tidak sabar aku menekan nomor sesuai coretanku dikertas, diam mendengarkan nada panggil,termangu tak sabar mendengar jawaban.

“ Halo !!” sebuah suara akhirnya terdengar.

“ Hallo, selamat malam.. maaf anda Helmy bukan?” tanyaku gembira.

“ Iya betul, maaf anda siapa? “ tanya Helmy lagi.

“ ya Ampun Hel...berpuluh-puluh tahun akhirnya sekarang aku bisa menghubungimu, aku Adit!” kataku tidak sabaran.

“ Adit??”

“ Iya teman sekolah di SMA di jogja dulu, masih ingat gak? “ terangku sambil mematikan rokok di asbak.

“ Adit!..Aditya Pratama?”

“ Yes!!! It’s me Guy!!”

“ Gila Lu! Masih hidup ? Hehehehe...Sumpah aku dah Lupa!” jawabnya terbahak.

“ Gundulmu...yo terang aja aku masih inget! Manalah awak bisa lupa sama cecunguk macam kau tuh!” kataku juga terbahak.

“ Lu dapet nomorku dari mana?”

“ management Twilight Orchestra! Hebat kamu sekarang, bisa main bareng Adie MS, baru saja aku melihatmu di TV”

“ Oh gitu?? Lu dimana sekarang?”

“ Jogja!”

“ Jogja? Balik lagi?”

“ tidak, ada tugas kantor, sekarang aku tinggal disurabaya!”

“ Busyet jauh amat, dari Bangka ke surabaya?”

“ yah..namanya juga cari makan Cuk! Hehehehehe”

Keakraban yang sudah hilang puluhan tahun itu kini muncul kembali. Aku telah menemukan satu sahabatku lagi.

“ kalian pasti sudah menikah!” kataku.

“ siapa? Kalian??”

“ ya..kalian? kamu dan Sita??”

“ aku memang benar sudah menikah Dit! Tapi tidak dengan Sita!” jreeeng!!! Aku setengah kaget.

“ kalian putus?”

“ Yup!! Sejak kita bubar sekolah dulu, kami makin sering bertengkar, apalagi kamu sudah tidak ada diantara kami, akhirnya kami sepakat berpisah!” aku tertegun sejenak, perasaan sedikit kecewa membenam di ulu hati.

“ sayang sekali!” kataku datar.

“ Yah mau diapain lagi? Dasarnya kami emang gak cocok kali Dit!! Lagian Bosen tengkar melulu!”

“Trus Sita sekarang ada dimana?”

“ kabar terakhir dia kembali ke jakarta!”

“ Oke deh,kalo gitu simpan nomorku ini ya, kalo kamu dah gak sibuk konser dan aku punya waktu kita bisa bertemu oke?”

“ Yoi!...eh Lu dah nikah belum?”

“ hehehehehe.... tuh dia, susah banget dapet pendamping hidup!” kataku menggaruk kepala yang tak gatal.

“ wah jangan jadi lapuk coi! Hehehehe...”

“ yo ndak lah...kayaknya yang satu ini aku cocok” jawabku, bayangan wajah Tita segera muncul dipelupuk mataku.

“ Lu maen ke jakarta ya!!!”

“okey...Coi!!!”

Klik! Begitu sambungan telpon terputus,aku langsung tertegun dengan mata mengambang, sungguh sayang ternyata Helmy dan Sita berpisah sudah lama. Meskipun aku masih menyimpan rasa kepada Sita tak urung juga aku menyayangkan hubungan mereka berakhir.. ah siapa yang bisa mencari tau kelanjutan hari esok? Walau waktu sudah tidak lagi sama,namun pagar kenangan tetap berdiri menghadapi musim demi musim, menembus ruang detik dan hitungan hari yang meninggalkannya jauh semakin tertinggal dibelakang.

( Ya begitulah hidup, kadang berakhir sempurna kadang berakhir tanpa diduga, kurebahkan tubuhku di tempat tidur, menyangga kepala dengan kedua lengan dan menatap langit-langit kamar hotel. Pikiranku kembali ke wajah Tita, bathinku mulai bertanya, haruskah aku tetap mencari lembaran kisah lama yang sudah pasti tak akan  aku temukan, atau berjalan beiringan dengan Tita? Melangakah menelusuri koridor masa depan,bila kesempatan itu ada? Haruskah? Aku merasa Tita datang dalam hasratku...)

Bersambung maneh...

08:49 22/7/2008 - 2 comments - [ post comment ]

SONG FOR YOU

( lajutan Hard tosay I’m Sorry )

By Nino

 Aku berdiri dengan cepat kemudian menarik kursi lalu mempersilhkan dirinya duduk, senyum kecil Tita segera mengembang dengan ekor mata senang.

“ tidak aku sangka, perkenalan yang tidak disengaja ini,ternyata malah membuat kita bertemu kembali” kataku sambil duduk dikursiku.
” sebetulnya aku tidak begitu yakin tadi, apakah itu kamu atau bukan, saat aku masuk ke coffee shop ini” kata Tita lagi masih dengan senyum mengembang. Aku sambut senyumnya dengan hati senang, sungguh pertemuan yang luar biasa, terus terang aku sampai tidak habis pikir, kok bisa bertemu secara kebetulan begini?. Setelah memesan makan dan minuman ke pada waitress Tita mengeluarkan Ipod dari dalam tasnya dan meletakan diatas meja, lalu kedua tangannya menyapu rambut yang terurai indah.

“ tidak keberatan kan aku mainkan lagu sambil menikmati breakfast?” lanjutnya.

“ oh..tidak! tidak sama sekali, silahkan!” kataku dengan nada sedikit ditekan, sedikit heran saja dengan sikapnya yang menurutku tidak biasa itu.

( Ya tuhan, tatapan matanya seperti mata Sita tajam dan teduh, garis wajah yang sama nyaris menyempurnakan dia mirip dengan Sita, tiba-tiba saja kerinduanku makin memuncak saat kutatap lekat wajah cantik wanita dihadapanku itu, bentuk bibir dan garis tipis di kedua pipinya semakin menenggelamkan aku dalam bayang kerinduan sungguh aku terpesona dengannya )

“ Adit! Kamu tidak apa-apa?” tegurnya. Aku terkesiap dan membuang lamunanku tentangnya cepat.

“ ah tidak apa-apa, hanya saja mengingatkan aku pada seseorang!” jawabku terbata. Sungguh kikuk aku berhadapan dengannya.

“ Oya? Siapa?”

“ hm… bukan siapa-siapa, hanya seseorang yang sudah lama tidak bertemu”

“ Ooo..” bibir Tita membulat. Lalu telunjuknya menekan tanda play di Ipod, dan terdengarlah lagu yang sangat akrab ditelinga,bahkan sudah bersemayam dalam hatiku..

Wanted to show Im a man;
Say the word and
Ill tell you again;
Wanted to show Im a man you can rely upon,
Thats all I am.

I am a man that you can count on;
Call out my name and Ill be there.
Im a man you can be sure of, baby,
Its your love that takes me there, takes me there.

I am a man that you can lean on;
Call out my name and Ill be there.
Im a man you can be sure of, baby,
Its your love that takes me there, takes me there.

Wanted to show Im a man;
Say the words to me, say it again;
Want you to know Im a man you can depend upon,
Thats all I am.

Im a man that you can count on;
Call out my name, and Ill be there.
Im a man you can be sure of, baby,
Its your love that takes me there, takes me there.

Gila! Aku tersenyum sendiri, mematuk diri dalam ketidak percayaan. Kemudian memandang lurus ke arah Tita..

“ ternyata kamu sungguh-sungguh penggemar chicago sejati” kataku tidak percaya, bayangkan saja semalam dia bernyanyi begitu mendengar lagu you’re the inspiration,dan sekarang tidak aku duga dia juga memainkan lagu yang lain dari grup yang sama.

“ aku suka banget dengan lagu ini..makanya selalu aku bawa kemana aku pergi, buat teman kalau aku lagi menikmati kesendirian, maaf kalo kelihatan aneh?” katanya. Aku segera menepis ucapannya dengan tatapan lekat dan senyum kecil sambil melambaikan tangan.

“ hahahaha....tidak ada yang aneh kok! Hanya saja aku tidak menyangka ?” kataku masih dengan nada tertawa.

( berhembuslah angin membawa gumpalan awan cinta, mengembang terbang menuju padang sabana penuh bunga warna merah muda, melayang sudah lembaran hati mengikuti irama angin tersangkut di ujung duri bunga cinta dan akhirnya bersemayam tenang disana )

“ ada urusan apa di jogja?” suara Tita membelah kesunyian yang sempat hadir diantara kami.

“ biasalah hanya sebuah pekerjaan” kataku sambil menghirup kopi dihadapanku.

“ kamu sendiri sudah lama disini?”

“ baru 2 hari yang lalu” jawabnya.

“ rencananya berapa lama?”

“ terngantung!!”

“ Kok tergantung?”

“ ya tergantung suasana hati”. Aku kemudian diam, ekor mataku meliriknya melahap makanan pesanannya. Entah kenapa tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang melihat caranya menikmati hidangan dihadapannya.

( jangan katakan aku jatuh cinta padanya, karena aku tidak begitu yakin dengan perasaanku sendiri, mungkin perasaan ini hanya terbawa suasana yang tercipta, mungkin saja begitu. Meskipun aku sangat menikmati indahnya wajah Tita, wanita yang sangat mempesonaku ini. Tidak seharusnya aku memutuskan bahwa aku telah  jatuh cinta padanya, anggap saja ini sebuah ketertarikan akan keindahan yang ada dalam dirinya. )

setengah jam berlalu begitu cepat, aku segera bergegas begitu melirik jam tangan sudah jam 8.00

sebuah pertemuan dan breakfast yang tak terduga dan sangat menyenangkan. Setelah membayar semuanya akupun pamit kepada Tita, dan berharap ada pertemuan berikutnya.

“ Thanks Tita, ini sungguh pertemuan yang luar biasa!” kataku. Tita tersenyum dan menaikan kedua bahunya.

“ Bila ada waktu, kita mungkin bisa pergi kesuatu tempat bersama-sama” tawarnya.

“really? That’s good idea?” aku menyambut gembira ajakannya.

“yup!”

“ gimana kalau besok kita ktemu di lobbi setelah itu baru kita rencanakan kemana kita akan pergi?” usulku.

“Boleh juga!”

“ okey jam 10 pagi aku tunggu kamu disana!” aku segera berlalu, dengan melambaikan tangan, Titapun membalas lambaian tanganku sebelum aku beranjak dari hadapannya.

( kehadirannya mulai melupakan pikiranku terhadap Sita, yang terbayang sekarang adalah wajah Tita sang wanita mempesona, kehadiranmu telah melenakan aku Tita, siapakah Pria yang beruntung memiliki dirimu saat ini? )
 

tobe kontiyut

08:48 22/7/2008 - 5 comments - [ post comment ]

SONG FOR YOU

( lanjutan Hard to say I’m sorry )

By Nino

malam semakin dingin, bara dari arang penjual jagung bakar tidak mampu mencairkan udara malam yang mulai menusuk, kunikmati dua jagung bakar dan semangkuk wedang ronde yang aku pesan tadi, sudah lama sekali aku tidak menikmati suasana seperti ini, suasana alun-alun jogja diwaktu malam dengan segala aktifitasnya.

“ kamu juga bukan orang jogja ya?” tanya Tita begitu aku menghabiskan tegukan wedang ronde terakhirku.

“ menurutmu?” aku balik tanya.

Dia menggeleng pasti. Aku tertawa lepas, dan mengangguk perlahan.

“ dari mana kamu tau kalau aku bukan orang sini?”

“ karakter wajahmu,sepertinya bukan tipikal wajah orang jawa!”

“O ya?” mataku terbelalak dengan tebakan jitunya.

“ sudah berapa kali kemari?”

“ aku? Dulu aku sekolah disini, tapi sudah lama sekali, 20 tahun yang lalu, dan baru sekarang ini kembali lagi, semua ternyata berubah begitu cepat!” kataku,lalu mengambil bungkus rokok dalam jaket,mengeluarkan satu batang kemudian menyulut dan menghisapnya dalam-dalam.

( kilas waktu berjalan mundur,membuka pintu kisah lama itu tergambar jelas di malam berjuta bintang, merepih kesunyian yang setiap saat menyergap kosongnya pelataran hati, begitu bulan menyentuh ujung malam sempurnalah kesendirian dalam pencarian yang belum selesai ini )

Setelah beberapa saat ngobrol santai, Tita akhirnya pamit pulang ke hotelnya, akupun mengangguk dan menyudahi obrolan ringan yang meyenangkan itu , tidak terasa jam sudah menunjukkan 23.30. Tita segera mencegat taksi dan berlalu, aku berdiri dan melambaikan tangan sekedar menunjukkan rasa persahabatan. Begitu taksi yang ditumpanginya hilang di tikungan, aku berbalik ke arah penjual jagung dan wedang ronde,setelah membayar semuanya, ku stop taksi yang melintas untuk kembali ke hotel. Meski melelahkan aku tetap senang sudah menghabiskan malam ini, dan besok merencanakan kembali jadwal kegiatanku. Pokoknya aku ingin menghabiskan waktu di jogja sebisa mungkin. wajah Tita sekelebat mengusik pikiranku saat taksi melaju ke hotel Ambarukmo dimana aku menginap, wanita tersebut menyenangkan juga, begitu kenal kami langsung akrab seperti orang yang telah kenal lama.Ah Jogja,  begitu mengesankah dirimu sehingga banyak membuat orang-orang untuk kembali ke dalam pelukan kenangan yang telah engkau torehkan? Aku, dan juga Tita. Ternyata dia juga sama sepertiku, mencari penggalan kisah indahnya dalam ribuan kenangan.

“ aku tidak tau pasti apakah aku punya kenangan apa tidak di sini, aku tidak ingat, hanya saja perasaanku selalu memaksa untuk datang kemari? Padahal aku sendiri tidak tau apa yang aku cari dan lakukan disini, aku hanya menuruti kata hatiku” katanya tadi. Aku diam rasanya aneh saja dia berkata demikian.

“ kenapa bisa begitu?”

“ entahlah, sepertinya sebagian hidupku tertulis dikota ini,namun aku tidak tau apa itu?”

“ masa tidak ingat sama sekali?” tanyaku lagi. Tita ternsenyum dan menggeleng.

“ tidak! Tapi anehnya hati kecilku memaksaku terus untuk kemari” jawabnya datar.

“ ya semoga saja setelah beberapa waktu di kota ini,ingatanmu kembali menemukan sesuatu yang kamu tidak tau itu” kataku tersenyum.

“ya..ya semoga saja” jawabnya kaku.

                                                                                                                                 *****

Pagi setelah mandi aku segera turun ke Coffee shop untuk sarapan pagi, hari ini ada jadwal bertemu dengan pak Edwin lagi membahas rancangan  yang sudah dibahas kemarin,  pertemuan itu baru akan dimulai jam 9 nanti,sementara sekarang masih jam 7.30 aku punya waktu setengah jam untuk sarapan dan 1 jam untuk perjalanan ke kantor pak Edwin. Dengan dasi yang masih belum benar letaknya aku masuk ke lift dan turun kelantai dasar. Begitu sampai di coffe shop aku sengaja mencari tempat duduk yang menyudut agar bisa melihat pemandangan diluar. Seorang waitress datang mengampiriku dengan senyum ramah dan menawarkan menu makanan. Kemudian sambil menunggu kopi dan sandwich kubaca koran pagi ini yang tersedia di sana.

“ selamat pagi!” sapa seseorang selagi aku asyik membaca.

“ pagi!” jawabku menoleh. Deg! Tita berdiri disampingku dengan senyum mengembang, pagi ini dia jelas kelihatan cantik, wajahnya yang segar dengan kacamata bening yang bertengger dihidungnya makin membuat wanita itu jadi lebih menarik.

“ wow…surprise bisa ketemu disini!” kataku tidak mampu menutup keheranan.

“ ya kebetulan sekali…kamu menginap disini juga?” katanya sejurus kemudian.

“ ya aku menginap disini, hmm…kamu juga?”kataku gembira. Tita mengangguk sambil tersenyum kecil dan memperhatikan penampilanku.membuatku sedikit kikuk.

“Boleh aku duduk disini?” pintanya.

“ Oh..silahkan! silahkan dengan senang hati” jawabku melepas tawa tertahan. Oh my God apakah ini satu kebetulan atau memang keinginanMu,sehingga aku dipertemukan lagi dengannya.

( titik air yang mengembun dikaca perlahan menari sebelum membias dengan senyum bahagianya, ah sungguh suatu kebetulan yang luar biasa,dan  tidak aku sangka sebelumnya  bisa berjumpa dengan dia, apalagi dia menginap dihotel yang sama denganku, thank’s God! Setidaknya aku punya teman selama menghabiskan waktu di jogja )

bersambung

09:15 8/7/2008 - 8 comments - [ post comment ]

YOU’RE THE INSPIRATION

( lanjutan Hard to say I’m sorry )

By Nino

 mungkin saja aku salah! Lagipula tidak mungkin dia masih di kota ini? Jangan-jangan ini hanya pikiranku saja yang telah merengkuh utuh bayangan dirinya bersanding dengan kerinduanku malam ini. Stupid!! Isn’t it? Masih dengan langkah yang masgul dan hati yang kosong aku berjalan  dibelakang wanita tersebut, berjalan menyeberang lampu merah di depan kantor pos.

( tarian dan juga gending jawa,masih mengalun menghibur malam panjang yang termangu sejenak kemudian mendesah tanpa kepastian, malam tetaplah malam yang menyisakan kopelan catatan yang tertinggal )

Wanita bergaun panjang warna putih tersebut segera berbaur dengan suasana malam yang ramai di alun-alun, aku diam sejenak memperhatikan langkah kakinya lalu beranjak menuju kedai lesehan jagung bakar dan wedang ronde, malam semakin terasa panjang. Sungguh sebuah kegilaan bila aku mengharapkan kekasih sahabatku itu hadir disini, menemani jalanku di aspal kenangan kota 20 thn yang lalu, sungguh tak masuk akal. Benar-benar sebuah kerinduan yang gila.

( Raung sirine ambulan,memecah sore yang kelabu ketika aku sampai di rumah sakit bethesda untuk menengokmu yang habis tabrakan di jalan kridosono, ya aku dapat berita itu dari Retno karibmu pagi itu karena aku tidak mendapatimu ada dikelas, kecelakaan terjadi hanya karena kamu mengejar Helmy yang melintas didekatmu dan tak mengetahui keberadaanmu disana, membuatmu memacu sepeda motor semakin kencang, maka terjadilah musibah itu,Sorry kalau aku masih meng ingat  peristiwa itu Sita hehehe.. waktu itu kamu belum begitu dekat dengan Helmy, hanya sebatas menyapa seadanya, karena kecelakaanmu itulah akhirnya membuat kalian makin dekat, dan tanpa sungkan kamu titip salam padaku untuknya…sering dan sangat sering, walau dengan perasaan tidak karuan salam-salammu tetap aku sampaikan..)

“ Silahkan Pak, monggo..!” tawar penjual jagung bakar dengan ramah, aku mengangguk kecil melempar senyum lalu perlahan duduk bersila, Alun-alun sedikit berubah, sekarang bunga trotoar makin subur berkembang dimalam hari, yang datangpun ramai, yang masih terasa sama adalah  aroma khas jagung di bakar dioles mentega bercampur sedikit air garam.dari dulu sampai kini tetap ada .

“ pak..wedang rondenya satu ya!” pintaku kepada penjual wedang ronde yang berada tepat disebelah penjual jagung bakar.

Kembali ke jogja adalah salah satu keinginanku  sekian waku yang terlewati akhirnya terwujud juga keinginanku ini, Kantor menugaskan aku melakukan survei  untuk pengembangan Apartement. Penugasan itu tentu saja segera aku terima tanpa pikir panjang. Bayangkan 20 tahun lebih aku berpisah dengan kota jogja, Helmy dan juga Sita. Berharap menemukan sisa-sisa butiran liontin yang terbenam di jalan waktu, meski aku sendiri sadar aku takkan bisa menemukan lembaran-lembaran yang sudah berserakan 20 tahun lebih itu, ya setidaknya aku bisa bernostalgia.

“ maaf, bisa bergeser sedikit?” suara lembut memecah lamunanku, akupun setengah menoleh dan melihat seorang wanita berada diujung tikar yang aku duduki. Hei! Bukankah dia gadis yang aku ikuti tadi?

“ Oh maaf, mari silahkan!” jawabku terbata, diapun tersenyum sambil membetulkan letak kaca matanya. Kemudian duduk di dekatku lalu memesan jagung bakar dan semangkuk wedang ronde. Aku diam, mengamati geraknya dengan ekor mataku.

“ sering datang kesini?” tanyaku sekedar basa-basi.

“ tidak juga, hanya kebetulan saja” jawabnya tanpa ekspresi. Aku manggut.

“ anda orang jogja?” tanyaku lagi.

“ bukan! Saya hanya liburan disini, entah kenapa hati kecilku selalu memaksaku untuk datang kemari”
” Oya? Jogja memang
Kota yang selalu memberikan kenangan indah!” kataku mulai berani.

“ namaku Adit.. Aditya Pratama!” sambungku sambil mengulurkan tangan kearahnya. dia kembali tersenyum lalu menyambut tanganku.

“ Tita!” katanya. Aku menyambut senyumnya yang mengembang, Tita bukan Sita..akupun membathin. Dia memang bukan Sita.meski bentuk wajah yang cenderung mirip dengan Sita wanita disampingku ternyata bernama Tita.

( malam semakin meninggi, mengukir hati yang tergantung di kidung malam tak bertuan, kepada siapakah rindunya akan ia berikan? Bila hentak-hentakan nada dalam hatinya berbuah bilur berwarna biru muda perlahan menetes menjadi halimun yang dingin entahlah )

kebisuan harus menyergap diantara kami,begitu jagung pesananku dan dia datang, akupun memakannya tanpa kata, sesekali mata kami beradu pandang, hanya sesaat, sebuah lagu you’re the inspiration milik Chicago terdengar dari radio milik penjual jagung membangunkan kembali ingatanku pada Sita..

wanita di sampingku menoleh dan ikut bernyanyi, Damn..kini luruhlah aku dalam kubangan kenangan dulu..

( ujung penaku berusaha bicara mencari tau keindahanmu, bermain dengan liukan jamari,mengungkapkan sajak-sajak purnama bermandikan kemilau cinta yang bertaburan, aku ingat waktu itu aku menulis puisi untukmu diiringi lagu itu, ah..Sita bayangmu makin membuat hatiku ingin mengejarmu, merengkuhmu…dimanakah dirimu kini? )

“ kenapa memandangku seperti itu?” kata Tita tiba-tiba, aku yang tidak sadar menatap lekat kewajahnya,tergagap dan cepat-cepat membuang gugupku.

“ suka lagu itu?”

“ lebih dari suka…!”

“ kamu suka juga?”

“ aku” kataku sambil menunjuk diriku sendiri. Tita mengangguk…

“ ya..ya….aku juga suka…” terbata-batalah aku menjawabnya. Diapun tergelak melihat sikap bodohku.

( pencarian ini belum selesai, biarkan aku berlabuh sejenak, dan memainkan tuts piano penuh kerinduan, setidaknya biarkan aku mengambil nafas, nafas cinta yang tertinggal )

bersambung

10:23 7/7/2008 - 5 comments - [ post comment ]

HARD TO SAY I’M SORRY
By Nino

Begitu terdengar intro lagu itu ingatanku langsung pulang ke pertengahan tahun 80an, benakku mulai terseret mundur pada seraut wajah yang hampir terlupakan..Sita! ya nama itu sempat bersemayam lama dalam hatiku, merentangkan rindu yang panjang, membawa angan jauh melayang bersama helai rambut lurusnya yang panjang dan tatapan mata yang sungguh mengoda, dimanakah dia sekarang? Sita Damayanti Siregar…aku masih ingat nama lengkapnya, gadis badung yang cantik, sedikit tomboi dan sangat menawan…

( gending-gending serta tarian jawa yang mengalun beriring dengan gemulai sang penari merambah sore berwarna kuning keemasan..di setiap jalan dan koridor Malioboro, aku ingat betul sore itu aku menelusuri jalan itu sendiri, membawa bayang wajahmu yang cantik, kukantongi semua asa yang tak terungkap, dan rasa yang tak tersentuh oleh jemarimu…)

Malam ini,setelah sekian lama aku tinggalkan Kota yang mempertemukan aku dengannya dulu membawaku kembali, untungnya aku mendapat tugas ini, setidaknya disela kesibukanku aku bisa sedikit meluangkan waktu mencari jejak yang sempat terukir di sini. Jogja ternyata sudah sangat jauh berbeda, aku hampir saja tidak mengenali wajahnya. Sekian waktu ternyata kota ini sudah dewasa, cantik namun terkesan genit, tidak seperti waktu dimasa dulu, jogja dulu terlihat cantik feminim, teduh membuat aku sulit untuk meninggalkannya, terlebih lagi satu nama telah terkubur di hatiku.

( ketika malam menjelang, aku kembali menelusuri Malioboro, masih ramai oleh lalu lalang orang, sehabis meeting tadi sore, aku cepat-cepat kembali ke Hotel karena tidak ingin sedikitpun melewatkan malam yang indah  di sepanjang malioboro. Aku ingin membuka dan menulis kembali sejarah saat bertemu denganmu.. betapa bodohnya aku dulu, menyimpan rasa padamu, dan hanya berani memandang kecantikanmu dari jauh, menaruh sesobek puisi di jok motormu dan mengawasinya dari jauh saat engkau heran mendapatkan puisiku diatas jok sepeda motormu…hehehe..maafkan aku Sita..sungguh aku tidak berani waktu itu…)

“ Adit, aku bisa minta tolong gak?” Sita mendekatiku dengan senyum yang selalu mampu meruntuhkan dinding keberanianku.

“ Eh..ya Sit, tolong apa ya?”. Kataku senang ( kamu tau saat itu aku sungguh-sungguh bahagia )

“ titip salam buat Helmy ya..” Deg! Jantungku seakan berhenti berdetak, sungguh tak aku sangka Sita menyukai Helmy sahabat karibku?

“ eh..iya..ya nanti aku sampein, dia juga pernah tanya soal kamu” kataku berbohong. Dasar bodoh, kenapa aku harus berbohong? Apa karena aku tak kuasa menolak permintaanmu dan sangat ingin membuatmu bahagia…

( sejak engkau dekat dengan Helmy , bathinku makin teriris Sita, tak mengertikah engkau? Rasa cemburu yang bergejolak, manakala engkau dan helmy mesra bercengkrama di kantin sekolah?, tak aku pungkiri memang, Helmy lebih segalanya, siapa yang tak suka dengan ketampanan dan juga gaya hidupnya?, sementara aku hanyalah orang biasa dengan kamar kos yang biasa pula..)

yang lebih menyakitkan kenapa kita harus selalu menghabiskan waktu bertiga? Berat bagiku menyimpan semua itu, seperti waktu tak memberi kesempatan aku untuk melupakanmu dan pergi dari kehidupan kalian, aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku juga tak ingin dengan kepergianku diantara kalian menimbulkan sebuah pernyataan…

                                                                           ***

Jam 21.30 aku masih menikmati kesendirianku dimalioboro, kembang trotoar perlahan menutup diri, meninggalkan keramaian, menyambut sepi dibawah payung mercuri, sejenak aku berhenti didepan museum, dan menggambarkan wajah Sita dan Helmy sahabatku,  pasti mereka sudah bahagia sekarang.. kuusap bibirku dengan tangan lalu tertunduk pelan, kemudian kembali berjalan menuju Alun-alun… tepat di perempatan jalan, tak sengaja mataku menangkap sosok yang tidak begitu asing, penampilannya, bahkan rambutnya..tanpa ragu aku ikuti sosok itu dari belakang, langkahku makin ku percepat agar dapat menyusulnya. Begitu dekat akupun memanggil namanya.

“ Sita!” kataku setengah berteriak. Wanita yang aku panggil itu tak menoleh,bahkan mempercepat langkahnya. Aku begitu yakin dia itu Sita, tidak mungkin aku salah…ah ternyata dia masih di kota ini, kabar terakhir yang aku tau dia kembali ke jakarta setelah selesai sekolah dulu, benar gak sih itu sita?

Bersambung

( Sorry lagi Bad mood ceritanya kepotong dulu…tar dilanjutin, oya menurut kalian wanita itu baiknya Sita atau bukan ya ? )

09:18 5/7/2008 - 4 comments - [ post comment ]

CINTA SATU WARNA
By Nino

Derap kaki sang waktu berjalan menuju cahaya timur, mencoba meredam kebisuan yang bergelantung di awan yang sepi sendiri, bertautlah hati mencoba meluluhkan sinaran yang terpendar ketika senja beranjak naik… luka itu masih sama, berbekas dan tetap membekas.. tak ada kata cinta kini, yang tertinggal hanya gambarnya melayang tersapu angin, terbang tinggi menghampiri hujan yang kemudian turun perlahan, membasahi jiwanya yang kering…

( menanti harapan yang terhalang pagar halaman, mencabit rumput basah dan menikmati aromanya sendiri, meraba usapan jemari yang menempel di kedua pipi, terpejam dan meresapi setiap aliran nafasnya )

Gundahlah ia, duduk diatas gundukan tanah, melemparkan mata sejauh memandang, masih saja terlihat sepi, hilangkah rasa ini? Sungguh ia merasa semuanya tak ada artinya lagi, amarah,dendam tercampur dalam benih kebencian akan sebuah penghianatan, menusuk lukanya yang paling dalam, perih tak tertahan… Cintanya benar-benar telah mati..

( entah kenapa,setiap kali benang terajut indah selalu putus tanpa sebab, meninggalkan sulaman yang tak selesai, bukan sekali ini saja ia mengalami getirnya cinta, sudah puluhan kali, kadang ia mengutuk diri, inikah karma? Kenapa harus terjadi berkali-kali? )

dan kini, ia terjerambab pada sebuah permainan, permainan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, karena dendamkah?entahlah hanya saja ia sungguh sangat menikmati permainan yang tak lazim ini.

( sebuah jemari lentik menyentuh ulu hatinya, mengusap asanya menjadi basah, menaburi seluruh dahaganya dengan madu bercandu cumbu rayu, tenggelamlah ia dalam kegamangan, tanpa sadar ia telah terseret jauh dalam permainan gila itu )

bulan telah lelah bermain, hawa dingin semakin merajang tulang, disulutnya sebatang rokok, dan menghembuskan asapnya keras, agar terlampiaskan dendam yang terbenam dalam otaknya..

“ maafkan aku Rima…aku telah menghianatimu” ucapan laki-laki yang dicintainya dulu  itu masih sangat jelas terekam dalam memory otaknya. Membawanya pada kebencian yang tak berkesudahan, hingga ia mengambil keputusan untuk tidak lagi mengenal laki-laki.

Hampir semua laki-laki bertabiat sama, suka enaknya saja. Dasar!! Sumpah serapahnya memecah sepi hatinya.

Dalam kekiniannya, ia telah menemukan cinta yang lain, walau ia tau cinta itu semu dan takkan mungkin bersatu, namun entah kenapa ia sangat menikmati semuanya, sentuhan dan belaian,juga dekapan yang sungguh beda…terperangkapkah ia? Masa bodoh! Begitu umpatnya tanpa penyesalan. Setidaknya aku merasakan kasih yang nyaris sempurna dari seorang Dewi kekasih sesama jenisnya, ketimbang pelukan kepalsuan laki-laki penghianat itu.

“ Rima sayang..kamu belum tidur?” tanya Dewi dalam selimut hangatnya, Rima menoleh kemudian menghembuskan asap rokok dengan pelan, menggeleng dan melemparkan padangannya ke balik kaca jendela dengan gamang….

Pandaan 4 juli 2008

13:31 3/7/2008 - 8 comments - [ post comment ]

CINTA YANG TERSEMBUNYI

By Nino

Monik mempercepat langkah kakinya melewati lorong koridor sebuah stasiun kereta yang sudah mulai sepi, malam baru beranjak setengah bayang bulan, wajah Juan jelas tergambar dalam benaknya malam ini, apa dia baik-baik saja? Menerawanglah pikiran Monik kepada tubuh yang sudah tidak perkasa lagi itu, Juan laki-laki yang sudah menemani hidupnya 11 tahun dan telah memberikannya 2 orang anak yang sangat dicintainya. Nafasnya mulai terdengar tak beraturan, mungkin karena perasaan kalut, konsentrasi monik tidak begitu fokus begitu mengendarai mobilnya yang terparkir hampir 3 hari di stasiun kereta. Apa ini sebuah kecemasan yang berlebihan? Rasa kawatir dengan laki-lakinya tersebut? Ataukah rasa Rindu yang terrtangkup setelah beberapa hari tidak bertemu? Rasanya tidak! Ini sebuah kecemasan, sungguh! Lebur dengan perasaan bersalah. Entahlah.

( rindang pohon anggur dan setaman kembang mawar putih yang tersiram matahari pagi,terasa tak sempurna,karena semilir angin dan setetes embun sisa semalam telah lama pergi, keceriaan makin terbenam di ufuk senja, tak teraih bergulir kehampaan hati yang lama tak tersentuh oleh cinta yang membara, kecupan hangat di kala jamahan hujan berebut turun membasahi tanah yang berumput, telah lama kering, terbakar. Hampa..kini semakin hampa saja )

Perlahan sekali Monik membuka pintu mobil dan berjalan menuju rumah, degup jantung kian menggempur dadanya, bibir tergigit keluh,seperti tak mampu bicara, diam sejenak di pintu merapikan Sal yang tergantung dileher dan membenahi mantelnya. Kemudian perlahan memasukkan kunci pintu lalu memutarnya sangat perlahan. Setelah terbuka dia masuk dengan hati-hati takut kedatangannya diketahui seisi rumah. Setelah melalui ruang tamu, Monik menapaki tangga menuju kamar Moza dan Airin buah hatinya. Satu persatu kamar anaknya tersebut dimasukinya dengan sangat hati-hati, tertegunlah ia ketika melihat Airin si bungsu buah hatinyaitu  terlelap sambil mendekap boneka. Lalu dia membungkukkan badan mendaratkan sebuah kecupan sayang di kening putrinya. Beberapa menit kemudian diapun segera berlalu meninggalkan kamar Airin, menuju kamar utama dimana Juan sudah menanti kedatangannya.
 
( tarikan senyum yang lain kembali menggelitik pikirannya malam ini, pelukan yang lembut telah merebut hatinya tuk tenggelam menari bersama bayang yang lain itu , bukan bayang Juan sang kekasih hati, tapi masihkah Dia mengakui kekasih untuk laki-laki yang telah menikahinya itu? Bila perasaaan  sudah terpagut dengan kecupan yang lain? Walau suaminya tersebut sudah kehilangan segalanya? Kemampuannya? Perasaaan wanita tersebut kembali berkecamuk penyesalan bercampur rasa bersalah telah meninggalkan suaminya jauh tertinggal sendiri, hanya untuk sebuah senyum yang telah menorehkan hati membekas begitu dalam, dan hanyut dalam belaiannya cinta semunya? Ah entahlah )

“ terima kasih sayang untuk waktu yang indah ini” Monik menatap lekat mata yang ada dihadapannya, ditariknya nafas,kemudian menghembuskannya dengan terbata-bata,diam tanpa bicara. Kemudian melepaskan genggaman tangan sosok dihadapannya itu.

“ Am, ini sebuah kekeliruan, aku tak sanggup lagi” perlahan kata-kata itu keluar dari bibirnya, Monik lalu berpaling kearah lain, sinar mercuri ditaman itu remang menutupi resahnya.

“ kenapa Mon? aku mencintaimu sejak di SMA dulu? Kamu juga begitu kan?” laki-laki tersebut berusaha mendekat dan hendak merangkul bahu monik, namun kali ini Monik melepaskannya.

“ aku sudah punya Juan Am?,Moza dan Airin, aku tak sanggup menghianati mereka?” jawab Monik sambil membalikkan tubuhnya kearah Am,laki-laki yang pernah dicintainya sejak SMA dulu.
” Tapi Juan sudah tak mampu membahagiakanmu lagi Monik? Juan tidak lebih dari raga tanpa jiwa, dia sudah tidak mampu membahagiakanmu lahir bathin?”
” jangan bicara seperti itu Am, bagaimanapun keadaaannya Dia masih suamiku!”

“ Ayolah Mon, kamu tau aku sangat mencintaimu, lupakan saja suamimu yang kena Stroke itu!” desak Am lagi. Kali ini Monik benar-benar marah,matanya merah meradang,menghujam tajam pada sosok dihadapannya tersebut.

“ terlalu kamu Am.., ini terakhir kali kita bertemu,dan jangan coba masuk kedalam kehidupanku lagi” setelah berkata demikian Monik berlalu, mencegat taksi menuju Stasiun kereta.

( remang akan redupnya cahaya cinta,membutakan dan meretakkan guci kesetiaan yang tersimpan direlung hati, seperti melupakan kenangan indah yang telah tercipta dihamparan awan berselimut kasih, luruh dan tergerus pada penyesalan tak berujung, diamlah dia akhirnya )

Begitu kamar terbuka, Monik mendapati Juan tengah duduk di kursi roda menghadap laptopnya,menoleh dan terseyum lebar, Monik segera berhambur dan memeluk laki-laki yang dicintainya itu penuh kasih.

“ wow..mama kok gini? Kangen sama papa ya?” seloroh suaminya. Monik tidak menjawab dengan kata diciuminya kedua pipi Juan sang suami.

“Iya Mama kangen banget sama Papa, maafkan Mama ya pa, yang tidak punya banyak waktu untuk papa dan anak-anak!” bisik Monik ketelinga Juan.

“ gak apa-apa, papa yang jaga anak-anak, kan Cuma itu yang bisa papa lakukan sekarang,” jawab suaminya menarik wajah Monik lebih dekat dan mencium bibirnya mesra.

“ gimana pa..Novel papa sudah selesai?”

“ tinggal endingnya ma, coba deh mama baca kira-kira bagus tidak kalo endingnya seperti ini” kata Juan lagi.

Dengan sangat perlahan Monik membaca tulisan di monitor komputer, gemuruh dadanya kembali menjadi gempuran ombak besar seakan menghantam karang.

( kemuning berlari meninggalkan kisah tak terungkapnya dan membuang hayalan yang belum terwujud, kembali memunguti serpihan-serpihan cinta yang telah ia buang satu persatu di jalan yang menjadi kenangannya bersama laki-laki yang dicintainya dimasa lalu , untuk pulang kedalam dekapan Bimo sang suami yang selalu menunggu di jalan kenangan kapan saja kemuning Pulang dengan membawa sepotong cinta yang telah dibuangnya dulu…- SELESAI- )

Monik kembali memeluk Juan dengan hangat,tersenyum miris,  Maafkan Mama ya pa…bisik hatinya bersalah. Apa yang engkau tulis itu yang telah terjadi sekarang, namun semuanya sudah berakhir, dan aku ingin menumpahkan segenap cinta kasihku untukmu sayang, aku tak perduli engkau sudah tidak memberiku kebahagiaan sebagai suami, aku hanya ingin berbagi suka  duka bersamamu dan anak-anak kita.

Kemudian menatap lekat wajah suaminya itu.

“ Papa mau kopi?” tawarnya.

“ Mama buatkan untuk papa yaa…!” Monik segera beranjak sebelum dijawab suaminya. Ia ingin menebus semua kesalahannya selama ini…biarlah kekeliruan itu menjadi rahasia bagi dirinya..

pandaan 3 Juli 2008

09:34 2/7/2008 - 5 comments - [ post comment ]

BIDADARI ITU TLAH PERGI
By Nino

Dia terpaku sendiri di sudut jendela kamar, memandang dengan mata menerawang, sesekali dia tersenyum entah pada siapa, padahal disana hanya dia sendiri.begitupun di luar jendela kamar tidak ada siapa-siapa hanya gemerisik angin beradu dengan batang pohon bambu kuning dan lambaian daun pohon mangga. Mungkinkah engkau sedang membayangkan kebahagiaan  yang tak teraih diatas penderitaanmu selama ini? Sungguh aku sangat mengasihimu, engkau bagian dari hidupku yang bersemayam abadi, aku melihatmu selalu seperti bidadari.

( bintang dilangit selalu bersinar tidak sempurna membelah malam, ada kebisuan dengan berjuta tanya, ada kesedihan diatas jelaga mengembang menjadi sebuah penyesalan, merogoh kantung kebahagiaan yang kerap datang namun tak pernah teraih oleh harapan-harapan yang ada dalam mata beningmu, meradanglah sudah kepedihan itu mengalir bersama air mata penyesalan bunda )

aku tau engkau memang berbeda dengan mereka, meskipun kehadiranmu di tengah mereka sering membuat kemarahan, namun tetap saja engkau berhasil mengundang iba mereka tuk kembali memelukmu dan memanjakanmu dengan segala warna cinta. Dan aku salah satu dari mereka itu, ya aku! Aku yang selalu mengintip setiap gerak-gerikmu kemana saja kakimu melangkah aku selalu mengawasimu dengan penuh kasih.

Utet sayang, aku dapat merasakan kesepian hatimu dari dunia luar, sejak engkau hadir di dunia ini, ibu tak pernah melepaskanmu pergi sendiri, bahkan melarangmu untuk pergi jauh. Ah..betapa nestapanya hatimu aku tau itu, maafkan aku yang tak bisa berbuat sesuatu untukmu, namun percayalah apa yang ibu dan mereka lakukan itu yang terbaik untukmu, engkau jangan marah ya..

( bibirnya tak pernah lepas dari senyum, tatapan mata yang tak sempurna membuat engkau selalu mengerdipkan kelopakmu, jemari tangan yang tak pernah diam mengelus rambut panjangmu, duduk di sisi tempat tidur memandang keluar jendela dan tersenyum sendiri )

“ Utet…tengok aku bawa apa?” kataku sambil memperlihatkan buku cerita bergambar, dia pun mengerdipkan mata kemudian mendekat dan meraih buku dari tanganku,lalu menatap lebih dekat.

“ ini buku apa?” tanyanya.

“ ini buku cerita bergambar Utet…ini untuk Utet!” jawabku tersenyum, bibirnya langsung berseringai.

“ epi yang beli ya?” dia selalu menyebut namaku.

“iya Utet, biar Utet gak bosen dirumah terus,nanti aku yang ceritakan untukmu yah!”.

“ bener..ya epi mau cerita untuk Utet?, jangan bohong!” katanya gembira, matanya selalu meleset melihat kearahku, bukan karena matanya tidak sepadan, hanya saja dia tidak dapat melihat dengan jelas.

30 tahun sudah berlalu, engkau masih tinggal dirumah yang sama,sementara kakak dan adik-adikmu sudah pindah kerumah mereka masing-masing, kini hanya tinggal dirimu dan Ibu, ibu yang semakin tua namun tak pernah lelah mengurus segala keperluanmu.

“ pi, gimana rasanya kalo jatuh cinta?” tanyanya suatu hari saat kami sedang duduk dibawah pohon jambu di depan rumah sambil memandang lalu lalang kendaraan yang lewat.

“ kenapa? Utet lagi jatuh cinta?” tanyaku tanpa bermaksud menyinggung perasaannya.

“ dak tau..!” tawanya yang lepas semakin membuat kelopak matanya menyempit.

(