penulis
  Advanced Search
Home    Search    Chat     Events     Forum     Direktori     Invite    Help Signup    Login

Writers Comunity and Writing resources, news and discussion for authors / writers, editors, and publishers



Free Web Hosting with Website Builder

20:16 10/9/2008 - 1 comments - [ post comment ]
Filed under: Lain-lain

DUA HATI TENTANG DUA LAUT

 

Ada dua laut di Palestina. Yang satu segar dan banyak ikannya. Di sekelilingnya begitu banyak warna hijau. Tumbuh-tumbuhan berjumlah ribuan dan sangat subur. Airnya juga segar dan menyembuhkan. Laut ini adalah juga berasal dari sungai Yordan yang sumbernya air pegunungan yang sangat segar dan berkilauan. Maka tampak tertawa bila ditimpa sinar matahari. Orang-orangpun membangun rumah di dekat sungai ini. Burung membangun sarangnya dan setiap jenis kehidupan menjadi lebih bahagia berkat sungai ini.

Sungai Yordan mengalir terus ke selatan laut lain.

Di laut yang satu ini, tak ada ikan yang berenang, tak ada daun yang melambai, tak ada suara burung berkicau, tak ada tawa ria anak-anak. Para pelancong memilih rute lain, kecuali kalau urusannya mendesak. Udara di atasnya berat. Sangat berat. Dan baik manusia atau hewan tak akan meminum airnya.

Apa yang membedakan kedua laut ini? Bukan! Bukan sungai Yordan. Sungai Yordan mengalirkan air yang sama baiknya ke dalam dua laut ini, tanpa pilih kasih. Bukan! Bukan juga tanahnya, bukan di negara dimana dua laut ini berada.

Ini bedanya. Laut Galilea, yaitu laut yang pertama, menerima tetapi tidak menahan air dari Sungai Yordan. Untuk setiap tetes yang mengalir ke dalamnya, ada setetes yang mengalir keluar darinya. Memberi dan menerima, berlangsung seimbang.

Laut yang satunya lebih cerdik. Dia menimbun pemasukannya tanpa mau berbagi setetespun. Sungai ini tidak punya hati untuk membagi kesenangannya kepada yang lain. Setiap tetes yang diterimanya, ditahannya untuk diri sendiri.

Laut Galilea memberi, dan hidup. Laut yang satunya tidak memberi apa-apa dan hanya menimbunnya. Kalian mengenal laut itu, yaitu LAUT MATI.

Ada dua tipe hati di dunia ini. Ada dua laut di Palestina.

 

(Disadur dari buku The Man Nobody Knows karya Bruce Barton yang dikutip dalam buku 7 Habits of Highly Effective Teens)

15:26 21/3/2008 - 11 comments - [ post comment ]
Filed under: Puisi

Baru saja ada khayalan di hatiku

 

 

 

 

Mata itu, aku menyebalnya

 

Baru saja ada khayalan dalam hatiku

Bahwa kau di sini untuk memintaku melupakanmu

Bahwa kau hanya datang dalam kehidupanku untuk sesaat waktu lalu dan kini „selamat tinggal“ sudah menunggu

 

Dan aku terjaga

 

Mata itu, aku menyebalnya

 

Mata yang selalu ada dalam gambar yang aku buat

dalam puisi yang kutulis

dan dalam lagu yang kunyanyikan

 

Kau berjalan dengan mata itu

Mata yang seperti menyembunyikan sesuatu

Mungkin sendu, mungkin ragu

 

Tapi lalu kau memelukku

Dan membisikkan kata rindu

 

Aku lebih suka kenyataan daripada khayalan di hatiku

22:21 13/2/2008 - 7 comments - [ post comment ]
 

CRASH!

Laki-laki berkumis itu tumbang seperti gerakan lambat dalam film. Menggeletar. Berkali-kali tubuhnya mengejang, lalu diam. Tanpa nafas, tanpa detak jantung. Matanya masih melotot … ke arahku! Tengkukku langsung bergidik ngeri.

Lalu dunia seperti kehilangan suara. Semuanya sepi, senyap, seperti dalam kuburan. Hanya mata-mata yang melotot ngeri dan jantung yang memompa cepat. Terlalu cepat mungkin, karena aku bisa melihat wajah-wajah itu — wajah teman-temanku, memucat. Mungkin wajahku juga demikian, atau bisa jadi lebih.

Sedetik kemudian, dunia seperti kelebihan suara. Ada yang menjerit, ada yang terisak, dan ada yang hanya diam saja sambil gemetar. Aku sendiri takut bukan main. Baru kali ini seseorang terbunuh di depanku.

Aku memandang ke seluruh ruangan. Sekarang tinggal empat orang laki-laki setelah si pria berkumis itu mati. Ada Alex, kekasihku; Jimmy dan Nathan, yang keduanya pernah mengatakan cinta kepadaku. Dan seorang lagi, meski sudah hampir setahun kami sekelas, aku tak tahu namanya. Kurus dan selalu berjaket hitam. Aku tak pernah memperhatikannya, karena dia juga jarang sekali bersuara.

“DIAM!” teriak lelaki yang masih memegang belati berlumuran darah itu. Keras. Sangat keras. Dunia kembali sunyi. Ah, tidak juga. Masih terdengar isak tangis di mana-mana.

Lelaki itu mengangkat belatinya. Mempermainkannya sambil tersenyum. Melempar ke tangan kiri, dikembalikan ke tangan kanan secara berulang. Baju yang dipakainya seperti baju penjara. Aku tahu, karena aku pernah melihatnya di tv. Sebuah pistol menyelip di pinggangnya, seperti pistol yang sering dipakai para polisi.

Tenggorokanku tercekat. Tiba-tiba dia melihatku! Lama. Sangat lama sekali. Sampai dadaku terasa sesak karena matanya yang mengerikan. Aku sulit bernafas.

Dia kemudian memanggil seseorang yang juga berseragam penjara. Uh aku lega sekali.

“Buang mayat itu keluar! Biar para polisi yang mengepung kita itu tahu bahwa kita tidak main-main! Dan lemparkan juga kertas ini! Ini daftar permintaan kita. Kita harus keluar dari sini hidup-hidup. Aku punya rencana bagus jika mereka tidak menyerbu masuk.”

Mayat pria berkumis itu diseret begitu saja sampai darahnya membekas sepanjang lantai, dan begitu saja digelindingkan pakai kaki dari pintu ruangan kursus bahasa Inggris ini. Bibirku mulai bergetar.

Dua orang. Hanya dua orang penjahat. Ada empat laki-laki di sini. Tetapi sepertinya pistol itu menakutkan mereka. Keempatnya malah ikut meringkuk bersama kami. Bahkan lelaki yang tak kukenal namanya itu sampai sekarang tidak berani menampakkan wajahnya. Menyembunyikannya di balik rambut lurusnya yang hitam. Mungkin dia sangat ketakutan sekarang. Seperti aku, seperti kami.

JLEB!

Sebuah suara! Cukup keras. Seperti sesuatu yang dtusuk. Aku tercengang. Mataku liar mencarai. Siapa lagi yang mati?! Siapa lagi yang tertusuk!?

Ya Tuhan! Mata laki-laki berbelati itu lagi-lagi menangkapku. Belatinya menancap gagah di sebuah meja. Dia berdiri di depan meja dan menatapku tajam. Tajam sekali. Aku bergidik.

Belatinya itu dicabutnya pelan. Masih menatapku. Masih sangat tajam. Masih membuat dadaku sesak dan sulit menarik nafas.

Dia lalu mendekat ke arahku. Semakin dekat. Sangat dekat. Sekarang sudah tepat di depanku. Lalu berjongkok sambil tetap menatapku. Dia memainkan kepalanya ke kanan dan ke kiri tanpa mengalihkan matanya dariwajahku. Kadang melotot, kadang menyipit, seperti memeriksa wajahku dengan teliti. Seperti membenci wajahku. Seperti mau menggoreskan luka di pipiku!

Bibirku lagi-lagi bergetar. Aliran darah di sekujur tubuhku mengucur sangat deras sampai otot-ototku menegang. Kaku. Sediam es, sedingin kutub. Aku menggigil, lagi. Semoga ini mimpi! Kuharap ini khayal semata! Tolong, siapapun! Bangunkan aku! Kumohon!

Aku terpekik! Suaraku kembali tercekat di tenggorokan ketika belati di tangannya mulai bermain-main di sekitar wajah dan leherku. Dadaku bertambah sesak. Kenapa aku susah sekali menarik nafas?! Aku sudah kepayahan!

Sial! Aku tak bisa berhenti menatap belati itu. Mataku mengikuti kemanapun belati itu bermain-main di wajahku. Mengkilat sampai memantulkan cahaya lampu ruangan. Berbau anyir darah sampai aku tak bisa mencium wangi parfumku sendiri.

Bibirku masih gemetar. Tubuhkumati rasa. Sumpah! Aku bahkan bisa mendengar detak jantungku sendiri. Ingin rasanya berteriak sekencang-kencangnya, menjerit sekeras-kerasnya. Walau mungkin bisa membuat urat leherku putus, aku tak peduli. Tetapi tenggorokanku masih tercekat, tak bisa bersuara.

Belum selesai kengerianku, dia mulai menurunkan belatinya, ke leherku! Aku terus melihatnya. Semakin dekat dan terus mendekat ke leher sampai aku tak bisa melihatnya karena tertutup daguku. Ludahku tertelan entah berapa kali karena ngeri. Tengkukku kembali bergidik.

CESS!

Nafasku terhenti. Sesuatu yang dingin dan tajam menyentuh leherku. Rasanya seperti disentuh es. Ya Tuhan! Belati itu menyentuh leherku!

Aku tak tahu apakah aku berkeringat atau tidak. Aku tidak tahu apakah wajahku pucat atau tidak. Karena lagi-lagi aku tak bisa merasakan apapun! Penjahat itu menyeringai. Aku melihatnya sangat jelas. Kumisnya yang tidak beraturan, giginya yang kuning, dan wajahnya yang berminyak dan bercodet. Aku melihatnya detil sekali. Wajah yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup. Itu pun jika aku masih hidup setelah ini.

“Kenapa manis? Kamu takut? Hmm?” Dia tersenyum. Kemudian terbahak. UGH! Mulutnya terbuka lebar. Nafasnya bau sekali! Aku merasa mual. Aku ingin muntah!

Siapapun, tolong aku! Aku melirik kemanapun mencoba mencari seseorang. Tampan, berbadan kekar; Alex, kekasihku! Dia pasti menolongku!

Itu dia! Di sana!

Aku melongo saja. Kekasihku, wajahnya pucat sekali. Masih menunduk, seperti pura-pura tidak melihat apa yang terjadi. Ada ketakutan di matanya, ada kepengecutan di bibirnya yang gemetar. Ah, sia-sia! Kekasihku banci!

Aku kaget bukan main. Nafasku tertahan. Aduh! Leherku mulai terasa panas dan perih. Apa yang terjadi?

“Ups, maaf sayang. Ini tidak sengaja.” Penjahat itu lagi-lagi menyeringai. Nafasnya semakin bau. Begitu menyengat hidungku karena dia dekat sekali dengan wajahku. Mualku datang lagi. Hampir saja aku muntah.

Dia mengangkat pisaunya dan menunjukkannya kepadaku. Darah? Darah baru? Darahku? Apakah leherku sudah terpotong?

Ah, tidak mungkin! Hanya beberapa tetes. Mungkin leherku hanya tergores sedikit. Aku jadi berpikir, kalau hanya menyentuh saja bisa menggores … bagaimana kalau …? Ah, aku tidak berani melanjutkan pikiranku sendiri. Aku mulai menangis terisak. Dadaku belum pernah menendang-nendang seperti ini. Sakit sekali.

Nafasku tertahan lagi.

Sekarang dia mulai memainkan pisaunya di mataku. Menggoyangkannya pelan. Bola mataku terus mengikutinya. Ke kanan, ke kiri. Pelan. Sangat pelan. Aku merasakan mataku sangat panas saking ngerinya, seperti ada yang sedang menamparnya berulang.

CESS!

Mulutku terbuka lebar tiba-tiba. Jantungku berhenti. Aku butuh udara. Aku tidak bisa bernafas! Mataku sampai melotot ngeri.

Aku merasakannya lagi. Sesuatu yang dingin seperti es, tetapi ada sesuatu yang cair dan hangat menempel di pipiku. Ya Tuhan punggung belati itu menyentuh pipiku!

Aku gemetar hebat. Tidak pernah aku setakut ini. Mataku melirik ke sana kemari, mencari seorang pahlawan, siapapun itu.

Mereka! Dua lelaki yang pernah menyatakan cinta mati kepadaku itu. Yang berjanji mengorbankan apapun untukku. Tetapi sama saja. Keduanya meringkuk di tembok dengan wajah seperti mayat saking pucatnya. Ah, mereka juga banci! Sial!

Aku dipaksa menatap ke penjahat itu lagi. Ya, Tuhan! Aku nyaris pingsan! Wajah penjahat itu hanya tinggal beberapa senti dari wajahku. Sepertinya mau mencoba menciumku. Tolong, aku benar-benar mual sekali sekarang. Aku takut jika muntah akan membuatnya semakin marah. Tolong …

Aku memalingkan wajahku secara refleks. Sial! Semoga dia tidak marah.

“Matamu indah sekali manis. Biar kucongkel dan kubawa pulang ya?” Dia tertawa mempermainkan ketakutanku. Aku tahu dia tidak akan melakukannya. Aku tahu! Tetapi aku masih saja merinding ketika pucuk belati itu diarahkannya menghadap tepat di mataku. Benar-benar di depan mataku!

Entah keberanian dari mana, entah kekuatan dari mana, aku bisa memalingkan muka menghindari belati itu dan melindungi wajahku dengan kedua tangan. Aku tidak mau lagi melihat wajah itu atau belati lagi. Mataku menyipit ngeri ke sebuah pojok ruangan, mengintip melalui celah-celah jariku.

Di sana! Aku melihatnya!

Tiba-tiba semua menghilang dari pandangan secara perlahan. Sedetik kemudian aku tidak bisa melihat apa pun selain … dia …, yang tak berhenti berlari, yang membuat nafasku nyaris terhenti, mungkin membuat dunia juga berhenti. Seperti sebuah gerakan lambat dalam film. Aku melihatnya sangat pelan.

Dia melompati meja menuju ke arahku. Membuka mulutnya seperti berteriak entah apa, karena aku tidak bisa mendengar apa pun. Tetapi tunggu dulu. Aku seperti mendengar sesuatu. Ya, aku memang mendengar sesuatu. Derap langkahnya, dan suara mulutnya mengalun di telingaku, seperti nyanyian malaikat. Tidak ada musik, hanya nyanyian malaikat. Merdu sekali. Begitu sunyi, begitu dingin, begitu terasa lambat.

Dia menarik penjahat itu dari belakang lalu memukulnya di kepala sambil tetap membuka mulutnya dengan urat leher kencang, seperti berteriak. Tetapi yang kudengar masih saja nyanyian malaikat. Tetap sangat merdu. Dan masih saja, di mataku, seperti gerakan lambat.

Dia memukul penjahat itu entah berapa kali. Terus menerus sampai penjahat itu terpelanting dan pistol serta belatinya terjatuh.

Aku tak bisa berhenti memandangnya. Setiap detil gerakannya, bahkan rambutnya yang terombang-ambing ketika memukul, atau jaketnya yang bergerak tidak beraturan mengikuti tubuhnya, aku melihatnya. Terasa indah, seperti menari. Tidak, seperti … simphoni.  Tiba-tiba aku mencium bau malaikat meski aku tidak pernah menciumnya sebelumnya. Tetapi aku yakin ini bau malaikat. Ini bau tubuhnya. Malaikatku!

Lelaki itu, — aku tersadar, lelaki yang sampai sekarang tak mempunyai nama. Lelaki yang selalu berjaket hitam agak lusuh dan pendiam.

Dia masih mencoba mengejar. Tetapi sebuah tendangan menghantam punggungnya dari belakang. Dia terhempas memporak-porandakan kursi yang ada di sana. Teman penjahat itu! Dia licik sekali! Pengecut! Bangsat! Banci! Entah berapa kali aku memaki dalam hati. Hampir semua makian kukeluarkan.

Lelaki tak bernama itu mencoba berdiri dengan susah payah tanpa memperdulikan apapun. Aku melihat darah di sebuah meja yang rusak. Ya Tuhan! Lelaki itu terluka karena paku yang keluar dari kayu. Mataku pedih. Aku ingin menangis.

Dia masih mencoba berdiri dengan menyingkirkan kursi yang bergelatakan di sana sini. Dia berhasil berdiri tetapi masih goyah.

Tetapi sesuatu tiba-tiba membuat mataku nyeri. Membuat hatiku merasakan kesakitan yang sangat. Ini terlalu nyeri!

Seperti sebuah benang masuk ke lubang jarum, seperti itulah belati itu menancap tanpa meleset di jantungnya. Seratus persen tepat sasaran.

Dunia berhenti. Waktu berhenti. Nyanyian malaikat berhenti. Tarian dan simphony berhenti. Ya Tuhan! Malaikatku!

Dia mengerang, membuat dunia kehilangan suara, sampai terasa perih sekali di telinga. Jatuh perlahan dengan lutut. Mulutnya masih menganga seperti mencoba menghirup udara, tetapi udara tidak juga menghampiri hidung dan paru-parunya. Mataku benar-benar sedang disiksa!

Tenggorokannya seperti tersedak sesuatu hingga menghasilkan suara yang mengenaskan. “GRRHK … GHRRRK …” Suara yang begitu menyedihkan menyakiti gendang telinga, menusuk pedih sangat di mata. Suara yang seperti nyanyian kematian. Tidak! Aku ingin nyanyian malaikat lagi, bukan nyanyian yang ini!

Tiba-tiba pandangannya berubah sayu. Dia melihatku sesaat, seperti memastikan kalau aku baik-baik saja. Aku melihat cahaya di matanya. Cahaya yang seolah tersenyum setelah yakin aku baik-baik saja. Dan hal itu … Benar-benar membuatku menangis. Ya Tuhan! Jangan siksa aku lagi!  Sakit sekali dadaku ini. Ini terlalu sakit. Aku tidak bisa menahannya lagi.

Dia menengadah, masih mencoba menarik nafas, mungkin untuk yang terakhir kalinya, … lalu jatuh terlentang. Di mataku terlihat pelan. Sangat pelan. Seperti bermenit-menit, seperti berjam-jam. Lalu diam dan mati setelah mengejang sesaat. Tangisku pecah tak karuan. Saat ini aku benar-benar berharap semoga mataku buta untuk sesaat, agar aku tidak melihat kejadian ini tadi.

Argh! Siapapun, lari dan katakan kepada malaikat maut agar jangan membawanya dulu! Kumohon … kumohon …

Nafasku seperti memberontak ingin ikut kemanapun nafasnya pergi. Jantungku ditusuknya dengan dadanya yang tertancap belati.

Tiba-tiba semuanya terasa hitam. Semuanya terlalu hening. Aku tak lagi mendengar apapun, tak lagi melihat apapun.

~

 

Mataku mengerjap pelan. Aku melihat beberapa polisi sudah berada di ruangan. Teman-temanku sudah tidak ada lagi. Dua penjahat itu sedang diangkut sebuah tandu. Seorang, kepalanya tertempus peluru, dan seorang lagi tiga lubang di sekitar dada.

Lalu aku melihatnya. Dia masih tergeletak dengan belati di dadanya. Pucat, berdarah, dengan bibir yang mulai membiru. Beberapa polisi melewati dan melompati jasadnya. Seperti manusia tak dikenal dan tak dibuang. Seperti seseorang yang harus diangkut terakhir kali, bahkan lebih terakhir dari dua penjahat itu. Hatiku mendadak perih melihatnya diperlakukan seperti itu.

Aku tergugu, terisak. Aku seperti sudah mati. Mulutku membuka, tanganku menggapai begitu saja. Aku ingin bersuara, “Tolong dia … tolong dia …,” tetapi tidak ada satu katapun yang keluar.

Ketika seorang polisi melompati jasadnya lagi, aku menjadi teringat ketika pendengaranku menangkap nafas-nafasnya yang terakhir. Sesak, tersengal, … mengenaskan! Hidungnya saat itu tak mendapat udara setitikpun. Seperti suara denting menakutkan. Benar-benar menyakiti dadaku.

Tangisku memuncak. Badanku lemas semuanya.

Seorang polisi wanita merangkul pundakku dan menuntunku keluar dari ruangan itu sambil berkata, “Semua sudah berakhir manis, semua akan baik-baik saja.”

Aku menggeleng kepala pelan. Aneh, suaraku kini terdengar, meski terlalu lirih. “Justru semuanya baru dimulai ketika dia, seorang lelaki tak bernama, datang di hatiku sekarang. Mungkin untuk selamanya. Dan semuany tidak akan baik-baik saja, karena dia, seorang lelaki tak bernama, pergi dari kehidupanku sekarang. Yang ini pasti selamanya.” Lalu aku terisak.

Aku menggapai ke arah malaikatku yang mati lagi untuk meminta polisi itu mengangkat jasadnya dari situ. Aku tak akan sanggup melihatnya lagi. Tetapi tak ada suara yang keluar dari mulutku. Aneh, aku kembali tak bisa bersuara.

Polisi itu memperhatikan tindakanku, tapi dia tetap tak mengerti.

Aku melihat lelaki itu lagi. Masih tergeletak di sanam masih tidak dipedulikan. Sekali lagi seorang polisi melompati jasadnya. Aku kembali nyeri.

“Do you have a name, my angel? My broken heroes?” Kata suara hatiku, tetapi dia pasti tidak bisa mendengar.

~

 

Aku melihat tubuhku tergeletak di sana dengan belati menancap di dada. Masih tak berharga, masih tak dipedulikan, masih tak mempunyai arti.

Lalu aku mencarinya, gadis yang perasaanku padanya tak bisa kugambarkan melalui kata. Di mana dia? Apakah dia baik-baik saja?

Aku melihatnya sedang dituntun seorang polisi wanita ke sebuah mobil ambulan. Sesaat aku seperti melihat tangannya mencoba menggapai ke arahku seolah-olah mengkhawatikanku. Ah, tidak mungkin. Aku pasti terlalu berkhayal tentangnya. Lagipula aku sudah mati. Yang penting dia baik-baik saja. Syukurlah …

Aku melihatnya tak berkedip, lalu melihat jasadku yang tergeletak tak berharga. “Seorang gadis yang perasaanku kepadanya tak tergambarkan, tetap hidup, … dan pecundang sepertiku mati. Hmmm, sepertinya pertukaran yang cukup adil. Sangat adil.”

Mobil ambulan lalu membawanya pergi dengan sirine yang mengaung. Dan aku, seorang pecundang, … di sini sendiri. Mati. Mungkin memang sudah takdirku untuk selalu sendiri. Bahkan ketika mati.

12:46 9/2/2008 - 8 comments - [ post comment ]
   

Aira, Rabu 23 September 2006

 

 

 

            Mustahil!

            Tidak mungkin ada seseorang yang melebihi apa yang kubayangkan. Tidak mungkin!

            Tapi kenyataannya, setelah kulihat lagi, kau benar-benar ada di sana. Kau benar-benar sedang berbicara dan bercanda. Tersenyum dan tertawa. Yang lebih mengagumkan lagi adalah kau … cantik luar biasa!

            Aku harus bagiamana menggambarkan tentangmu? Bagaimanapun gambarannya, aku yakin tidak akan sedikitpun bisa mendekatimu. Karena aku tahu, kau tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kata-kata itu sampah ketika berhadapan denganmu. Puisi-puisi itu menjadi sekedar pasir yang tak berguna bila menceritakan tentangmu.

            Tidak! Aku jamin, kau lebih dari itu.

            Tetapi mungkin aku sedang bermimpi. Mungkin aku berkhayal tentangmu. Mungkin kamu adalah seorang kekasih imajinasiku, yang kemudian sekarang menjelma sempurna sampai tak ada cela.

            Tetapi lagi-lagi bukan. Kamu ada! Kamu nyata! Dan sekarang sedang ada di depanku.

            Semoga degub di hatiku tidak terdengar di telingamu, karena aku mendengarnya sangat keras.

            DEG! DEG! DEG!

            Sampai terasa memukul paru-paru sekali. Sampai terasa mendepak dada sekali.

 

 

            Aira, 26 September 2006

 

 

 

            Sebenarnya, malam ini, ada yang harus kuselesaikan. Tetapi sesuatu mencegahku. Sesuatu yang bernama Rhea …

            Ya, kamu. Siapa lagi?

            Kamu benar-benar tak punya sopan santun. Kau tiba-tiba saja datang menggelayuti pikiranku. Padahal aku sedang membutuhkannya saat ini untuk tetap sadar.

            Aku mabuk!

            Aku benar-benar mabuk!

            Bukan! Bukan karena minuman atau obat. Sepertinya kecanduan tentangmu.

            Ah, Lupakan.

            Mungkin ini hanya karena kemabukanku sehingga aku meracau tak karuan.

 

 

Aira, 30 September 2006

 

 

 

            Apa kau mempunyai semacam sihir?

            Tidak? Tetapi mengapa aku seperti sedang tersihir? Mengapa segala sesuatu tentangmu membuatku indera-indera tubuhku menjadi sangat tajam?

            Kau pasti punya semacam sihir! Pasti!

            Sihir di senyummu, di matamu yang teduh, di rambut hitammu. Semuanya! Semua bagian tubuhmu pasti mempunyai sihir.

            Jangan kelabui aku! Pasti ada mantera bukan? Pasti ada?! Jangan bohong!

            Tetapi kalau itu sihir, kenapa semuanya juga mengagumimu? Kenapa semuanya seperti tak pernah berhenti membicarakanmu? Apa mereka tak tahu, hal itu membuatku tersiksa habis? Apa mereka tidak tahu, namamu benar-benar membuat dadaku kehilangan ketenangannya sampai dia mendepak-depak dadaku tak karuan?

            Dan aku masih diam. Dan aku tak berhenti juga takjub. Benar-benar takjub.

 

 

Aira, 5 Oktober 2006

 

 

            Aku masih terengah-engah sampai sekarang.

            Di tangga itu, aku benar-benar kehilangan mukaku. Aku seorang pengecut! Aku seorang pecundang! Pecundang besar!

            Kamu di depanku. Benar-benar di depanku! Bahkan kita berhadapan dan berpapasan. Dan aku tak melakukan apapun! Apapun!

            Sial! Aku ingin menghancurkan dunia sekarang.

            Kenapa? Karena aku malu. Sangat malu. Kepadamu, kepadaku sendiri, kepada seluruh dunia. Termasuk anak-anak tangga dan dinding-dindingnya. Mereka melihat kita ketika berpapasan. Mungkin juga mereka sampai sekarang masih mencaci aku habis-habisan.

            “Aira seorang pecundang! Ha..ha..ha.. Aira seorang pengecut! Ha..ha..ha..” Aku mendengar suara-suara itu sekarang. Sungguh, aku benar-benar mendengar suara itu. Suara dinding dan anak tangga yang sedang mengolokku.

            Padahal, jika mereka tahu. Pada saat itu aku benar-benar ingin menyapamu. Menyapa paras yang tak bisa aku lupakan. Untuk tersenyum kepadamu atau sekadar menyapa lewat isyarat mata.

            Tapi cinta benar-benar membuatku tak berkutik. Dia kurang ajar dan sok jagoan. Seenaknya saja membuatku gugup ketika berpapasan denganmu. Sedemikian gugupnya sampai aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Sampai aku tak mengerti bagaimana caranya untuk mengulum sebuah senyum atau sebuah sapaan untukmu.

            Sial! Sial!

 

                                                                        ---------------

 

Rhea, 5 Oktober 2006

 

 

 

            Kita tadi berpapasan di tangga Aula perumahan wilayah kita. Apa kamu tahu? Apa kamu menyadarinya? Kenapa kau sama sekali tidak melihatku? Padahal aku pada saat itu terus melihatmu dengan sebuah pengharapan besar. Harapan bahwa saat kita sudah semakin dekat, kau akan tersenyum kepadaku dan menyapaku.

            Tetapi aku karam. Aku tenggelam. Siapapun tolong aku!

            Kamu hanya berjalan cepat menuruni tangga itu dan melewatiku. Tanpa melirikku sama sekali! Bayangkan itu!

            Bagaimana bisa kau tidak melihatku? Kamu sombong! Kamu angkuh! Benar-benar angkuh!

            Tetapi kamu, tetap aku kagumi.

 

                                                     ---------------------

 

            Aira, 5 Desember2006

 

 

 

            Rambutmu lebih panjang sekarang. Tetapi, jujur, rambutmu yang sampai menyentuh punggung itu semakin membuat hatiku berantakan.

            Kamu tahu, sewaktu aku ke rumahmu tadi, pada hakekatnya jantungku sudah berdebar sedemikian besar. Meski kedatanganku ada perlu dengan ayahmu, tetapi bagaimanapun juga itu rumahmu. Rumah milik sebuah wajah yang tak berhenti mengganggu tidurku. Rumah seseorang yang tak berhenti kukagumi. Rumahmu.

            Saat itu juga aku berpikir, mana yang kuinginkan? Apakah kamu ada di rumah atau tidak? Kalau kamu sedang berada di rumah dan bertemu denganku, aku takut salah tingkah. Dan bila kamu tidak ada di rumah, sebenarnya aku ingin melihatmu.

            Dan kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya? Apa yang kutakutkan benar-benar terjadi. Kamu ada di rumah! Bukan! Bukan aku tidak menginginkannya, tetapi justru aku sangat menginginkannya sedemikian rupa sampai aku takut akan bertingkah janggal karena melihatmu.

            Dan ternyata benarlah. Semoga saja kau tidak melihat gelagatku saat itu. Semoga gelap malam menutupinya dari matamu.

            Sewaktu aku tadi memasuki rumahmu, dan yang pertama kali keluar adalah kamu, Ya Tuhan, Aku kehilangan nafasku! Sungguh, aku tidak bohong, karena aku merasa sesak saat itu. Dan apa kataku selanjutnya? Diam. Benar, diam untuk sekian detik lalu sebuah kata muncul dari bibirku. Dari sekian ribu kosakata bahasa Indonesia yang kuketahui, aku lupa semuanya! Yang terlintas saat itu hanyalah, bahwa tujuanku saat itu adalah menemui ayahmu. Sehingga kata yang terucap hanyalah, “Bapak?”

            Sebenarnya apa yang sudah membuatku sedemikian rupa? Apakah rambutmu yang semakin panjang itu? Sehingga membuat wajahmu kelihatan semakin cantik dan bertambah dewasa? Sepertinya bukan. Karena pada dasarnya, menurutku, memang kamu sejak dulu sangat cantik. Apakah karena sudah lama kita tidak bertemu, sehingga aku menjadi sangat gugup? Bukan juga. Karena aku selalu gugup bila bertemu kamu. Sejak dulu demikian. Lalu apa?

            Entahlah. Entahlah. Aku tak bisa menjawabnya. Yang jelas. Aku yakin malam nanti aku pasti tidak bisa tidur. Benar-benar tidak bisa tidur.

            Dan yang terjadi di otakku mungkin hanya suara-suara yang berteriak untuk mendatangkan wajahmu ke imajainasi. Sepanjang malam. Sepanjang malam.

 

                                                            --------------------

 

Rhea, 15 Desember 2006

 

 

 

            Ya Tuhan, aku masih berdebar sampai sekarang. Ya Tuhan, aku masih gugup sampai sekarang.

            Berapa lama kita bertemu malam tadi? Sedetik? Sepuluh detik? Dua puluh detik? Berapapun, tetap saja, aku merasa senang hati.

            Berapa lama aku tidak berjumpa denganmu? Tepatnya dua bulan sepuluh hari. Aku menghitungnya. Aku selalu menghitungnya, sejak kamu tak belajar di sini lagi.

            Dan tiba-tiba, kamu datang, dengan minim suara, ya, tentu saja minim. Kamu hanya mengucapkan,”Bapak?”

            Jadi jauh-jauh kamu datang sendiri hanya untuk mencari ayahku? Padahal ketika melihatmu itu jantungku sedang jatuh seketika. Ah semoga remang malam menutupi betapa aku kehilangan kesadaran saat itu. Sejak kau masih di luar, dan aku keluar rumah, aku sama sekali tidak menyangka bahwa yang datang adalah seseorang yang sering menggangggu tidurku. Seseorang yang namanya selalu menggetarkanku. Seseorang yang selalu menyengat keingintahuanku tentang keadaanmu.

            Sungguh, waktu itu, aku benar-benar terpaku. Untuk menggerak-gerakan jariku saja aku seperti kepayahan. Ah, semoga kau tidak melihatnya. Benar-benar, sekian lama aku tak bisa bersuara. Setelah itu aku tak tahu apa yang kulakukan. Tiba-tiba saja, aku sudah berada di dalam rumah dan aku mendengar suaramu sedang berbincang dengan ayahku.

            Sampai sekarang aku masih belum ingat kapan kau masuk, dan kapan ayahku menemuimu.

            Ya Robbi, aku ingin melihat kamu lagi waktu itu. Maka aku bertekad untuk membuatkan air minum untukmu dan seorang temanmu itu. Aku mulai mengaduk dan membuat minum. Aku membuatnya sangat hati-hati sekali. Aku takut kamu tidak suka dengan minuman buatanku.

            Tetapi belum juga selesai aku membuatnya, aku mendengar kamu berpamitan. Sebentar sekali kamu datang ke rumahku. Aku ingin kau lebih lama lagi di sini. Satu jam, dua jam. Pokoknya lebih lama lagi.

            Seketika kamu keluar rumah, aku berlari sekencang-kencangnya ke jendela demi melihatmu dengan sembunyi-sembunyi.

            Rambutmu lebih pendek sekarang. terakhir aku melihatmu, rambutmu hampir menyetuh pundak. Tetapi sepertinya kamu lebih kurus. Ada apa? Kamu punya masalah? Seandainya kamu mau mengajak omong aku. Aku akan membantumu sebisaku. Meski aku memintaku meninggalkan kekasihku yang sekarang ini. Satu kalimat saja darimu, maka detik berikutnya aku akan memutuskan kekasihku yang sekarang. Ini bukan main-main. Ini bukan main-main.

 

                                                            ----------------------

 

Aira, 23 Desember 2006

 

 

 

            ARGHHHHHH!

            Aku pusing! Kepalaku seperti sedang diremukkan! Jangan memukuliku! Kumohon! Hentikan suara-suara itu!

            Mengapa!? Mngapa terjadi demikian?! Mengapa kau sudah memiliki kekasih?

            Hentikan! Jangan bersuara lagi.

            Maaf Rhea, suara itu datang lagi.

 

                                                            ---------------------

 

Rhea 31 Desember 2006

 

 

 

            Melihatmu di podium itu, aku … tak bisa bergerak.

            Sungguh! Kau benar-benar membuatku terpaku. Sampai aku hanya melihatmu yang sedang bersuara lantang. Dangan mata tajammu yang seolah membuat semua mata tertunduk. Benar-benar tertunduk.

            Aku tak mengerti yang terjadi. Mengapa badanku sedemikian lemas saat ini? Mengapa aku tak berkuasa menggerakkan satu bagian tubuhku pun? Mengapa mereka semua memberontak kepadaku? Ada apa ini?

            Selama ini aku berpikir tidak mungkin! Tidak mungkin apa yang teman-temanku katakan tentangmu itu benar dan jujur. Bagiku mereka berlebihan. Mana ada manusia sesempurna yang mereka katakan itu? Mereka sepertinya melebih-lebihkannya. Mereka bukan memujimu, menurutku mereka memujamu. Benar-benar memujamu.

            Hah. Menggelikan!

           

            Sebentar, sebentar. Sekelebat tadi wajahmu datang. Aku jadi kepayahan karenanya. Biarkan aku mengambil nafasku dulu, karena tatapan matamu yang sekelebat tadi sesaat merampoknya dariku. Dan tatapan itu kemudian menghunjam jantungku dalam. Sangat dalam sampai aku tak bisa merasakan jantungku lagi meski sekian detik.

           

            Sudah dulu … sebentar … aku masih sesak nafas …

           

            Tolong! Jangan datang lagi dulu. Karena aku tak bisa berpikir jika kau lakukan itu. Datanglah lagi setelah kuselesaikan menulis buku harianku ini. Setelah itu terserah bayanganmu mau apa. Karena sepertinya aku tak mempunyai kekuasaan atas pikiranku itu. Sepertinya semua hanya ingin mengikutimu.

            Huf!

            Mungkin apa yang mereka katakan, tidak terlalu berlebihan tentangmu. Bahkan menurutku sangat kurang sekali. Menurutku, kamu lebih dari itu. Dua kali lipat!

           

            Aduh! Bayanganmu datang lagi.

            Sudah berhenti dulu … aku ingin menikmatinya… 

 

 

            Rhea 9 Januari 2007

 

 

 

            Beberapa hari ini aku tidak melihatmu. Kamu kemana? Kamu sedang apa? Aku menyelidik diam-diam dengan memandang bibir semua sahabatmu yang kuharap sedang  membicarkanmu. Nihil. Aku tidak mendengar apapun dan tidak mengetahui apapun.

            Lalu tiba-tiba aku mendengar kabar, kamu pindah kos. Aku terhenyak. Wajah itu, apakah aku akan melihatnya lagi? Senyum itu, meski tidak pernah untukku, apakah bisa menemui hatiku lagi? Agar hatiku itu bergetar. Agar jantungku itu merasa senang.

            Mengapa? Mengapa kamu tidak tetap di daerah sini saja? Mengapa harus pindah cukup jauh? Apa kau tidak tahu, di sini ada seseorang yang selalu merasa begitu bersemangat ketika melihatmu? Apa kamu tidak tahu, bagaimana jiwaku sedang menggelepar sekarang?

            Aku sering bercerita dengan kakakku tentangmu. Kami sama-sama perempuan, dan kami sama-sama senang ketika berbicara tentang kamu. Ini bukan persaingan. Hanya saja kami berdebar setiap kali melihatmu. Pernah, saat itu, kami melihatmu dengan seorang teman, berjalan di dekat jalan rumah kami. Kami bersembunyi di bawah pohon rumah kami, kamu tahu, pohon depan rumah itu. Lalu kami saling berbisik dan tertawa sambil membicarakan detil tentang kamu. Kami amati satu persatu wajah kamu. Rambutmu yang hitam, alismu yang tebal, matamu yang tajam, semuanya. Tidak ada yang terlewatkan dari kamu.

            Dan sekarang kamu mau pergi? Ho ho, selamat tinggal kekaguman, selamat tinggal hati yang berdebar. Karena semua yang menyebabkan kalian ada sudah pergi dari sini. Entah kapan lagi bisa menemuinya lagi.

 

 

           

Rhea 16 Januari 2007

 

 

 

            Kamu tidak kelihatan hari ini. Ada apa? Apa kamu sakit? Apa kamu tidak enak badan? Ada apa? Kepada siapa aku harus bertanya tentang keadaanmu? Mengapa kamu susah sekali diketahui? Kenapa kamu misterius sekali?

            Aku sangat khawatir saat ini. Aku benar-benar khawatir. Otakku seperti sedang dipukuli oleh suara-suara tak mengenakkan. Hatiku seperti ditendang-tendang kekuatan terkutuk, karena tidak mengetahui keberadaanmu. Dan kau, begitu angkuhnya tak peduli. Dan kau, begitu egoisnya tanpa memperhatikan kekhawatiranku. Ada apa dengan kau ini?

            Apa aku tidak berarti? Apa namaku tidak bersembunyi di celah-celah hatimu? Meski setitik? Meski sekecil apapun?

            Kumohon. Aku hanya ingin kamu memperhatikanku. Itu saja tidak lebih.

            Aku hanya ingin kau menyapaku. Itu saja. Tak kurang.

            Dan kau hari ini malah menghilang. Aira! Menyebalkan!

 

 

                                                            ------------------

 

Aira 16 Januari 2007

 

 

            Aku melihatmu dari jauh … Semoga kau tidak merasakan keberadaanku.

            Aku harus pergi. Ini terakhir kalinya aku melihatmu. Aku ingin mengungkapkan betapa aku sangat ingin memelukmu saat ini, betapa aku ingin kau menatapku dan aku menatapmu, lalu kita mengucapkan selamat tinggal.

            Sepertinya tidak mungkin. Kamu sudah punya kekasih. Lagipula tidak mungkin kamu mencintaiku. Siapa aku? Aku hanya seorang anak pedagang buku. Siapa kamu? Kamu adalah anak pejabat dengan mobil lebih dari satu. Hah!

            Selamat tinggal Rhea!

                                                                                                                                                                               

 

09:48 5/2/2008 - 3 comments - [ post comment ]
 

DUA HAL YANG HARUS DIINGAT DAN DILUPAKAN

 

“Dua hal yang harus diingat,

Kebaikan orang lain kepada kita, dan keburukan kita kepada orang lain.

 

Dua hal yang harus dilupakan,

Kebaikan kita kepada orang lain, dan keburukan orang lain kepada kita.“

(ANONIM)

 

Ketika kita melupakan kebaikan orang lain kepada kita,

Kita sudah menjadi orang yang angkuh dan sombong

Ketika kita melupakan keburukan kita kepada orang lain,

Kita sudah menjadi orang yang kejam dan berbuat dzolim pada diri sendiri,

Ketika kita sudah mengingat keburukan orang lain kepada kita,

Kita sudah menjadi seorang pendendam dan pembenci

Ketika kita sudah mengingat kebaikan kita kepada orang lain,

Kita sudah menjadi orang yang tidak ikhlas dan berharap pujian.

10:55 30/1/2008 - 4 comments - [ post comment ]

Sampai umurnya yang sudah menginjak dua puluh lima tahun ini, hidupnya berjalan sangat biasa. Membosankan! Pergi, pulang, tidur, makan. Begitu saja, berulang setiap hari. Mungkin kadang sedikit bersenang-senang, tetapi hanya kesenangan sementara; seperti pesta, nonton dan sebagainya. Hal itu, jujur, tak bisa membuatnya bahagia.

Tetapi jangan salah paham, sudah belasan, mungkin puluhan lelaki yang merayunya untuk dijadikan istri maupun kekasih. Ada yang setampan Brad Pitt, ada yang milyarder, pejabat, om-om, pemuda seumurannya, pemuda yang lebih muda darinya, bahkan kakek-kakek. Menggelikan bukan? bayangkan kecantikannya sampai para lelaki itu mati-matian mengejarnya. Nihil! Tak ada yang berhasil. Atau setidaknya sampai saat ini.

Sundarti namanya. Mungkin nama itu memang agak kedesaan, tetapi kecantikannya eksotik, sukar ditangkap imajinaasi. Itulah yang menggoda para lelaki ingin memilikinya. Bahkan pernah ada seorang perempuan yang ingin menjadi kekasihnya. Tergila-gila!Tetapi Sundarti mencak-mencak. Menjijikkan! Dia normal, mendamba seorang lelaki dambaan.

Sebenarnya dia tak pernah mengharapkan sosok yang sempurna, karena dia tahu bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini, apalagi menyangkut sesosok makhluk yang bernama lelaki. Tidak Mungkin!

Tampan? Munkin, sesuai dengan kecantikannya. Kaya? Boleh juga. Lumayan untuk jaminan masa depan. Tetapi yang paling diinginkannya hanyalah seorang lelaki yang baik. itu saja. Tidak lebih, tidak kurang. tetapi sepertinya sulit sekali ditemukan. Biasanya kebaikan para lelaki ada maksudnya. Yah, tentu saja kecantikannya dan kemolekan tubuhnya. Apa lagi?

Sampai suatu ketika, di sebuah pagi, dia melihatnya. Benar-benar melihatnya. sampai mengucek mata berulang kali, mungkin salah lihat, batinnya. Tetapi mengucek mata berapa kalipun, hasilnya sama. Lelaki itu nyata. Benar-benar ada!

Mencolok sekali di antara kerumunan manusia itu. Pagi itu memang terjadi sebuah kecelakaan. cukup keras suaranya. Dan di antara kerumunan itu, laki-laki itu berdiri di sana. Berpakaian serba putih.

Maka Sundarti pun segera berlari menuruni tangga apartemennya, sebelum dia hilang. Terengah-engah dia menuruni tangga secepat mungkin. Terlambat! Sampai di sana korban yang ternyata seorang ibu itu sudah di bawa ambulan. Dan leleki berpakaian putih itu tidak ada lagi di kerumunan.

Sundarti menyesal sekali. Seharusnya larinya lebih cepat.

------------------------------

 

Kejadian pagi itu terus mengendap di memori Sundarti. Kerinduan menjelma menjadi keinginan untuk bertemu lagi. Semoga. Laki-laki itu benar-benar menyita waktunya. Selalu datang melalui angan-angan dan mimpi. Sundarti sampai tersiksa karenanya.

Tepat seminggu kemudian, Sundarti melihat laki-laki itu lagi. Kembali mengucek mata. Itu benar-benar dia! Tepat di sana, di seberang jalan. Laki-laki itu sedang membantu seorang buta menyeberang jalan.

Sundarti menginjak rem mobilnya mendadak sehingga berhenti di tengah jalan yang padat. Dia tak berpikir apa pun. Pokoknya hanya lelaki itu yang diinginkannya. Sundarti langsung turun dari mobil untuk menghampiri lelaki yang lagi-lagi berpakaian serba putih itu.

Pengemudi mobil di belakangnya membuka jendela dan berteriak memakin Sundarti. Seorang lelaki setengah baya yang bertampang sadis. Tetapi Sundarti hanya melihatnya sekilas dan berlari menyeberang jalan. Dia tidak mau kehilangan laki-laki itu lagi. Bunyi-bunyi klakson yang memekak tidak karuan tak digubrisnya sama sekali. Dia hanya berlari dan berlari. Itu saja. Peduli apa dengan mobil-mobil itu!

Sundarti sampai di tempat orang buta dengan terengah-engah. Laki-laki itu tidak ada lagi. Ah, lagi-lagi dia terlambat. Lagi-lagi larinya kurang cepat. Sial!

"Pak di mana laki-laki itu?" tanya Sundarti dengan nafas masih terengah.

"Laki-laki? Laki-laki yang mana?"

"Yang mengantar Bapak menyeberang tadi?!"

"Loh, dia laki-laki? Aku kira perempuan. Soalnya parfumnya wangi sekali. Apalagi dia tidak berbicara apa-apa dari tadi."

Sundarti mendengus kesal. Sia-sia berbicara dengan orang buta. Dia mengedarkan pandangan sejauh mata memandang. Tetap nihil. Tak ada laki-laki itu. Malah dia melihat lalu lintas menjadi kacau karena ulahnya. Dia kembali ke mobilnya dengan sangat kesal. Makian atau suitan menggoda tak dipedulikannya. Langsung tancap gas.

---------------------------------

 

Berhari-hari Sundarti tidak bisa tidur sejak pertemuan yang kedua itu. Susah makan juga. Dia tak bisa berhenti memikirkan laki-laki itu. Sombong sekali! Datang dan pergi sesuka hati!

Pekerjaan kantornya menjadi agak terbengkalai. Berkali-kali bosnya yang tua itu memanggilnya. Ah, kupikir tidak hari-hari ini saja. Bos yang bermata jalang itu juga sering memanggilnya selama ini. Dengan alasan macam-macam. Tetapi entah mengapa bosnya bertingkah agak aneh belakangan ini. Kadang-kadang mengunci pintu ruangannya dan duduk di meja berhadapan tepat dengan Sundarti. Kadang-kadang menepuk-nepuk bahu Sundarti dnegan nasehat-nasehat tentang pekerjaan. Sundarti mendengus. Alasan! Mau cari kesempatan kan?

Lama-lama Sundarti mulai bosan di kantor. Bosan dengan tatapan menjijikkan bosnya, bosan dengan rekan-rekan kantornya yang kebanyakan laki-laki, yang selalu mencuri pandang rok pendeknya, bosan dengan lirikan kebencian rekan-rekannya yang perempuan. Semuanya terasa memuakkan. Dia harus pergi dari sini! Dia menuju kantin, di mana dia bisa bebas untuk sementara. Yah, untuk sementara saja. Toh setelah ini dia harus ke kantor lagi.

Kantin tersebut tepat menghadap jalan raya dengan kaca tembus pandang yang sangat lebar. Dan, hei! Dia melihat laki-laki itu!

Laki-laki itu hanya sekitar dua puluh meter darinya, sedang duduk bersandar di kursi pinggir jalan. Mengawasi satu tempat dengan tatapan tajam.

Sundarti terpekik kegirangan. Baru kali ini dia bisa melihatnya sedekat ini. Wajahnya terlihat sangat jelas. Seperti bersinar. Alisnya lebat. Kedua matanya tajam. Dan rambutnya yang lurus agak berombak benar-benar gelap. Kontras dengan kulitnya yang putih. Apalagi dengan pakaiannya yang sepertinya tidak mempunyai persediaan lain selain warna putih.

Tak mau membuang waktu, Sundarti segera menghabiskan kopinya dan keluar dari kantin. Kali ini harapannya sungguh besar. Sangat besar. Karena ini pertama kalinya dia bisa sedekat ini dengan laki-laki itu.

Tiba-tiba seorang perempuan tua menjerit karena kehilangan tasnya. Bersamaan dengan itu, seorang pemuda berjaket hitam berlari ketakutan tepat ke arah laki-laki misterius itu, bermaksud lari ke seberang jalan.

DUG!

Penjambret itu tersungkur. Sundarti melihatnya. Laki-laki pujaannya itu yang menjegalnya.

Lalu orang-orang beramai-ramai mengerubuti pemuda itu dan menangkapnya. Sekali lagi, laki-laki itu menjadi pahlawan di mata Sundarti. Dia semakin menyukainya. Semakin menginginkannya. Andai saja laki-laki itu menjadi milikku seorang, sungguh menyenangkan, batin Sundarti.

Seperti tersadar, Sundarti berlari dan menyibak kerumunan. Matanya nyalang mencari laki-laki itu. Tidak ada! Benar-benar tidak ada! Dia segera menyibak lagi kerumunan tersebut untuk keluar dari sana. Pasti belum jauh.

Matanya nyalang lagi mencari, seperti elang. Bukan, seperti ular. Dan dilihatnya seseorang berjalan dengan tenang ke gang yang lebih sempit. Sundarti berlari mengejarnya. Kali ini harus! Harus tahu di mana dia tinggal! Dia tak berharap untuk menemui pemuda itu dulu. Yang penting tahu tempat tinggalnya dulu. Kalau sudah tahu, bukannkah semuanya lebih mudah?

Sundarti berjalan beberapa meter di belakang laki-laki itu. Mengendap. Semoga laki-laki itu tidak mengetahui bahwa dia sedang diikuti.

Di sebuah gang kecil, laki-laki itu membelok. Sundarti tetap mengikutinya dan bersembunyi tepat di belakang tembok sebelum belokan. Laki-laki itu melihat ke belakang, seolah-olah takut ada yang mengikutinya. Tak ada siapapun.

Hati Sundarti berdebar. Apakah di gang sempit ini dia tinggal? Sundarti mengintip perlahan. Matanya terbelalak. Mulutnya melongo. Dia seperti tak percaya dengan penglihatannya. Ini bukan nyata! Berulang kali dia bergumam. Tetapi berulang kali pula matanya meyakinkan bahwa itu memang nyata.

Saat Sundarti mengintip tadi, tiba-tiba dari balik punggung laki-laki itu keluar sepasang sayap. Pelan. Sangat pelan. Merobek pakaian belakangnya, lalu sayap tersebut terus melebar. Sepasang sayap putih dan halus. Lebih halus dari sayap merpati. Ukuran masing-masingnya sebesar manusia dewasa. Sesaat kemudian sayap itu mengepak sampai wajah Sundarti seperti di terpa angin kencang. Laki-laki itu memandang langit, dan perlahan tubuhnya terangkat sedikit demi sedikit. Semakin tinggi dan tinggi. Lalu hilang.

Sundarti masih termangu. Matanya terus melotot. Nafasnya memburu. Makhluk apa itu? Siapa dia?

Disandarkan punggungnya ke tembok pelan. Mengatur nafas lalu meninggalkan tempat itu. Kadang dia menggelengkan kepala pelan dan bergumam entah apa.

-----------------------------------------------------

 

Sundarti bermimpi lagi. Hampir setiap hari sejak peristiwa itu dia terus bermimpi. Matanya merah. Wajahnya agak kusut. Pekerjaannya cukup kacau. Hal itu makin membuat bosnya sering memanggil Sundarti untuk menghadap. Bosnya mencoba mengambil kesempatan lagi dengan menepuk bahu Sundarti berulang dan wajahnya semakin mendekat. Tetapi kali ini Sundarti menghindar. Dia mendesis dan melotot. Tatapannya seperti berkata, ‘Jangan ganggu aku!’ atau ‘Tinggalkan aku sendiri!’. Lalu Sundarti pergi dari ruangan itu meninggalkan bosnya yang melongo. Dibantingnya pintu sampai membuat rekan-rekannya keheranan.

Dia membolos sejak itu dan mengendarai mobil tanpa tujuan. Hanya pergi. Itu saja keinginannya. Lepas dari semuanya. Mungkin lepas dari hidupnya juga.

Entah kebetulan, entah bukan, Sundarti melihat laki-laki itu lagi. Berjalan dengan tenang meninggalkan kerumunan di belakangnya. Apa lagi yang dia lakukan kali ini?

Lagi-lagi Sundarti menghentikan mobilnya mendadak. Untungnya kali ini jalanan cukup sepi, dan dia sempat menepi terlebih dahulu. Dia berlari ke bagasi dan mengambil sesuatu yang panjang dan terbungkus kertas koran. Entah apa. Lalu dia berlari mengejar laki-laki itu. Harus terjadi! Harus!

Laki-laki itu berkelok ke jalan sempit. Sundarti masih menguntitnya dan berhenti sebelum kelokan. Laki-laki itu kembali menengok ke belakang, memastikan tak ada orang yang melihatnya. Saat sepasang sayap keluar lagi perlahan dari punggungnya, tiba-tiba Sundarti berlari kearah laki-laki itu dan …

CRASH! Darah muncrat!

CRASH! Sekali lagi benda yang dibawa Sundarti, yang ternyata sebuah pedang itu menebas begitu saja.

Laki-laki itu mengerang. ARGH! Wajahnya kesakitan. Dia terjatuh. Matanya berkunang-kunang. Punggungnya terasa sakit. Sundarti menyerang dari belakang. Laki-laki itu tergolek lemah. Dia melihat sepasang sayapnya putus. Rupanya Sundarti memotong keduanya. Lalu semua hitam.

 

--------------------------------------------

 

Laki-laki itu terbangun. Punggungnya masih terasa nyeri. Matanya mengerjap. Dia berada di sebuah ruang gelap dan pengap. Di mana ini?

"SAYAPKU! SAYAPKU!" Tiba-tiba dia berteriak.

Dia menjerit berulang sampai lemas, lalu disandarkan punggungnya ke tembok. Dia meringis sebentar menahan sakit.

Suara langkah kaki. Laki-laki itu menjamkan telinganya. Ada yang datang!

Pintu terbuka pelan. Laki-laki itu merasa matanya terluka oleh cahaya yang tiba-tiba masuk. Terasa menyilaukan. Sangat menyilaukan. Seorang perempuan berdiri di sana. Cantik sekali! Berkulit putih, berambut hitam. Matanya yang bening mengerjap berulang. Perempuan itu tersenyum.

"Siapa kamu?" kata laki-laki itu serak. Nyeri di punggungnya masih agak terasa.

"Aku Sundarti. Dan kamu adalah kekasihku." Kata perempuan itu tersenyum jenaka.

Laki-laki itu terbelalak tak percaya. Jadi, perempuan ini yang memotong sayapnya?

"Kenapa kau memotong sayapku?"

"Seharusnya aku dulu yang bertanya. Kenapa kau mempunyai sayap? Siapa kamu?"

"Aku tidak bisa mengatakannya kepadamu?"

"Kenapa?"

"Karena rahasia."

"Baik. Kalau begitu, kamu harus tinggal di sini selamanya. Oke?" Sundarti tersenyum lalu bermaksud keluar.

"Tunggu!" Cegah laki-laki itu. "Aku ini … malaikat."

Sundarti menatap lagi laki-laki yang sedang bersandar itu. Dia tidak kaget. Dia sudah menduganya ketika melihat laki-laki itu mengeluarkan sayap untuk pertama kalinya.

"Malaikat? Lalu kenapa orang-orang bisa melihatmu? Termasuk aku?"

laki-laki itu menggeleng. "Tidak mungkin orang-orang itu melihatku. Tetapi entah kenapa kamu bisa melihatku."

"Tetapi aku sudah melihatmu tiga kali!" Sundarti bersikeras. "Waktu kecelakaan itu, lalu waktu kamu menyeberangkan orang buta dan waktu kamu menjegal penjambret itu."

Laki-laki itu mendesis. Jadi perempuan ini sudah melihatnya sebanyak itu?

"Mereka tidak melihatku. Tugasku adalah menyelamatkan orang yang seharusnya belum mati. Seperti korban kecelakaan itu. Dan laki-laki buta itu, kalau tidak kuseberangkan, seharusnya ada seorang gaadis yang menyeberangkannya. Dan kalau itu terjadi, pria buta itu akan ditabrak sebuah mobil."

"Jadi itu tugasmu? Lalu penjambret itu? Kamu yang menangkapnya kan?"

"Aku tidak bermaksud menangkapnya. Aku hanya mencegahnya menyeberang jalan. Karena akan ada sebuah bis dengan kecepatan tinggi. Padahal waktu itu belum saatnya mati. Jadi aku menjegalnya agar dia selamat."

"Jadi benar kalau mereka bisa melihatmu bukan?"

"Tidak. Tidak sama sekali. Ibu yang kecelakaan itu, sepersekian detik setelah kecelakaan, aku yang memberi nafas bantuan sampai ada orang yang menggantikanku hingga dia selamat. Semuanya tidak melihatku. Lalu pria buta itu, kamu lupa ya? Dia kan buta?! Dia hanya merasakan sentuhan kulitku. Dan penjambret itu, dia tidak melihatku. Dia pasti hanya merasa seperti tersandung sebuah batu atau semacamnya." Laki-laki itu meringis lagi.

"Kenapa kau memotong sayapku?" Laki-laki itu berkata lirih. Matanya mengiba akan sebuah jawaban.

Sundarti mengangguk ringan. "Bukankah sudah aku bilang, kau sekarang kekasihku. Aku ingin kau selalu bersamaku."

Laki-laki itu ternganga. "Tetapi kenapa?"

"Aku tak tahu. Aku hanya ingin kau selalu di sini. Aku tak ingin kau pergi dariku. Itu saja. Sudah! Jangan bertanya lagi!"

"Tapi aku malaikat dan kamu manusia."

"Lalu kenapa?"

"Kita bukan sepasang."

"Lalu kenapa?" Sundarti bersikeras. Dia benar-benar keras kepala.

Laki-laki itu menangis. Terisak. Lupa dengan luka di punggungnya. Lupa dengan nyeri bahwa dia tak bersayap lagi.

"Teman-temanku akan datang dan membebaskanku dari sini." Laki-laki itu mengancam.

"Lalu? Akan kubunuh mereka semua! Tidak boleh ada yang mengambilmu dariku, mengerti?!" Sundarti melotot.

"Dan jangan coba-coba kabur dari sini! Aku akan melakukan apapun untuk menangkapmu lagi! Dan ingat, aku sudah berani memotong sayapmu, maka aku bisa melakukan lebih dari itu. Jelas? Aku hanya ingin kau terus di sini, menemaniku. Bahkan aku akan menyiksamu bila perlu. Kalau itu satu-satunya cara agar kau tetap di sini. Mengerti?"

Sundarti pergi dari ruangan gelap itu dengan tenang.

"Aku akan ke kantor dulu. Sampai sore nanti!" serunya ringan. Dia tersenyum bahagia.

Laki-laki itu meneelungkup. Berteriak. Menggeletar.

"ARGGGGGGGGGH!"

- ----------------------------------------------------------------------

TAMAT

NB: Tolong kasih saran dan kritik ... Makasih ...

13:03 21/1/2008 - 2 comments - [ post comment ]

SEBUAH KISAH ...

 

Sebuah kisah. Tentang sesuatu bernama hati.

Yang mengalir terus. Mencari sesuatu, semuanya. Cinta, kebenaran, kenyamanan, keamanan, keluarga dan sahabat.

 

 

 

Sebuah kisah, tentang jiwa.

Yang terbang dengan sayapnya meski kadang terluka dan patah. Sampai nyaris jatuh berkali-kali. Mengunjungi jiwa yang satu ke jiwa yang lain. Mencari kedamaian. Beberapa jiwa memang mendamaikan. Jiwa-jiwa itu ku beri nama sahabat. Dan bagi jiwa yang kurang memberi damai tetapi memberi warna, kuberi nama teman. Sedang untuk jiwa yang kukunjungi dan memberi luka, kuberi nama teman yang asing.

 

 

Sebuah kisah, tentang pikiran.

Yang menyelam sangat dalam mencari kejernihan. Tetapi sering kutemukan kekeruhan. Mesum, prasangka buruk, fitnah, dan semacamnya. Ketika kutemukan yang jernih, maka yang keruh akan memberi sugesti kepadaku bahwa kejernihannya palsu. Membawa-bawa agama, katanya. Mentang-mentang berjenggot dan berjubah, hardik mereka. Mentang-mentang berjilbab besar berwarna putih, suara mereka. Pikiran ingin menyelam semakin dalam. Tetapi yang di temui lebih banyak kejernihan daripada kekeruhan.

 

 

 

Sebuah kisah tentang seseorang.

Seseorang yang berhati egois dan pemalas. Seseorang yang menganggap enteng semua hal dan sering menunda-nunda waktu. Seseorang yang punya keinginan dan mimpi-mimpi yang sangat besar tetapi kemauannya kecil. Seseorang yang memiliki sangat banyak sekali kekurangan di antara secuil kelebihan. Seseorang yang berwujud seperti aku. Ya Tuhan! ….. Itu memang aku!

 

 

 

 

13:01 21/1/2008 - 4 comments - [ post comment ]

WAWANCARA DENGAN TUHAN


Aku bermimpi bahwa aku sedang wawancara dengan TUHAN

 

“Jadi kamu ingin mewawancarai SAYA?“ Tuhan bertanya

 

“Jika TUHAN mempunyai waktu,“ jawabku

 

TUHAN tersenyum,
“Waktuku abadi ...
… apa yang ada di pikiranmu yang ingin kau tanyakan pada KU?”

 

“Apa yang paling mengejutkan TUHAN tentang kehidupan manusia?”

 

Tuhan menjawab
“Bahwa mereka terlalu cepat bosan tentang masa kanak-kanak,
Terburu-buru dalam masa pertumbuhan,
dan lalu merindukan kembali menjadi anak-anak.“
“Bahwa kesehatan mereka hilang hanya untuk mencari uang ...
dan kemudian menggunakan uang itu untuk mengembalikan kesehatan mereka lagi.“
“Bahwa karena terlalu berpikir tentang masa depan,
mereka melupakan masa sekarang,
seolah-olah mereka tidak hidup di masa sekarang dan masa depan.“
“Bahwa mereka hidup seolah-olah tak akan pernah mati,
dan mereka mati seolah-olah belum pernah hidup di dunia ini.“

 

Tuhan mengambil tanganku
dan kami diam untuk beberapa saat

 

Lalu aku bertanya,
“Tentang para orang tua, pelajaran hidup apa yang ingin TUHAN ajarkan kepada para anak-anak mereka?“

 

“Untuk belajar bahwamereka tidak bisa melakukan apapun supaya mereka bisa dicintai,
yang bisa mereka lakukan adalah membiarkan diri mereka untuk dicintai.“
“Untuk belajar bahwa tidak baik membandingkan diri mereka sendiri dengan orang lain.“
“Untuk belajar memberi maaf dengan berlatih memaafkan.“
“Untuk belajar bahwa dibutuhkan beberapa detik untuk