penulis
  Advanced Search
Home    Search    Chat     Events     Forum     Direktori     Invite    Help Signup    Login

Writers Comunity and Writing resources, news and discussion for authors / writers, editors, and publishers



Free Web Hosting with Website Builder

12:32 15/11/2008 - 3 comments - [ post comment ]

apakah aku menyakitimu jika aku tidak cinta kamu?

apakah aku menyakitimu jika aku hanya sayang kamu?

apakah aku menyakitiku ketika aku menikmati cintamu?

apakah aku menyakitimu ketika aku nyaman dengan sayangmu padaku?

apakah aku menyakitimu jika aku ingin kita hanya berjalan sewajarnya tanpa beban?

apakah aku menyakitimu ketika aku bilang aku tak ingin menyakitimu?

 

hari-hari penuh kebingungan

 

17:46 21/10/2008 - 2 comments - [ post comment ]
idem sama judul.....
16:48 10/10/2008 - 10 comments - [ post comment ]
Filed under: Lain-lain

Cahya  berlari-lari keluar pintu kelas membuntuti Siswanto.

 

‘Sis, mau kemana sih? Ikut dong.’

‘Ayo, aku mau ke kantin lapar nih.’ Jawab Sis singkat.

‘Yaaah ke kantin. Kirain…’ Cahya berhenti mendadak dan manyun, Sis otomatis juga berhenti mendadak.

 

‘Eh, memangnya  kenapa? Kirain mau kemana gitu? Hayooo…mau ketemu  Eko ya? Hu… bocah kok pacaran wae…hehehhehe.’

 

Sis  terkekeh menggoda sahabat sekelasnya itu. Cahya melengos tersipu dan cepat-cepat lari menjauh.

 

‘Enggak, bukan kok, aku kirain tadi kamu mau ke ruangan OSIS. Daah…Sis.’

 

‘Aya..hoi... mau kemana?’ sebuah suara lantang membuat Cahya berbalik dan senyum cerah muncul di wajah manis berlesung pipi itu.

‘Eko! Sini…’

‘Nggak bisa, aku lagi dihukum sama Pak Guru nih. Kamu aja yang kesini.’ Jawab Eko dengan agak berteriak karena jarak mereka cukup jauh.

 

Cahya berjalan cepat kearah kelas Eko di seberang lapangan. Rambut legamnya yang lurus sepinggang bergoyang tertiup angin siang yang terik.

 

‘Kamu dihukum kenapa Ko?’ tanya gadis itu sambil mendekati  remaja pria tegap dan berambut agak gondrong  yang sedang tersenyum jahil didepannya.

‘Hehe, ketahuan bawa rokok je di tasku. Ini lagi disuruh ngabisin semua sekaligus.’

 

Lelaki hitam manis itu menggeser duduknya memberi tempat  pada Cahya.

 

‘Ih parah kamu ya?  Ketua OSIS kok kerjaannya dihukum terus.’ Jahil Cahya sambil duduk di sebelah Eko.

‘Eh kapan? Enggak ah, cuma sekali ini kan? Yaa..sama yang harus potong kuku pake gunting segede gunting rumput itu aja kan? Hahaha.’

 

Mereka berdua tertawa terbahak-bahak.

 

‘Ssst, Pak Guru dimana?’ bisik Cahya khawatir.

‘Tenang aja, katanya ada panggilan mendadak untuk rapat di kantor Pak Kepala. Udah disini aja. Temeni aku ya?’ Eko menjawab disela hisapan rokoknya.

 

Cahya adalah seorang gadis yang penuh semangat bahkan kadang sekeras dan senekat lelaki. Sikapnya itu berlawanan dengan penampilannya. Rambut panjangnya selalu tertata rapi dengan bermacam jepit lucu  yang menghiasi.

 

Mbakyunya yang sudah mahasiswi selalu mengancam setiap pagi sebelum dia  berangkat sekolah.

 

Pokoke Mbak Tri  nggak akan beli jepit lagi buat Aya kalo pulang nanti rambutnya berantakan.’ Katanya selalu sambil menyisir rambut adik bungsunya itu.

Cahya hanya tersenyum dan mencium pipi Mbak Tri sekilas.

 

‘Cahya Kirani! Awas ya!’ seru Mbak Tri. Cahya sudah berlari dan melambaikan tangannya.

 

Di sekolahnya Cahya mempunyai beberapa teman dekat.

 

Siswanto adalah anak yang sangat cerdas, pemalu, tidak banyak tingkah dan selalu perhatian pada Cahya. Dia adalah anak lelaki dari sebuah keluarga sederhana seperti juga keluarga Cahya. Sis punya cita-cita yang tinggi dan dia ingin sekali kuliah di universitas favorit dan menjadi orang yang berhasil.

Sis adalah tempat bertanya untuk Cahya dan tempatnya mengadu ketika Cahya mendapat masalah dengan guru atau teman-teman lain.

Sis akan mendengarkan dengan serius dan senyum yang selalu tersungging di bibirnya.

Sis adalah sosok malaikat sedangkan eko adalah sosok setan ibaratnya.

Eko yang jangkung, tegap dan besar untuk ukuran umurnya, selalu bersemangat dan aktif. Dia sangat baik dalam olahraga khususnya sepak bola. Ramai, supel dan senang berteman membuatnya memiliki banyak pendukung yang akhirnya menobatkannya sebagai ketua OSIS periode tersebut. Eko adalah teman main dan berdebat yang sepadan untuk Cahya.

 Karena kedekatannya mereka berdua seringkali melakukan sesuatu yang diluar dugaan dan aturan guru-guru.

Pernah suatu kali mereka bolos hanya untuk mencoba GL Pro baru Eko dan ngebut tanpa tujuan. Atau, ketika kabur dari kantin setelah memecahkan mangkok baso yang mereka pakai untuk makan berdua.

 

Malah, kadang mereka menghabiskan sisa jam sekolah hanya untuk duduk berdua di pematang sawah  seberang sekolah dan berhayal tentang masa depan.

 

Eko pernah bilang, lulus SMP nanti dia akan melanjutkan ke sebuah SMA di Gresik. Dia akan tinggal dengan pamannya dan akan bergabung dengan klub sepak bola besar disana.

 

Matahari biasa tampil terang benderang berlatar langit biru di daerah tempat tinggal Cahya. Alam yang cerah dan terik ini menjadi saksi kesehearian mereka.  

 

Lilik, Kukuh, Kasih, Titis, Marni dan Cahya adalah 6 gadis yang tinggal sekampung. Makanya mereka selalu pulang bersama. Bersepeda beramai-ramai melintasi sawah, kebun, rumah penduduk, kantor kecamatan, kantor polisi, toko kelontongnya si Ayuk dan rumah-rumah penduduk. Jarak sekitar 7 kilometer itu mereka lalui setiap hari dengan gembira dan tanpa lelah.

 

Seperti siang itu, langit yang biasanya penuh awan putih berarak itu mendadak mendung gelap, angin kencang dan guntur mulai menggemuruh.

 

Suasana mendung tidak mengurangi semangat para gadis untuk mengayuh sepeda mereka menuju pulang.

 

‘Aya, ayo cepat nanti keburu hujan besar.’ seru Titis yang pencemas.

‘Iya tenang aku sudah siap kok. Ayo!’ Cahya menggenjot sepeda  mendahului teman-temannya.

 

Tak berapa lama mereka lalu  bersepeda beriringan  seiring dengan mulai turunnya rintik gerimis.

 

‘Yok? Kenapa berhenti? Ayo ikut kami saja. Kalo nunggu hujan reda lama lho.’ Cahya melambatkan sepeda melihat sepupunya berhenti disisi jalan.

‘Enggak ah, aku takut diseneni Ibu kalo nekat pulang. Apalagi kalo aku pilek nanti.’ Yoyok menjawab dengan ekspresi khawatir.

‘Ya sudah, kita duluan yo?’ Cahya kembali menjajari laju sepeda Kukuh.

‘Kenapa Ya?’ tanya Kukuh.

‘Hihi, Yoyok takut kehujanan.’ jawab Cahya jahil.  

Komentarnya itu disambut tawa oleh teman-temannya.

 

Kayuhan sepeda keenam gadis remaja tanggung itu diguyur hujan yang semakin deras membuat mereka sulit melihat jalanan di depan mereka. Tapi mereka tetap semangat melanjutkan perjalanan.

Hujan adalah anugrah yang menghibur bagi mereka. Bermain bersama hujan adalah kebahagiaan yang tak terkatakan. Sepanjang jalan yang memang sepi mobil itu tersaji pemandangan yang sangat khas pedesaan.

Bapak-bapak petani bergegas bertelanjang dada, membenamkan capil  mereka, menggiring kerbau pulang.

Para ibu yang pulang ngasak berpayung daun pisang beriring-iring diterpa tempias hujan.

 

Kang Marji tukang ngarit bersama teman-temannya berlarian saling mengganggu dengan menciprat-cipratkan air hujan perasan kaos mereka.

 

‘Tis? Mau istirahat dulu?’ teriak Cahya disela deras hujan karena khawatir Titis kelelahan membelah hujan.

‘Enggak, aku kuat kok!’ Titis menjawab lantang.

 

Titis memang yang paling ringkih diantara enam gadis ini. Badannya yang tinggi kurus selalu tampil tidak stabil dan ketika kelelahan dia sering gemetar. Tampaknya semangat bermain dan bersenang-senang di bawah guyuran hujan mengalahkan kelemahannya. Mereka terus tertawa-tawa dan berusaha mengayuh sepeda sekuat mungkin.

 

Cahya selalu saja tersenyum ketika mengingat masa-masa itu meski 6 tahun  telah berlalu.

Kuliahnya sudah di semester 6 dan dia sudah sangat sibuk membagi waktu antara kuliah dan kerja. Sesibuk apapun dia, kerinduannya pada Eko tidak pernah mencair. Cahya mulai merasa rindu pada sahabat remajanya ini sejak mereka berpisah kota.

 

Hingga suatu malam,

 

‘Mbak Cahya, ada tamu untuk  mbak di bawah.’ terdengar suara anak ibu kos mengetuk pintu kamarnya.

‘Iya, makasih dik.’ 

 

Cahya bergegas menuju ke ruang tamu di lantai bawah. Terlihat olehnya seorang lelaki tegap sedang duduk di kursi ruang tamu.

 

Cahya tertegun di balik kaca dan jantungnya berdebar keras.

 ‘Eko?’ bisiknya tak pasti.

 

Dibukanya pintu ruang tamu dan pandangannya bertemu dengan lelaki yang selama ini selalu mengisi hati dan pikirannya.

 

Senyum ragu merebak di wajah mereka berdua.

‘Ko? Yok opo kabare? Tahu darimana alamat sini?’  Cahya bertanya sembari duduk di kursi dekat meja.

Apik. Iyo, aku nanya sama ibumu.’ jawab Eko dengan pandangan tak lepas dari wajah Cahya.

 

Cahya sendiri mencoba mencairkan suasana kaku itu.

‘Kamu dinas  dimana Ko? Denger kabar dari Wanto kamu jadi polisi kan?’

 

‘Di Sektor Rungkut. Awakmu sendiri gimana?’ pelan Eko sambil menyalakan rokok.

 

‘Kamu masih ngerokok aja ya Ko?’ Cahya mengamati lelaki di depannya yang tak banyak berubah dari ingatannya.

Tubuhnya makin tegap dan berisi. Kulitnya lebih gelap dan rambutnya yang biasanya agak gondrong sekarang dipangkas pendek.

 

‘Heh, ngelamun.’ Eko tersenyum dan menepuk punggung tangan Cahya.

‘Eh enggak, o iya aku yo masih kuliah Ko. Baru tingkat 3 kok.’ Cahya sempat tersipu.

 

Malam yang tak diduga itu menjadi saksi terganggunya hati Cahya. Eko menyatakan rencananya untuk menikahi seorang perempuan yang dikenalnya di wilayah tempat dinas.

Cahya yang tak mampu dan tak berhak menghalangi rencananya hanya dapat mengucapkan selamat. Kepedihan dan keperihan rasa menjadi teman hati Cahya sejak malam itu.

 

Sampai beberapa waktu kemudian dia memberanikan diri menulis surat menyatakan segala rasanya pada lelaki yang tak terganti di hati selama ini.

 

Surat yang dialamatkan ke tempat tinggal keluarga Eko di desa itu tak pernah berbalas. Entah.

 

Tahun berjalan, ratusan lembar kehidupan silih berganti menemani dan mengisi hari. Masing-masing manusia tak mampu menolak arah jalan yang digariskan Tuhannya.  Masing-masing sahabat Cahya sudah menempuh jalan hidupnya sendiri.

Kasih terbang jauh ke Dubai dan berkarir disana.

Marni yang lembut dan ayu merajut kehidupan bersama suami dan merintis bisnis yang cukup sukses.

Kukuh telah menjadi seorang guru di pedalaman Madura.

 Lilik menikah dan memiliki beberapa putra. Ada kabar dari Titis beberapa tahun lalu dia kehilangan anak balitanya yang meninggal karena kecelakaan.

 

Cahya sendiri menekuni kegemarannya menulis dan memanfaatkan ilmu bahasanya sebagai seorang penerjemah yang cukup ternama. Cahya seringkali terserang rasa kangen pada sahabat-sahabatnya.

 

Kerinduan yang kadangkala terobati saat Cahya pulang kampung dan bertemu satu atau dua sahabatnya disana.

 

‘Halo? Aya?’ sebuah suara berat menerobos dari speaker HP yang digenggam Cahya malam itu.

‘Iya betul. Siapa ini?’ ragu Cahya, karena nama panggilan itu sudah lama sekali tak didengarnya kecuali dari keluarga dekatnya.

 

Sedangkan suara yang didengarnya ini tak dikenal.

‘Ini aku Siswanto.’ Jawab suara itu lagi.

‘Siswanto? Sis SMP? Kok? Hai..apa kabar?’ Cahya terbata karena kekagetannya.

 

‘Hehehe…aku dan anak-anakku sehat. Kamu sendiri gimana? Kamu kan janji mau cerita waktu itu.’ Sis tertawa pelan.

 

‘Ntar dulu, kamu tau darimana nomorku? Kan aku ga simpen nomor hape di FS?’ jawab Cahya agak bingung sambil mengingat-ingat lagi kejadian beberapa bulan sebelumnya.

 

Ketika dia iseng mengotak-atik accountnya di Friendster dan mencari nama-nama teman masa remajanya. Dia menemukan nama Sis disana.

‘Iya sih, tapi kan disitu ada alamat blog kamu. Pas aku lihat profil blogmu disitu ada nomor handphone. Ya sudah aku coba hubungi saja.’ Jelas Sis.

‘Oh gitu, eh gimana kabar istrimu?’ tanya Cahya sambil berusaha mengingat nama istri Sis.

‘Ada…’ jawab Sis singkat.

‘Kok gitu sih jawabnya?’ selidik Cahya heran.

‘Yaaah, ceritanya panjang. Nanti lah kapan-kapan aku cerita.’

 

Malam itu dan malam-malam selanjutnya kedua sahabat lama ini saling menghubungi, saling bicara dan bercerita.

Cahya dan Sis sempat beberapa kali bertemu setelah itu. Mereka bercerita tentang pekerjaan masing-masing, berdiskusi tentang rencana proyek yang ingin mereka garap bersama, berkisah tentang keluarga dan harapan-harapan mereka.

 

Hingga pada suatu malam, saat Cahya sedang asyik membaca buku, terdengar nada panggil dari telepon genggam yang tergeletak disampingnya.

Refleks Cahya meraih dan memeriksa pesan singkat yang baru saja masuk.

 

“Sis : Aya, aku kok kangen banget ya sama kamu?”

 

***

 

Bandung, 10 Oktober 2008

Untuk sahabat-sahabat masa kecilku…Aku kangen kalian…

 

Catatan:

bocah kok pacaran wae…: kamu kok pacaran melulu

je : salah satu jenis penekanan kalimat yang sering dipakai dalam percakapan bahasa Jawa

Mbakyu: kakak perempuan

Pokoke: pokoknya

Diseneni: Dimarahi

capil  : caping/ topi anyaman bambu

ngasak:  mengumpulkan  bulir padi sisa di sawah yang usai dipanen

Kang: kakak/sebutan untuk lelaki yang usianya lebih tua dari kita

Ngarit: mencari rumput untuk pakan ternak

Yok opo kabare?: apa kabar?

Apik: baik

Awakmu : kamu

 

14:53 11/9/2008 - 13 comments - [ post comment ]

Pagi-pagi.

Setelah minum susu dan mandi, Dani asyik main bola sendirian di garasi. Mbah Putri sedang menyiram bunga di halaman. Ibu sedang dandan di kamar. Mbah Kakung sudah berangkat ke kantor.

Tak berapa lama tampak seseorang lewat dan menyapa Mbah yang sibuk menyiangi rumput di rumpun mawarnya.

’Eeeh, adik kecil mau kemana nih pagi-pagi. Wah mau jalan-jalan ya?’ terdengar sapaan Mbah pada ibu dan bayi itu.

Dani yang mendengar komentar itu langsung bergegas keluar ke halaman dan ikut nimbrung.

 ‚Mana Mbah? Mana adik bayinya?’

 ’Tuh, adik bayi mau diajak jalan-jalan sama mamanya. Lucu ya?’ tanya Mbah lagi.

’Iya, lucuuu...hihihih.’ sahut Dani dengan ekspresi gemas.

’Dani mau punya adik?’ sambung Mbah lagi. ’Mau lah Mbah.’ Tukas Dani cepat dengan riang.

Ibu yang baru keluar dari garasi menuntun motor tersenyum geli mendengar percakapan tersebut.

’Dani mau apa Dan?’ tanya Ibu ingin tahu.

’Ibu..Ibu..Dani mau punya adik dong.’ kata Dani antusias.

 ’Emm..punya adik ya? Memangnya kenapa gitu Dan?’ tanya Ibu penasaran.

 Padahal sebenarnya Ibu bingung bagaimana cara menjelaskannya pada Dani bahwa saat ini Dani belum mungkin punya adik karena Ibu sudah pisah dengan Ayah.

’Ya..pengen aja.’ Sahut Dani pendek.

 ’Oooo...’ Ibu menjawab lebih pendek lagi.

 ’Iya, kan kalo punya adik enak. Bisa diajak main. Di berenangin, disisirin, dikasih minyak telon, bobonya nanti sama-sama, sama buaya juga.’ Jelas Dani panjang lebar.

Loh itu kan nasibnya si lebah, boneka lebah kesayangan Dani.

Waduh, Ibu makin tampak linglung, hanya bisa nyengir tak pasti mendengar penjelasan itu.

Tadinya Ibu sudah siap deg-deg-an dan mencari kosa kata yang tepat untuk menjawab keinginan Dani itu dengan cerkas dan sigap.

Tapi yang keluar akhirnya hanya,

 ’O ya deh kalo gitu. Nanti ya, pasti nanti Dani akan punya adik. Tapi ga sekarang. Okay?’

’Okay, Ibu belum punya uang ya? Iya, Ibu kerja dulu. Nanti kalo udah punya uang beli adik buat Dani ya Bu? Yang banyak ya?’ jawab Dani tetap cerah ceria.

OMG, gimana dong???

Untung ini hanya khayalan.

Bdg, 11 Sept 2008

18:35 11/8/2008 - 15 comments - [ post comment ]
Filed under: Lain-lain
HIX......PI........PI......
KENAPA YAK? MAKIN KESINI KOK MAKIN CEPIIIIII.....

AYO DOOONG TEMAN-TEMAN YANG PUNYA AKSES LEBIH LANCAR DAN CINTA PI.....LAKUKAN SESUATU.... BERBUATLAH SESUATU.... AN JANGAN LUPA PERTANGGUNG-JAWABKAN PERBUATANMU ITU.....HEHEHHE...

SRIUS YA..... JANUARI, FEBRUARI, MARET.....TUH.....MAU UPLOAD KOMEN AJA TUH MESTI CEPAT DAN KILAT KARENA KALO LAMA DIKIT PASTI ERROR LOADING KARENA KEDULUAN SAMA MEMBER LAIN YANG JUGA POSTING KOMEN...

SEKARANG?? MAU BACA POSTINGAN YANG PANJAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAANG AMPE TUNTAS DULU JUGA BISA DEH...

JOOOOOOO.......MAS WEB.... GMANA NEEEH????

BEBERAPA WAKTU LALU AVLIN SEMPET BIKIN PUFET DAN SUKSES TUH.... BANYAK YANG AKTIF.....

YANG LAIN DOOONG....
JADI MEMBER-MEMBER LAIN YANG SIBUK DAN SOK SIBUK KAYAK SAYA GINI MASIH TETEP BISA PULANG KE PI DENGAN ANTUSIAS....

HIX...SEMOGA ADA YANG TERGERAK HATINYA....*tengadahkan tangan dan berdoa*  AMIIIIN...........
17:00 9/8/2008 - 12 comments - [ post comment ]
De, wajah mungilmu yang tampan
selalu membuat rasaku mengembang bangga
saat terlelap kamu cakep banget
bukan wajah ayah atau ibu yang kamu cerminkan
wajahmu adalah milikmu sesungguhnya
yang kulihat dalam mimpiku saat menjelang kehadiranmu dulu
wajah lembut, mata sayu dan rambut ikal gelombang indah

De, ibu sayaaaang banget sama kamu
selalu kamu akan melingkarkan lengan mungilmu ke leher ibu dan mencium bibirku
ciummu dengan bibir lembab yang membuatmu monyong lucu sekali
lembut suaramu saat kamu bilang 'maafin ya bu?' kala kamu rasa ada salah yang kamu lakukan
atau wajah seriusmu yang ikut sedih dan prihatin ketika kamu lihat mata ibu basah
dan kamu akan menelengkan kepala mencari pandang mataku untuk mengatakan 'ibu kenapa?'

De, inginnya ibu melihatmu bermain dengan ayahmu
saat kulihat ada anak seumurmu yang sedang bercanda dengan ayahnya
maafkan ibu karena ibu tak bisa hadirkan ayahmu untukmu
maafkan aku anakku
barangkali kamu akan anggap ibu egois dan tak mau mengerti dirimu
tapi ibu tak kuasa
ibu tak lagi diberi hak untuk itu

De, sayang...
ibu hanya bisa berharap pemahamanmu suatu hari nanti
atas semua yang terjadi padamu

De, ibu bangga sama kamu
anak yang tabah, kuat dan mengerti
biarlah ibu terima semua resahmu, gelisahmu, rasa ingin tahu darimu dan
protesmu yang tertuang dalam rajukan, tingkah jahil dan rengekanmu ketika aku ada bersamamu
tak apa nak
ibu ada disini untukmu
semoga Allah ijinkan ibu untuk temani kamu sampai kamu mandiri nanti

De, ibu sayang kamu...

Agustus 9
13:18 26/7/2008 - 16 comments - [ post comment ]

Pagi ini matahari bersinar cerah. Sinarnya menembus ke dalam rumah melalui celah-celah angin. Dian bergegas membereskan semuanya. Berdandan dan ganti pakaian dikerjakannya diantara kesibukannya menyiapkan makanan untuk suami dan anaknya. Setelah siap dia masuk kamar berusaha membangunkan suaminya yang masih mendengkur disamping anak mereka yang juga masih lelap.

 

‘Pa, anterin aku dong? Udah siang banget nih, aku takut telat ngantor.’ Dian menggoyangkan kaki suaminya.

‘Ahh, kemarin-kemarin kan udah bisa berangkat kerja sendiri. Manja kamu.’ Suaminya menyahut dan membalikkan badan untuk melanjutkan tidur.

’Tapi Pa, kalo dianterin dari rumah kan bisa lebih cepet dan lebih irit.’

’Halah, keenakan kamu dianter mobil terus, lagian aku masih ngantuk, kan aku baru tidur subuh tadi.’

’Yaah, itu sih karena Papa nonton bola. Ayolah Pa, tolong aku, udah jam 7 nih.’

’Kalo takut telat kenapa nggak berangkat sekarang? Malah ngomong aja disitu. Aku masih ngantuk, kalo dipaksain nyetir, kamu mau kalo kita celaka?’ suaminya makin sewot tapi tak sedikitpun beranjak dari tempat tidur.

’Ya sudahlah, aku berangkat sendiri. Nitip Rafi, jangan lupa makan dan mandinya ya? Nanti sore aku dijemput kan?’

’Iyaaa, cerewet!’

 

Dian beranjak dari kamar dan segera menyiapkan tas dan sepatu kerjanya. Ketika tangannya akan membuka pintu depan, didengarnya suara suaminya berteriak dari kamar.

 

’Maa, makanan udah siap belum? aku malas kalo harus ngurusin begituan. Awas aja kalo nggak, aku titipin anakmu di rumah Mamih.’

’Sudah  ada di meja tuh.’ Dian menggelengkan kepala, membuka pintu dan menutupnya kembali dari luar.

 

Berjalan cepat menuju ke jalan raya, Dian membuka handphone dan mengirim pesan singkat.

Ded, jemput aku dong, kita ketemu di jalan depan. Thnx.

Sesaat kemudian, terdengar ringtone lembut mengalun, Dian melihat layar handphone, tersenyum dan menekan keypad.

 

’Halo Ded.’

’Dian kenapa? Kok tumben pagi-pagi berani nelpon? Nggak dianterin sama suamimu?’ terdengar suara lelaki yang belakangan sering dirindukannya.

’Enggak, makanya aku nelpon kamu. Bisa ga jemput aku nih?’ kata Dian.

’Iya, sebentar lagi sampai depan jalan kompleks kamu. Aku tungguin ya.’

’Oke, makasih ya.’ Dian mematikan hp dan mampercepat langkah.

 

Dian beruntung karena Dedi masih sempat mejemputnya karena kalau dia naik kendaraan umum pasti akan sangat terlambat.

Di ujung jalan kompleks terparkir Kawasaki hijau yang sudah dikenalnya dan tampak Dedi sedang berdiri di samping motor besar itu.

 

’Hai Dian, kita berangkat sekarang Sang Putri?’ sambut Dedi bercanda.

’Ah kamu, yang bener Upik Abu nih.’ Dian tersenyum menjawab.

’Hahaha... Ya udah yuk? Terlambat nanti kalau ngobrol dulu.’ Dedi menstarter motor dan mempersilakan Dian untuk naik.

’Ded, makasih ya udah mau jemput.’

’It’s okey.’ jawab Dedi.

 

Dian melewati sepanjang pagi itu dengan pikiran yang kadang terganggu dengan bayangan Dedi dan kebaikannya selama ini. Pikiran itu menuai senyum Dian beberapa kali.

 

’Hei! Senyum-senyum sendiri. Hayo, lagi mikirin siapa?’ Dedi tiba-tiba sudah muncul di samping Dian dan duduk menyilang kursi.

’Aduh, kamu bikin aku kaget aja. Gimana kalau serangan jantung?’ Dian melotot lucu ke arah lelaki jangkung dengan rambut ikal agak gondrong itu.

’Hahaha, kalau Tuan Putri serangan jantung hamba akan menggendong Putri menuju peraduan dan merawatnya sampai sembuh.’ Dedi tertawa ngakak.

’Halah, merawat apa ’merawat’?’ Dian membalas canda yang membuat Dedi semakin berani.

’Yah, hamba sih patuh pada keinginan Putri saja, your wish is my command.’  

Dedi berdiri sambil menyentuh tangan Dian dan menciumnya.

’Tuan Putri, makan siang dulu yuk? Hambamu ini sudah kelaparan.’

’Boleh deh, tapi jangan lama-lama ya?’ sahut Dian sambil segera beranjak dari meja kerjanya.

’Oke. Kita  makannya di Kembang Setaman aja biar dekat.’ Jawab Dedi mengiyakan kemauan Dian untuk tidak berlama-lama makan siangnya.

 

’Waah, jadi pengen spa nih. Disitu enak banget deh treatment-nya. Istrimu sudah pernah coba?’ tanya Dian diantara langkah mereka menuju tempat parkir kantor.

’Udah kali eh nggak tau ding? Dia nggak pernah cerita tuh.’ Sahut Dedi pendek.

’Oooh.’ Sahut Dian.

 

Ritual makan siang berdua itu sudah beberapa lama mereka jalani. Awalnya hanya kebetulan karena Dedi dan Dian sama-sama ditugaskan lembur dari departemen masing-masing. Karena hanya ada mereka berdua di kantor Sabtu itu, akhirnya mereka putuskan untuk makan siang berdua di luar.

 

’Gimana enak nggak sotonya?’ Dedi membuka percakapan beberapa saat setelah mereka menikmati sajian makan siang.

’Banget! Kamu hebat milihnya, tau aja kesukaanku.’ Dian tersenyum mengangguk.

’Tau dong, aku tau betul kesukaanmu. Makanan tradisional, berkuah dan segar.’ balas Dedi, ’Ngomong-ngomong boleh cerita nggak kenapa kamu berangkat sendiri tadi pagi?’

’Ehm, Toni ga mau nganterin katanya masih ngantuk karena nonton bola semalem.’ Dian tertunduk.

’Oooh, emang dia tetep ga mau kerja juga?’ Dedi bertanya pelan.

 

’Tau tuh, kerjaannya tiap hari main layangan melulu alasannya karena ngajak main Rafi. Tapi Rafinya malah seringkali dititipin sama Mamah. Ah, ga tau deh, capek banget kalau aku mikirin ini. Tiap aku coba ngajak diskusi masalah ini, dia selalu ngebalikin katanya aku kerja kan karena kemauanku sendiri. Toh ketika aku ga kerja kita tetep bisa makan dari bantuan orang tua dia dan Mamaku juga. Tapi kan bukan seperti itu seharusnya. Gimana dengan keperluan lain, belum lagi persiapan sekolah Rafi. Padahal seharusnya anak itu sudah masuk sekolah. Aku bingung Ded.’

 

Dian mengusap mata yang tak terasa meneteskan air mata kegelisahannya. Dedi mengulurkan tangan dan menyentuh lengan lalu menggenggam erat tangan kiri Dian.

 

’Sssh, Dian, maaf ya kalau aku jadi buat kamu sedih. Dian istirahat dulu deh, kita nggak akan balik ke kantor kalau kamu masih sedih dan kalut begini. Yuk?’ Dedi berdiri dan meraih bahu Dian.

 

Dian melangkah lunglai dalam rengkuhan lengan lelaki yang belakangan selalu menjadi curahan hatinya dan bersedia mendengarkannya. Tiba-tiba saja mereka berdua sudah berada dalam sebuah ruangan istrirahat di resort indah itu.

 

’Sini sayang, duduk dulu, kamu harus tenang dulu ya sebelum kita kembali ke kantor.’

 

Dedi menuntun Dian dan mendudukkannya di sofa.

 

’Tapi Ded, ini sudah jam berapa? Ntaar telat lagi.’ Kata Dian lemah.

’Enggak, udah tenang aja dulu, mau minum?’ bisik Dedi.

 

Dian menggeleng dan mengangkat pandangannya, dilihatnya lelaki tampan itu berada dekat sekali dengannya. Refleks, Dian mengangkat tangan dan menyentuh pipi Dedi dengan elusan jemari lentiknya.

 

’Ded, makasih ya, kamu baik banget.’ Dian berbisaik pelan.

’Hmmmh.’ Dedi meraih bahu Dian dan memintanya bersandar ke dada.

 

Tangan kokoh Dedi mengangkat dagu Dian dan mendekatkan wajah mereka. Kecupan lembut yang membuat Dian memejamkan mata merasakan hangat kedekatan mereka. Kecup yang semakin diresapi dan berubah menjadi ciuman yang membersit hasrat diantara mereka berdua.

 Lelaki yang sudah mulai panas karena birahi itu membaringkan perempuan pujaannya dengan lembut.

Sang perempuan yang sedang bingung, lelah dan haus kasih sayang tersebut pasrah dan menikmati sentuhan-sentuhan mesra yang tak pernah dia peroleh dikamarnya sendiri. Dian mendesah, Dedi mengerang menahankan nafsu yang semakin tinggi.

 Irama gerakan dan sentuhan yang semakin menggebu membuat mereka lupa diri.

 

Gebrakk!! Suara pintu terbanting membuka mengagetkan pasangan cinta yang sedang dilanda asmara.

 

’Bang*** kalian berdua!! Bangun kamu pela*** murahan!!

 

Toni berdiri mengangkang di depan pintu dengan wajah merah padam dan ekspresi jijik.

 

Bagaimanakah akhir dari kisah ini? Entahlah, mungkin mereka akan baik-baik saja dan dapat melanjutkan hidup mereka semua.

Toni tetap pengangguran dan main layangan, Dian tetap harus kerja, Dedi pulang pada istrinya di rumah.

Atau, Toni membunuh Dedi dan Dian?

 

Kisah ini fiktif semata dan semoga tidak pernah terjadi pada pihak-pihak yang menginspirasiku saat membuatnya.

17:56 21/7/2008 - 10 comments - [ post comment ]
kuncup bunga ini masih ragu dan malu
 

menatap pancaran sinarmu

jangan tinggalkan aku matahariku

ingin ku menyesap seluruh sinarmu

hangatkan dingin sukmaku
11:50 11/7/2008 - 16 comments - [ post comment ]

Bandung, 8 Juli 2008

Aku lagi di kamar sama Ibu. Susu botolku sudah habis dan sekarang aku lagi baca gambar-gambar di bukuku. Ibu sih tampaknya lagi pendiam malam ini. Mungkin lagi mikir sesuatu. Dari tadi juga judes sama aku. Tiba-tiba aku dengar suara pagar dibuka dan suara motor berhenti di depan rumah kami.

’Bu? Siapa itu?’ bisikku pada Ibu yang langsung bangun dari tempat tidur dan menyingkap gorden jendela kamar.

’Ayah tuh Dan.’ Ibu kelihatan heran.

’Ayah?’ aku kaget.

Lalu kami keluar dan Ibu membuka pintu untuk Ayah. Aku bingung. Malu. Ah enggak tahu apa deh. Waktu Ayah minta aku salaman juga aku melirik Ibu terus. Enggak tahu aku kok malu ya? Udah lama enggak ketemu ayah kali ya? Aku senyum-senyum aja sambil lirik malu-malu ke Ibu. Hihi..takut salah juga,  ah enggak tahu ah. Ibu kok diem-diem aja sih? Senyum sedikit sambil mengawasi aku terus. Mata Ibu kok ada airnya ya?

Aku sibuk tunjukin mainan sama Ayah. Asyik ada Ayah lagi.

’Ayah, Ayah bobo rumah Dani kan? Nanti bobo di kamar itu ya?’ aku tunjukin kamar belakang ke Ayah.

’Memang boleh gitu?’ kata Ayah sambil ketawa.

’Boleh kan Bu?’ tanyaku pada Ibu.

Ah, Ibu hanya senyum lagi.

’Dani mau ditemenin bobo sama Ayah?’ tanya Ibu padaku.

’Mau! Ayo Yah?’ aku lari ke kamar dan kudengar Ibu minta Ayah cuci kaki dan tangan dulu sebelum bobo sama aku. Ibu nunggu di luar kamar katanya.

Ibu buatkan aku susu lagi supaya aku cepet siap tidur. Aku ngantuk dan kata Ibu ini sudah jam 10. Tapi Ayah masih ngajak aku ngobrol malah terus peluk aku dan cium aku. Ayah bilang Ayah sayang sama aku.

Setelah peluk dan cium aku lagi, tiba-tiba ayah keluar dari kamar ninggalin aku sendirian. Aku enggak tahu kenapa. Diluar, kudengar Ibu tanya Ayah;

’Mau kemana? Dani dah tidur?’

’Pulang dulu udah malem.’ jawab Ayah sambil sibuk pakai jaket. Aku sudah turun dari tempat tidur tapi cuma lihat Ayah dari kamar aja. Ibu manggil aku disuruh keluar.

’Dan, sini nak, ini Ayah mau berangkat dulu.’ Panggil Ibu padaku.

’Ayah mau kemana?’ tanyaku melihat Ayah sudah siap memakai kaos kaki.

Aku mendekat ke Ibu ingin tanya kenapa Ayah pergi lagi. Ibu mengangkatku dan memangku aku. Ayah masih sibuk memasang kaus kaki dan sepatu.

’Ayah pulang dulu, Dani baik-baik ya.’ Ayah mendekati kami dan menciumku beberapa kali. Aku enggak tahu kenapa Ayah berangkat lagi cepat-cepat.

’Mau kemana?’ aku bertanya lagi.

’Ayah mau ke rumah Om Adi. Udah malem sayang, Ayah pergi dulu ya?’ Jawab Ayah sambil beranjak keluar.

Uhhh...kenapa Ibu diam saja sih?

’Ayah mau kemana Bu?’ aku ganti bertanya pada Ibu.

’Sayang, Ayah harus berangkat dulu sekarang. Ya?’ kata Ibu tersenyum melihat wajahku. Tapi mata Ibu kok merah dan basah ya? Ke  napa Ibu nangis?

’Tapi, Ayah disini aja. Di rumah Dani aja.’ kataku lagi.

Lalu kudengar ayah mengeluarkan motor dari halaman. Aku melompat ke kursi dekat jendela.

’Mau lihat Ayah di jendela ya Bu.’ Aku tidak menunggu ibu mengiyakan.

Yaaah, Ayah cepet banget, udah pergi aja, motornya udah ga kelihatan.

Aduh, aku kan masih pengen ngobrol sama Ayah. Kok sekarang Ayah ga pernah ke rumah Dani ya? Aku kan pengen main sama Ayah.

Ibu sih diem aja. Coba Ibu mau bilang sama Ayah biar bobo sini aja. Ah, Ibu gitu ah.

’Dani sayang Ayah, ga sayang Ibu. Ibu baong*. Ibu ga sayang.’ Aku manyun ke Ibu terus pokoknya. Tidurnya ga mau dipeluk. Biarin.

Aku tidur memunggungi Ibu. Ibu memelukku dari belakang. Kudengar Ibu berbisik di belakangku. Kok Ibu minta maaf ya? Tapi aku tetep bilang enggak sama Ibu. Aku kesel. Aku mau Ayah. Aku sedih juga sih. Tapi aku enggak tahu ah. Maaf ya Bu.

 

 

Tulisan ini mungkin tidak berarti apapun untuk teman-teman. Tapi tak apa, anggap saja aku menyimpan ini disini supaya tidak hilang saja.

Tulisan ini tentang salah satu saat yang berat sekali untukku dan Dani. Kebingunganku menentukan sikap agar tak semakin melukai perasaan Dani. Kesedihanku menerka perasaan Dani. Aku ingin sekali dapat menghindarkannya dari keadaan ini tapi aku tak kuasa.

Maafkan Ibu ya Dan?                                              

 

Baong  = nakal/bandel (bahasa Sunda)

17:52 10/7/2008 - 4 comments - [ post comment ]
aku lelah
lelah menggerogoti tubuhku
tubuhku lunglai menyangga pikiran
pikiranku lelah enggan bertahan
bertahan sampai kapan aku tak tahu
tak tahu aku apa yang akan kuhadapi nanti
nanti adalah misteri
misteri juga ketika aku berusaha menikmati
menikmati lelah ini

July 10
third day  of hellic  gruelling job
19:12 7/7/2008 - 7 comments - [ post comment ]
oleh: Jeng Dyani

Gadis langsing berwajah ayu itu duduk mencangkung di bangku halaman kampus. Rambut ikal sepanjang pinggang membingkai ekspresi acuh yang dimilikinya. Jeans pensil dan kaos oblong adalah dress code nya setiap hari. Sama halnya hari ini, sesekali kaki jenjangnya diluruskan dan dia memeriksa kuku berkali-kali seperti tanpa sadar. Dia tak hirau dengan semua kesibukan di sekelilingnya. sahabat dekatnya sedang asyik ngobrol dengan beberapa teman di ujung taman, karena dia merasa kurang berminat ngobrol dengan mereka, dia memilih untuk duduk menunggu sampai sahabatnya itu selesai. Lalu mereka berdua akan pergi ke tempat kosnya dan menghabiskan waktu bersama. Tak lama dilihatnya Ian sedang melangkah kearahnya. Gadis tomboy yang selalu ramai itu melenggang malas ke arahnya.
'Laaah..lu lagi, ngelamun terus kerjaannya. Yo Pulang!' Ian berdiri di depan Mia.
'Iya, gw juga udah lama nungguin elu tau.' sewot Mia.
'Ya udah yuk, makan siang dulu tapi, lapar bener nih gw.' lincah Ian mendahului Mia ke arah kantin.
'Hu...giliran makan aja, cepet lu. Tadi ngobrolin apaan sih? Lama bener.'
'Ya, kita kan harus berbagi kabar dong neng. Emang semua orang kayak elu, cuek bebek dan kuper.' Ian ngakak dan mengedip jahil.
Mia hanya bersungut saja menanggapi keisengan kawan akrabnya ini.
mereka berdua memang sangat bertolak belakang sifatnya. Mia selalu pendiam, cuek dan kesan judes sangat kental padanya. Tapi dia selalu menjaga penampilan dan kecantikannya. Sementara Ian, gadis yang lebih muda setahun darinya ini, sangat terbuka, selalu ramah dan kenal semua orang. Soal penampilan jangan sampai ada designer atau make up artist yang melihatnya, soalnya pasti mereka tidak akan tahan untuk make over gadis tomboy ini. Rambut Mia yang hitam panjang bertolak belakang dengan Ian yang selalu memangkas habis rambutnya sampai hanya tersisa  1 atau 2 cm. Tapi persahabatan mereka sangat akrab. Perbedaan latar belakang, sikap dan pilihan gaya tak menghalangi mereka untuk selalu berdua kemanapun mereka pergi. Mia selalu bergantung pada ketegasan dan kepedulian Ian,.Sedangkan Ian selalu senang dengan adanya Mia yang selalu dianggapnya lucu dan baik padanya, meski banyak orang menganggap Mia jutek, Ian tak keberatan.
Banyak sekali hal yang mereka alami berdua, terlibat banyak kesulitan, senang disaat banyak kegembiraan. Keakraban mereka tak membuat iri siapapun. Karena pada dasarnya Mia tak punya banyak teman dan Ian tetap bisa berteman dengan siapapun tanpa terbatasi persahabatan mereka berdua. Kadang ada juga yang iseng dengan kedekatan mereka.
'Ian, gila lu...bedua melulu sama tuh cewek. Jangan-jangan lu...' Jimmy yang ketemu mereka berdua di depan gerbang kampus malam menyapa iseng.
'Emang napa Jim? Iri lu? Nah lu sendiri kemana-mana berdua sama Indra. Jangan-jangan lu juga...' Ian membalas jahil.
'Hahahhaha...gimana kalo kita kapan-kapan tukeran pasangan? Mau ga lu?' Jimmy makin iseng.
'Hah...males gw, tar deh gw cari tukeran pasangan yang lebih baik.' Ian menggamit tangan Mia melewati dua cowok iseng yang sedang tertawa ngakak.
Itulah mereka. Ian dan Mia saling mengisi kekurangan masing-masing. Mia yang sering diam dan tampak rapuh di depan lelaki membutuhkan Ian yang cerdas membantunya keluar dari situasi yang tidak mengenakan seperti tadi. Ian pun seringkali berterima kasih dengan  kelebihan Mia yang  dia butuhkan  di saat-saat tertentu.
(Bersambung)

Bandung, 7 Juli 2008
09:58 6/7/2008 - 10 comments - [ post comment ]
Catatan: Cerita ini sudah di posting di MPku, siapa tahu ada teman-teman yang belum baca dan berminat baca disini... silakan...

Tentang Persahabatan

 

Oleh: Jengdyanee

 

Sudah beberapa lama ini Ariana memikirkan tentang arti persahabatan. Pasalnya dia sedang mengalami suatu keadaan yang  membuatnya miris. Sesuatu yang belum pernah dia alami sebelumnya. Seolah Ariana  dengan kesadaran penuh berdiri di tepi jurang curam yang tak terelakkan lagi. Hubungannya dengan seseorang yang selama ini sudah sangat dekat sedang berada di ujung jurang itu. Pilihannya hanya satu, mereka berdua akan terjatuh ke dasar, hanya takdir yang dapat menentukan siapa diantara mereka yang akan dengan refleks menahan derasnya luncuran dan melindungi salah satunya agar tidak terluka terlalu parah. Ah entahlah, berat sekali, dia hanya mampu memejamkan mata dan menahan kepala dengan kedua tangannya. Suara-suara  berkecamuk dalam pikirannya.

“Hey..Angel…emang lu pikir Ariana tuh bener ato salah sih?”

“Sssssttt…Ih evil…lu tuh ya, Ariana lagi konsentrasi tuh. Berisik amat sih? Kan emang belum tentu dia salah atau enggaknya kan?”

“Aduuuh…lu berdua diem dong. Gw tambah pusing nih.”

Ariana menutup kedua telinganya mengusir suara-suara kedua sisi dirinya. Sisi baik dan sisi buruknya. Kebimbangannya sudah hampir mencapai puncak.

“Eh..Rian, nih dengerin ya. Lu tuh ga salah, temen lu aja tuh yang rese, kan dia yang ga peduli sama elu? Ya kan? Ya kan?” Evil berkata judes.

“Ri….kalo menurut aku sih, mendingan juga lu pikirin lagi deh, kalian udah lewatin banyak hal loh untuk bisa sahabatan sampai sekarang. Ya ngga?” sanggah Angel sambil melirik sekilas pada Evil yang melotot galak.

“Iya gw juga tau, gw hanya ngerasa lelah aja kali ya?” Ariana menyahut lemah.

“Doooh..pada sadar ga sih lu? Rian tuh sebenarnya sebel kan? Cuma lu ga berani aja ngomongnya kan? Karena lu ngerasa ga enak kan? Padahal udah jelas dia ga peduli sama elu. Lu juga tau kan dia malah merebut perhatian orang-orang yang deket sama elu.” Evil mulai naik nada suaranya.

“Heh…gw ga pernah ngomong gitu kali. Gw hanya sempet kepikir aja dari apa yang dia lakukan selama ini.” Jelas Ariana.

“Ya kalo emang lu kepikir gitu itu artinya iya kan?” Evil bersedekap garang.

“Eeeh..belum tentu lagi. Bisa jadi itu hanya perasaan Rian aja kan? Mungkin karena Rian sedang gelisah dan sedang butuh temen waktu itu?” kalem Angel berusaha mendinginkan suasana.

“Iya Angel, gw juga kepikiran gitu sih. Kali gw aja yang lagi sensi karena lagi banyak masalah.”

“Trus…kemana sobatmu itu pas kamu lagi ada masalah? Ha? Nelpon lu ga? Nanyain keadaan lu ga? Dia juga taunya karena lu yang cerita duluan kan?” galak Evil.

“Iya, tapi kan dia bilang juga udah punya feeling sebelumnya tentang kondisiku sebelum gw cerita.”

“Hah…feeling? Lalu setelahnya apa?”

“Yaah..gw kan juga ga bisa berharap dia spend banyak waktu untukku, selalu ada untukku.” Ariana berusaha menjelaskan.

“Iya lah, lagian kan kamu udah dewasa Rian, yang tidak mungkin mengharapkan orang lain untuk mengambil keputusan untukmu. Toh ketika dia ada masalah dulu juga kamu bilang ga akan mencampuri keputusannya kan?” Angel berkata tenang.

“Aduuuh…jelas beda dong neng kondisinya! Gini deh, waktu dia terpuruk dulu, lu emang berusaha untuk tidak mencampuri keputusannya, tapi lihat aja gimana dia sangat butuh elu, minta lu nemenin dia, libatin lu dalam hubungan dia dengan siapapun, bahkan sampai lu dituduh yang enggak-enggak sama mantannya dia kan? Lu yang diinterogasi semua orang atas apa yang dia alami kan? Habis-habisan dia minta perhatian elu. Nah sekarang, giliran lu yang sedang dalam kondisi jeblog begini, apa yang dia lakukan? Yang ada juga dia malah berkompetisi sama elu cari perhatian sama orang-orang yang simpati sama keadaan elu. Huh…temen macam apa tuh?” Evil nyerocos gusar.

"Evil?!" angel melotot mengingatkan.

"Eh, gw sih ngomong fakta aja ya. Siapa yang ketika tau Dion kasih perhatian lebih ke elu, ikut-ikutan cari tau siapa Dion, terus berusaha menyapa-nyapa, sok kenal, menarik perhatiannya? Sampai mati-matian cari tau tentang sesuatu yang Dion sukai dan pamer ketika direspon. Huh, temen apaan kayak gitu? Terus, siapa coba yang pamer-pamer ke elu dan semua orang ketika dia dapat perhatian dan disapa atau diajak ngobrol sama orang-orang yang sempet deket sama elu?" Evil terus memanaskan hati Ariana.

"Bukan gitu Vil, kali dia caranya beda ah." Ariana masih berusaha menjelaskan.

"Ih, beda dimananya? Lu dulu gitu ga sama teman-teman dia? Enggak kan? Hwuh... parah."

“Ssstt, Evil ah! Rian kan emang orangnya ga bisa cerita tentang semuanya apapun yang dia alami sama siapapun, terus…” Angel tak sempat menyelesaikan penjelasannya.

“Terus gimana dengan Yudha? Buktinya Rian bisa cerita apapun sama Yudha kan? Dia bisa bikin Rian terbuka sama dia? Dia kasih perhatian penuh sama Rian kapanpun dia butuhkan. Oooh that sweet dude…I wish…Hihihi..”

“Hush, dasar setan, ya kalo Yudha kan emang dia punya bakat untuk itu. Dia memang terbiasa mendengarkan orang lain sama kayak Rian.’

“Heh, jangan sembarangan lu nyebut moyang gw ya? Kurang asem! Loh, kalo emang dia ngerasa sebagai teman apalagi sahabat ya harus gitu kan? Ya ga Rian?”

“Yah gw sih ga ngerti ya? Gw aja kali yang berharap terlalu banyak. Atau kali emang caranya aja yang beda, yang jelas emang gw ngerasa save and sound sama Yudha.” Ariana setengah melamun.

“witiew…cia elaaah….terus kenapa lu engga jadian aja sama Yudha sih Ri? Udah ganteng, keren, perhatian dan sayang banget sama elu.”

“Aduh, please dong Vil, ya ga mungkin lagi ah Rian sama Yudha, kan dia udah ada yang punya? Lagian Rian kan ga naksir sa…”

“Aaah…pada ga tau poligami apa ya? Huh? Kalo gw sih mau banget tuh..hihih…sayang dia ga bisa milih gw..hix..” Evil nyamber dan pura-pura menghapus mata dengan sedih.

“Yeee, kok jadi ngomongin ini sih? Tau ga buat gw Yudha itu sudah tidak terlihat ketampanannya, kekerenannya, karena memang focus gw bukan kesana. Gw nyari dia dan dia nerima gw dengan orientasi yang beda. Apa istilahnya Ngel?”

“Teman jiwa. Iya bener tuh Vil, Rian bisa sangat terbuka sama Yudha karena memang Yudhanya sendiri kasih Rian kesempatan buat itu, tanpa penyimpangan keinginan apapun, malah dia pernah nawarin Rian untuk menemui pasangannya buat saling curhat kan? Cuma karena Rian merasa kurang dekat dengan perempuan itu jadi pertemuan itu belum terlaksana.” Angel mengusap-usap sayapnya pelan, seperti biasa kalau dia sedang berusaha berpikir logis.

“Iya deh, nah justru dengan kondisi seperti itu bukankah itu yang namanya teman sesungguhnya?” Evil mulai logis walau masih terkilas kejahilan dimatanya.

“Hm, mungkin caranya yang beda aja, atau bisa jadi memang temanmu itu tidak terbiasa memberikan perhatian pada orang lain Rian. Kamu kan sudah sadar itu dari jaman kapan kali? Toh kamu selama ini bisa memakluminya kan?” Tanya Angel kurang yakin.

 “Ya iyalah…namanya juga Ariana, sama siapa sih dia ga maklum? Lu aja yang bodo Ri..mau aja maklum dan maklum lagi selama ini. Huh..kalo gw…” evil mulai culas lagi.

“Gw juga ga tau sih, Cuma memang selama ini gw ngerasa bahwa itu wajar aja dan gw nyaman aja dengan hubungan kita, dimana gw ga pernah bisa curhat apapun sama dia karena selalu dia langsung menceritakan keadaan dirinya yang selalu lebih berat dari gw dan membuat gw langsung maklum lagi. Yah, kali gw iritasi hati gini karena belakangan gw bener-bener butuh orang yang mau gw tumpahin perasaan gw.” Papar Ariana.

“Nah, saat itulah lu nemuin bahwa dia ga layak  jadi temen kan?” judes Evil menukas.

“Udah deh Rian gini aja, itu udah lewat kan? Sekarang yang lu harus pikirin itu gimana caranya menyelamatkan persahabatan kalian.” Angel berusaha bijak menj