Cahya berlari-lari keluar pintu kelas membuntuti Siswanto.
‘Sis, mau kemana sih? Ikut dong.’
‘Ayo, aku mau ke kantin lapar nih.’ Jawab Sis singkat.
‘Yaaah ke kantin. Kirain…’ Cahya berhenti mendadak dan manyun, Sis otomatis juga berhenti mendadak.
‘Eh, memangnya kenapa? Kirain mau kemana gitu? Hayooo…mau ketemu Eko ya? Hu… bocah kok pacaran wae…hehehhehe.’
Sis terkekeh menggoda sahabat sekelasnya itu. Cahya melengos tersipu dan cepat-cepat lari menjauh.
‘Enggak, bukan kok, aku kirain tadi kamu mau ke ruangan OSIS. Daah…Sis.’
‘Aya..hoi... mau kemana?’ sebuah suara lantang membuat Cahya berbalik dan senyum cerah muncul di wajah manis berlesung pipi itu.
‘Eko! Sini…’
‘Nggak bisa, aku lagi dihukum sama Pak Guru nih. Kamu aja yang kesini.’ Jawab Eko dengan agak berteriak karena jarak mereka cukup jauh.
Cahya berjalan cepat kearah kelas Eko di seberang lapangan. Rambut legamnya yang lurus sepinggang bergoyang tertiup angin siang yang terik.
‘Kamu dihukum kenapa Ko?’ tanya gadis itu sambil mendekati remaja pria tegap dan berambut agak gondrong yang sedang tersenyum jahil didepannya.
‘Hehe, ketahuan bawa rokok je di tasku. Ini lagi disuruh ngabisin semua sekaligus.’
Lelaki hitam manis itu menggeser duduknya memberi tempat pada Cahya.
‘Ih parah kamu ya? Ketua OSIS kok kerjaannya dihukum terus.’ Jahil Cahya sambil duduk di sebelah Eko.
‘Eh kapan? Enggak ah, cuma sekali ini kan? Yaa..sama yang harus potong kuku pake gunting segede gunting rumput itu aja kan? Hahaha.’
Mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
‘Ssst, Pak Guru dimana?’ bisik Cahya khawatir.
‘Tenang aja, katanya ada panggilan mendadak untuk rapat di kantor Pak Kepala. Udah disini aja. Temeni aku ya?’ Eko menjawab disela hisapan rokoknya.
Cahya adalah seorang gadis yang penuh semangat bahkan kadang sekeras dan senekat lelaki. Sikapnya itu berlawanan dengan penampilannya. Rambut panjangnya selalu tertata rapi dengan bermacam jepit lucu yang menghiasi.
Mbakyunya yang sudah mahasiswi selalu mengancam setiap pagi sebelum dia berangkat sekolah.
‘Pokoke Mbak Tri nggak akan beli jepit lagi buat Aya kalo pulang nanti rambutnya berantakan.’ Katanya selalu sambil menyisir rambut adik bungsunya itu.
Cahya hanya tersenyum dan mencium pipi Mbak Tri sekilas.
‘Cahya Kirani! Awas ya!’ seru Mbak Tri. Cahya sudah berlari dan melambaikan tangannya.
Di sekolahnya Cahya mempunyai beberapa teman dekat.
Siswanto adalah anak yang sangat cerdas, pemalu, tidak banyak tingkah dan selalu perhatian pada Cahya. Dia adalah anak lelaki dari sebuah keluarga sederhana seperti juga keluarga Cahya. Sis punya cita-cita yang tinggi dan dia ingin sekali kuliah di universitas favorit dan menjadi orang yang berhasil.
Sis adalah tempat bertanya untuk Cahya dan tempatnya mengadu ketika Cahya mendapat masalah dengan guru atau teman-teman lain.
Sis akan mendengarkan dengan serius dan senyum yang selalu tersungging di bibirnya.
Sis adalah sosok malaikat sedangkan eko adalah sosok setan ibaratnya.
Eko yang jangkung, tegap dan besar untuk ukuran umurnya, selalu bersemangat dan aktif. Dia sangat baik dalam olahraga khususnya sepak bola. Ramai, supel dan senang berteman membuatnya memiliki banyak pendukung yang akhirnya menobatkannya sebagai ketua OSIS periode tersebut. Eko adalah teman main dan berdebat yang sepadan untuk Cahya.
Karena kedekatannya mereka berdua seringkali melakukan sesuatu yang diluar dugaan dan aturan guru-guru.
Pernah suatu kali mereka bolos hanya untuk mencoba GL Pro baru Eko dan ngebut tanpa tujuan. Atau, ketika kabur dari kantin setelah memecahkan mangkok baso yang mereka pakai untuk makan berdua.
Malah, kadang mereka menghabiskan sisa jam sekolah hanya untuk duduk berdua di pematang sawah seberang sekolah dan berhayal tentang masa depan.
Eko pernah bilang, lulus SMP nanti dia akan melanjutkan ke sebuah SMA di Gresik. Dia akan tinggal dengan pamannya dan akan bergabung dengan klub sepak bola besar disana.
Matahari biasa tampil terang benderang berlatar langit biru di daerah tempat tinggal Cahya. Alam yang cerah dan terik ini menjadi saksi kesehearian mereka.
Lilik, Kukuh, Kasih, Titis, Marni dan Cahya adalah 6 gadis yang tinggal sekampung. Makanya mereka selalu pulang bersama. Bersepeda beramai-ramai melintasi sawah, kebun, rumah penduduk, kantor kecamatan, kantor polisi, toko kelontongnya si Ayuk dan rumah-rumah penduduk. Jarak sekitar 7 kilometer itu mereka lalui setiap hari dengan gembira dan tanpa lelah.
Seperti siang itu, langit yang biasanya penuh awan putih berarak itu mendadak mendung gelap, angin kencang dan guntur mulai menggemuruh.
Suasana mendung tidak mengurangi semangat para gadis untuk mengayuh sepeda mereka menuju pulang.
‘Aya, ayo cepat nanti keburu hujan besar.’ seru Titis yang pencemas.
‘Iya tenang aku sudah siap kok. Ayo!’ Cahya menggenjot sepeda mendahului teman-temannya.
Tak berapa lama mereka lalu bersepeda beriringan seiring dengan mulai turunnya rintik gerimis.
‘Yok? Kenapa berhenti? Ayo ikut kami saja. Kalo nunggu hujan reda lama lho.’ Cahya melambatkan sepeda melihat sepupunya berhenti disisi jalan.
‘Enggak ah, aku takut diseneni Ibu kalo nekat pulang. Apalagi kalo aku pilek nanti.’ Yoyok menjawab dengan ekspresi khawatir.
‘Ya sudah, kita duluan yo?’ Cahya kembali menjajari laju sepeda Kukuh.
‘Kenapa Ya?’ tanya Kukuh.
‘Hihi, Yoyok takut kehujanan.’ jawab Cahya jahil.
Komentarnya itu disambut tawa oleh teman-temannya.
Kayuhan sepeda keenam gadis remaja tanggung itu diguyur hujan yang semakin deras membuat mereka sulit melihat jalanan di depan mereka. Tapi mereka tetap semangat melanjutkan perjalanan.
Hujan adalah anugrah yang menghibur bagi mereka. Bermain bersama hujan adalah kebahagiaan yang tak terkatakan. Sepanjang jalan yang memang sepi mobil itu tersaji pemandangan yang sangat khas pedesaan.
Bapak-bapak petani bergegas bertelanjang dada, membenamkan capil mereka, menggiring kerbau pulang.
Para ibu yang pulang ngasak berpayung daun pisang beriring-iring diterpa tempias hujan.
Kang Marji tukang ngarit bersama teman-temannya berlarian saling mengganggu dengan menciprat-cipratkan air hujan perasan kaos mereka.
‘Tis? Mau istirahat dulu?’ teriak Cahya disela deras hujan karena khawatir Titis kelelahan membelah hujan.
‘Enggak, aku kuat kok!’ Titis menjawab lantang.
Titis memang yang paling ringkih diantara enam gadis ini. Badannya yang tinggi kurus selalu tampil tidak stabil dan ketika kelelahan dia sering gemetar. Tampaknya semangat bermain dan bersenang-senang di bawah guyuran hujan mengalahkan kelemahannya. Mereka terus tertawa-tawa dan berusaha mengayuh sepeda sekuat mungkin.
Cahya selalu saja tersenyum ketika mengingat masa-masa itu meski 6 tahun telah berlalu.
Kuliahnya sudah di semester 6 dan dia sudah sangat sibuk membagi waktu antara kuliah dan kerja. Sesibuk apapun dia, kerinduannya pada Eko tidak pernah mencair. Cahya mulai merasa rindu pada sahabat remajanya ini sejak mereka berpisah kota.
Hingga suatu malam,
‘Mbak Cahya, ada tamu untuk mbak di bawah.’ terdengar suara anak ibu kos mengetuk pintu kamarnya.
‘Iya, makasih dik.’
Cahya bergegas menuju ke ruang tamu di lantai bawah. Terlihat olehnya seorang lelaki tegap sedang duduk di kursi ruang tamu.
Cahya tertegun di balik kaca dan jantungnya berdebar keras.
‘Eko?’ bisiknya tak pasti.
Dibukanya pintu ruang tamu dan pandangannya bertemu dengan lelaki yang selama ini selalu mengisi hati dan pikirannya.
Senyum ragu merebak di wajah mereka berdua.
‘Ko? Yok opo kabare? Tahu darimana alamat sini?’ Cahya bertanya sembari duduk di kursi dekat meja.
‘Apik. Iyo, aku nanya sama ibumu.’ jawab Eko dengan pandangan tak lepas dari wajah Cahya.
Cahya sendiri mencoba mencairkan suasana kaku itu.
‘Kamu dinas dimana Ko? Denger kabar dari Wanto kamu jadi polisi kan?’
‘Di Sektor Rungkut. Awakmu sendiri gimana?’ pelan Eko sambil menyalakan rokok.
‘Kamu masih ngerokok aja ya Ko?’ Cahya mengamati lelaki di depannya yang tak banyak berubah dari ingatannya.
Tubuhnya makin tegap dan berisi. Kulitnya lebih gelap dan rambutnya yang biasanya agak gondrong sekarang dipangkas pendek.
‘Heh, ngelamun.’ Eko tersenyum dan menepuk punggung tangan Cahya.
‘Eh enggak, o iya aku yo masih kuliah Ko. Baru tingkat 3 kok.’ Cahya sempat tersipu.
Malam yang tak diduga itu menjadi saksi terganggunya hati Cahya. Eko menyatakan rencananya untuk menikahi seorang perempuan yang dikenalnya di wilayah tempat dinas.
Cahya yang tak mampu dan tak berhak menghalangi rencananya hanya dapat mengucapkan selamat. Kepedihan dan keperihan rasa menjadi teman hati Cahya sejak malam itu.
Sampai beberapa waktu kemudian dia memberanikan diri menulis surat menyatakan segala rasanya pada lelaki yang tak terganti di hati selama ini.
Surat yang dialamatkan ke tempat tinggal keluarga Eko di desa itu tak pernah berbalas. Entah.
Tahun berjalan, ratusan lembar kehidupan silih berganti menemani dan mengisi hari. Masing-masing manusia tak mampu menolak arah jalan yang digariskan Tuhannya. Masing-masing sahabat Cahya sudah menempuh jalan hidupnya sendiri.
Kasih terbang jauh ke Dubai dan berkarir disana.
Marni yang lembut dan ayu merajut kehidupan bersama suami dan merintis bisnis yang cukup sukses.
Kukuh telah menjadi seorang guru di pedalaman Madura.
Lilik menikah dan memiliki beberapa putra. Ada kabar dari Titis beberapa tahun lalu dia kehilangan anak balitanya yang meninggal karena kecelakaan.
Cahya sendiri menekuni kegemarannya menulis dan memanfaatkan ilmu bahasanya sebagai seorang penerjemah yang cukup ternama. Cahya seringkali terserang rasa kangen pada sahabat-sahabatnya.
Kerinduan yang kadangkala terobati saat Cahya pulang kampung dan bertemu satu atau dua sahabatnya disana.
‘Halo? Aya?’ sebuah suara berat menerobos dari speaker HP yang digenggam Cahya malam itu.
‘Iya betul. Siapa ini?’ ragu Cahya, karena nama panggilan itu sudah lama sekali tak didengarnya kecuali dari keluarga dekatnya.
Sedangkan suara yang didengarnya ini tak dikenal.
‘Ini aku Siswanto.’ Jawab suara itu lagi.
‘Siswanto? Sis SMP? Kok? Hai..apa kabar?’ Cahya terbata karena kekagetannya.
‘Hehehe…aku dan anak-anakku sehat. Kamu sendiri gimana? Kamu kan janji mau cerita waktu itu.’ Sis tertawa pelan.
‘Ntar dulu, kamu tau darimana nomorku? Kan aku ga simpen nomor hape di FS?’ jawab Cahya agak bingung sambil mengingat-ingat lagi kejadian beberapa bulan sebelumnya.
Ketika dia iseng mengotak-atik accountnya di Friendster dan mencari nama-nama teman masa remajanya. Dia menemukan nama Sis disana.
‘Iya sih, tapi kan disitu ada alamat blog kamu. Pas aku lihat profil blogmu disitu ada nomor handphone. Ya sudah aku coba hubungi saja.’ Jelas Sis.
‘Oh gitu, eh gimana kabar istrimu?’ tanya Cahya sambil berusaha mengingat nama istri Sis.
‘Ada…’ jawab Sis singkat.
‘Kok gitu sih jawabnya?’ selidik Cahya heran.
‘Yaaah, ceritanya panjang. Nanti lah kapan-kapan aku cerita.’
Malam itu dan malam-malam selanjutnya kedua sahabat lama ini saling menghubungi, saling bicara dan bercerita.
Cahya dan Sis sempat beberapa kali bertemu setelah itu. Mereka bercerita tentang pekerjaan masing-masing, berdiskusi tentang rencana proyek yang ingin mereka garap bersama, berkisah tentang keluarga dan harapan-harapan mereka.
Hingga pada suatu malam, saat Cahya sedang asyik membaca buku, terdengar nada panggil dari telepon genggam yang tergeletak disampingnya.
Refleks Cahya meraih dan memeriksa pesan singkat yang baru saja masuk.
“Sis : Aya, aku kok kangen banget ya sama kamu?”
***
Bandung, 10 Oktober 2008
Untuk sahabat-sahabat masa kecilku…Aku kangen kalian…
Catatan:
bocah kok pacaran wae…: kamu kok pacaran melulu
je : salah satu jenis penekanan kalimat yang sering dipakai dalam percakapan bahasa Jawa
Mbakyu: kakak perempuan
Pokoke: pokoknya
Diseneni: Dimarahi
capil : caping/ topi anyaman bambu
ngasak: mengumpulkan bulir padi sisa di sawah yang usai dipanen
Kang: kakak/sebutan untuk lelaki yang usianya lebih tua dari kita
Ngarit: mencari rumput untuk pakan ternak
Yok opo kabare?: apa kabar?
Apik: baik
Awakmu : kamu